Buku ini saya dapatkan saat mengunjungi cuci gudang kompas 2017 yang bertajuk "Kumur-kumur Akhir Tahun". Jujur awalnya saya tidak tertarik dengan buku ini. Karena dalam hemat saya  sampulnya kurang eye catching begitu juga dengan judulnya. Namun, sekilas saya baca blurb buku dan rupanya cukup menarik. Oh iya seingat saya harga buku tersebut 5000 rupiah (harga yang tercantum di label: Rp35.000,00). Buku setebal 190 halaman ini mulai saya baca beberapa pekan lalu saat pulang kampung, dalam diperjalanan Palangkaraya-Pemalang. Terdiri dari 5 bab penjelasan dalam buku ini mencakup kenapa Rahardi Ramelan –penulis sekaligus tokoh utama buku ini– ”bersedia” dinarapidanakan, kasus bullogate yang menurutnya adalah permainan politik, hingga bukti-bukti masih belum adilnya proses hukum di Indonesia.



      Pada bab awal, Cipinang Desa Tertinggal banyak bercerita perjalanan kasus si penulis. Sebelum menjamah buku ini, saya benar-benar tidak tahu siapa beliau. Dan lagi ditambah dengan banyaknya istilah hukum yang asing ditelinga, membuat saya memutuskan langsung skip ke bab 1 bagian akhir (namun, setelah membaca di bab-bab akhir saya kembali membuka bab awal ini karena penasaran dan ada informasi yang tidak lengkap jika tidak membacanya). Pada bab 2 penulis menceritakan pengalamannya selama di dalam Lembaga Pemasyarakatan (baca: LP atau lapas) dengan teknis seperti menceritakan cerita pendek (cerpen). Tokohnya pun berganti-ganti, yakni rekan sesama warga binaan di LP Cipinang. Cerita yang disampaikan didominasi kisah mereka yang masuk lapas karena kasus “teri”. Bahkan ada yang tidak bersalah namun tetap divonis sebagai narapidana. Hal ini menurut penulis yang menjadi salah satu faktor kenapa LP Cipinang semakin padat. Tahun 2002, jumlah narapidana di LP Cipinang sebanyak 2400 dimana seharusnya area tersebut diperuntukan 1300 orang saja. Lambat laun kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan, laporan pada tahun 2006 penghuni LP Cipinang mendekati 4000 orang. Bisa kita bayangkan bagaimana padat sesaknya lapas tersebut.



      Sejak tahun 1964 institusi rumah penjara diubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan. Sebutan bagi narapidana pun diganti, dari pesakitan menjadi warga binaan. Esensi dari konsep pemasyarakatan adalah bahwa satu-satunya hukuman bagi narapidana hanya kehilangan kemerdekaan bergerak. Praktiknya, kehidupan di dalam lapas khususnya LP Cipinang masih jauh dari konsep tersebut. Mereka yang baru masuk lapas akan mencari kelompok kesukuan. Kelompok tersebut dijadikan sebagai “kekuatan atau kekuasaan” antar narapidana di dalam lapas. Semuanya bermuara pada bagaimana uang dapat mereka dapatkan, melalui penguasaan lahan kegiatan dan kedudukan. Saya terperangah membaca penuturan penulis pada halaman 125, berikut kutipannya:




Pulsa dengan nilai 100 ribu rupiah dijual dengan harga 80 ribu, dan pada waktu tertentu bisa turun sampai 75 ribu rupiah. Perdagangan pulsa di LP cipinang marak sekali, bukan karena tingginya traffic telepon selular, namun untuk memudahkan transfer atau pengiriman uang ke dalam LP dengan biaya yang lebih murah.




Lalu, sempat berpikir sejenak. Kenapa para narapidana bersedia melakukan barter yang sama sekali tidak senilai itu. Jawabnya ada pada bab berikutnya. Segala sesuatu di LP Cipinang membutuhkan ongkos. Makan, uang kamar, biaya dibesuk, hingga “kasta” semua ada harganya. Dituturkan bahwa ketika keluarga membesuk dan memberikan uang kepada narapidana, uang yang didapat tidak akan utuh diterima. Banyak ”pintu-pintu” yang hanya bisa dilewati dengan setoran. Ringkas cerita, dari –misalnya– 100 ribu uang yang diberi oleh pembesuk hanya 20-30 ribu saja sampai di kantong. Menjadi masuk akal apabila para narapidana mau melakukan transaksi seperti disebutkan diatas.



      Selain bercerita keseharian penulis dan kawan-kawannya sebagai warga binaan, Rahardi Ramelan juga banyak menyisipkan tulisan-tulisan yang merupakan refleksi pemikirannya berupa artikel dan makalah. Berikut beberapa judul yang dicantumkan dalam buku ini:




  • Pembinaan Narapidana Kasus Ekonomi/Korupsi Umum.

  • Pemasyarakatan: Antara Cita-cita dan Realita (Sudut Pandang Narapidana di LP Cipinang).

  • Pengobatan Masal dan Kebersihan di LP Cipinang Khususnya Blok I B.

  • Kasus Software di Lapas Cipinang.



Selama 13 bulan berada di LP cipinang, beliau telah menyelesaikan berbagai tulisan antara lain: 13 artikel di beberapa harian, 31 Penerbitan pada rubrik Ekonomi Rakyat di Pos Kota, dan 2 buah draft buku.



      Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik. Banyak pengetahuan “informal” berupa kisah-kisah bertahan hidup para penghuni lapas, bahasa komunikasi antar narapidana dan petugas (dirangkum dalam bagian khusus: Kamus Gaul Cipinang), hingga kondisi sistem peradilan di negeri ini yang masih amburadul. Penulis juga melengkapi buku ini dengan wawasan formal seperti aturan mengenai lembaga pemasyarakatan yang dikupas cukup mendalam.




”Penjahat dan penipu lebih banyak berada di luar penjara. Hanya saja, mereka tidak tertangkap atau tidak bisa ditangkap”. Rahardi Ramelan.



Baca Juga

Entitas

oleh: Kuu Ikuya

Keberadaan yang tak memiliki lingkaran. Keberadaan yang terasa salah dalam lingkaran mana pun. Kali....

  • 463
  • 2
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Consonance

oleh: Audrey Abigail

His breakfast consisted of canned vegetable and a cup of watered-down coffee.

  • 2752
  • 5
  • 4
  • 0
  • Lainnya

Tak Sesederhana Katanya

oleh: adwa' haidar

Sebuah Kata Sederhana

  • 79
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya
Karya Lainnya dari wilbasmu

AJARI KAMI

oleh: Muhammad Wildan Basri

Ajari kami mencinta-Mu dengan penuh cinta Ajari kami mencinta-Mu tanpa kata “antara”

  • 67
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

Graphology For Us – Mengenali Kepribadian Via Tulisan Tangan (Reviu Buku)

oleh: Muhammad Wildan Basri

Ketika seseorang menulis isi cerita bohong, tulisan tangannya akan berbicara hal yang sebenarnya. Tu....

  • 59
  • 1
  • 1
  • 0
  • Lainnya

Debur Doa

oleh: Muhammad Wildan Basri

Di bawah menara rindu : aku mengaminkan tiap debur doamu

  • 40
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi