Twilight Zone

olehwidywidyawati Diterbitkan 21 October 2013

Twilight Zone


 “Nay, jangan pergi!” suara itu terdengar sayup di balik pagar besi yang pongah.



Aku hanya membalikan badan, berdiri sejenak menatap nanar ke arah pagar besi yang berdiri sok gagah itu. Siluetnya  memantul ke dinding beton yang tak kalah berdiri pongah di depannya. Aku semakin berjalan mundur menjauhinya. Bangunan yang dulu membuatku merasa menjadi anak perempuan ayah paling bahagia sedunia karena apa yang ku inginkan selalu dipenuhi. Bangunan yang dulu membuatku merasa menjadi anak perempuan ibu paling bahagia sedunia karena dia selalu membelaku saat ku berebut ayunan dengan temanku. Bangunan yang dulu membuatku merasa menjadi seorang anak perempuan manis sedunia karena selalu menuruti apa yang diaturkan oleh ibu dan ayah. Tapi dari dalam bangunan itu jugalah aku dipaksa melakoni semuanya seolah baik-baik saja. Seandainya Ibu tidak egois dan bisa memaafkan ayah, kekacauan ini tak akan pernah terjadi.



Dengan flats suede carmine, ku langkahkan kaki mengikuti arah ilalang yang tersentuh angin malam. Skinny jeans hitam dan knit berwarna senada dengan sepatuku cukup membuatku lebih bersemangat meninggalkan bangunan tua itu. Tas vintage yang ku pakai hanya berisi dompet dan ponsel. 



Tidak terasa aku sudah bejalan sejauh ini, terakhir aku melihat Seiko di lengan kiriku, jarumnya tepat di angka 3. Sekarang sang fajar sudah mengintip malu di ufuk timur. Dan sekarang aku terduduk di bangku sebuah kedai kopi di dekat perempatan. Jalanan sudah mulai ramai, hiruk pikuk silih berganti bersahutan. Suara-suara orang-orang menawar sayuran segar di pojok pasar itu masuk ke gendang telingaku. Suara klakson kendaraan dan teriakan knalpot bajaj berebut masuk pula ke dalam gendang telingaku, membentuk simfoni absurd yang cukup memekakkan telinga dan membuatku mengernyitkan dahi beberapa detik. Dan ketika sampai pada tegukan terakhir teh hangat aroma bunga melati yang ku pesan di kedai ini, aku belum paham mengenai alasan Tuhan menciptakan ada yang baik dan ada yang buruk. Dan kenapa yang buruk itu selalu terlihat buruk meskipun telah melakukan hal baik ?



Aku tak bisa berhenti menangis. Apa yang sudah aku lakukan ? Meninggalkan Ibuku di bangunan pongah itu sendirian. Tapi biarlah, aku bosan dengan semuanya. Aku ingin bebas. Aku ingin seperti teman-temanku, bahagia. Aku muak mendengar pertengkaran mereka selama ini. Aku lelah setiap hari harus berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Dan ketika mereka sepakat untuk melanjutkan semuanya ke sidang perceraian, aku baru sadar bahwa mereka egois. Meraka tidak mengerti bahwa setelahnya, aku akan hancur, aku akan gila, dan hidupku akan berantakan.



Aku memang membenci Ayah karena sejak menjadi pejabat daerah, Ayah lupa hari ulang tahun Ibu. Ayah juga lupa ketika harus menghadiri sidang tesis Ibu. Bahkan Ayah lupa hari ulang tahunku. Tapi, aku yakin Ayah pasti berubah.



Ibu juga sama saja. Aku percaya Ibuku adalah wanita dewasa yang sangat cerdas. Dia bekerja sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi akhir-akhir ini Ibu sibuk dengan pekerjaannya terkait akreditasi dinas. Mereka sibuk dengan segala hal yang tak ku mengerti. Sampai pada suatu titik dimana kata perceraian keluar dari mulut mereka.



Aku benci Ayah. Aku kecewa oleh Ibu. Meskipun dengan jelas aku katakan bahwa aku tidak menyetujui keputusan mereka, tetapi aku tidak diberi kesempatan untuk memilih selain aku harus menjadi seorang broken home victim.



***



Ku lihat kembali Seiko d lengan kiriku, sudah jam 10 pagi. Dan aku masih berjalan mengikuti arah bersama manusia-manusia yang juga akan menyebrangi jalan di perempatan itu. Hari ini hari minggu, setidaknya aku tidak akan melihat sekumpulan anak sekolah dengan rok terlalu pendek dan dandanan terlalu menor dengan parfum yang baunya selalu membuatku migrain.



Seketika pandanganku tertuju pada seorang Ibu yang sedang memarahi anaknya yang rewel. Kemudian aku menebak apa yang diinginkan si anak. Bau semerbak makanan ini sudah sangat kuhafal, aku sering makan di tempat itu dengan Ibu. Sebuah restoran cepat saji yang menarik pelanggan dengan aromanya yang membangkitkan selera. Lengkap dengan ice cream lembut yang selalu bisa melelehkan kepenatan kami. Segera ku putuskan untuk ke tempat itu, mendahului anak kecil yang masih memaksa Ibunya. Hemm..setidaknya aku akan mempengaruhi si anak kecil itu di balik kaca dengan sesekali menjilat Ben & Jerry’s Strawberry Ice Cream, supaya si anak semakin rewel dan membuat Ibunya naik darah. Ada sedikit rasa kemenangan ketika melihat raut Ibu itu memerah marah. Dalam hati aku berkata “Bagus nak, buat Ibumu marah. Setidaknya kamu sudah membuat dia jengkel, meskipun akhirnya kamu kalah!”



Mungkin sikapku barusan adalah cermin kemarahanku pada Ibu. Tapi aku tak peduli. Ibu yang selama ini selalu menemaniku di tempat ini, makan ice cream bersama untuk sekedar menghilangkan kepenatan, berbicara menganai siapa laki-laki yang sedang dekat denganku sampai membicarakan konsep pernikahanku nanti, sekarang sudah berubah. Ibu sudah tidak mendengarkan kemauanku lagi. Aku hanya ingin satu hal, tidak ada perceraian itu. Seburuk-buruknya Ayah, aku rasa masih bisa dimaafkan. Tidak dengan membuat aku menjadi broken home victim. Sebuah sebutan kepada seorang anak perempuan yang ku rasa sangat menyedihkan.



Aku sudah tidak tertarik lagi dengan anak kecil yang rewel itu. Ku alihkan pandanganku ke kursi pojok tempat biasa aku duduk dengan Ibu. Ah..ada seorang laki-laki di sana. Aku tidak melihat wajahnya, yang aku lihat hanyalah punggungnya dan uban di rambutnya yang mulai tumbuh menyebar. Kemudian datang menghampirinya seorang perempuan yang memakai black mini dress membawa sejenis pancake. Umurnya mungkin sama sepertiku, 19 tahun. Aku meyakini bahwa itu anaknya. Ah..andai saja aku bisa membawa Ayah ke tempat ini. Mungkin jiwa silumannya akan meleleh ketika Ben & Jerry’s Strawberry Ice Cream berpadu dengan lidahnya.



Aku tak bisa memalingkan pandangan dari laki-laki dan perempuan di kursi pojok itu. Setiap gerakan yang mereka lakukan tak luput dari mataku. Ada yang aneh. Awalnya aku meyakini bahwa anak perempuan itu adalah anaknya, setelah melihat tangan si laki-laki membenarkan poni rambut perempuan itu kemudian mencubit pipinya, lalu raut si perempuan itu tesipu manja, aku tertipu. Ternyata ada laki-laki memuakan di restoran ini. Damn!



Segera ku beranjak dari tempat ini, aku malas melihat laki-laki itu. Memalukan! Tiba-tiba air mineral yang ku pesan tumpah di atas tasku, terpaksa aku tidak buru-buru meninggalkan tempat ini karena harus melap tas ku terlebih dahulu dengan tissue. Sesekali pandanganku masih pada laki-laki yang ku sebut sejenis siluman itu. Laki-laki itu beranjak dari duduknya dan pindah ke sebelah perempuan, dia sekarang menghadap persis di depanku. Hemm…aku penasaran dengan wajah laki-laki itu. Kenapa perempuan cantik seusiaku mau dengan laki-laki tua itu ? Karena tampang ? Atau karena uang ? Ah, aku tak peduli.



Aku sudah berdiri, siap meninggalkan tempat ini. Rambut lurus sebahu sudah ku ikat cepol. Kacamata minus dengan frame kacamata kuda sudah rapi ku pakai, tanpa kacamata ini aku tidak bisa melihat dengan jelas. Dan untuk terakhir kalinya aku menatap benci laki-laki itu. Sesekali aku membenarkan posisi kacamataku, meyakini bahwa laki-laki yang sedang ku lihat adalah orang yang tak ku kenal.



***



Air mata tak tertahankan lagi, butirannya mulai menetes satu-persatu, kemudian deras membasahi pipi dan daguku. Laki-laki di kursi pojok itu, Ayah.



Ayah yang karena tingkah bodohnya itu membuatku tidak diberikan kesempatan memilih oleh Ibu, Ayah yang bertingkah memuakan itu justru membuatku sempat kecewa terhadap Ibu, Ayah yang walaupun buruk di telingaku karena mendengar apa yang diceritakan Ibu masih saja aku berikan toleransi, sekarang aku melihat dengan mataku sendiri. Aku malu. Aku sakit. Dan aku menyesal sudah menyakiti Ibu demi mempertahankan laki-laki yang tidak pantas disebut Ayah.



Ku putuskan untuk segera mencium kaki Ibu. Di bangunan pongah yang tadi malam aku tinggalkan seenaknya.



***



Dengan baju tidur yang masih melekat di badan, tempat tidur yang dulu sering aku loncati ketika masih kecil, tatapannya begitu panjang, tapi terasa hampa seolah begitu banyak yang berkecamuk dalam otak yang hanya sebesar kepalan tangan. Namun begitu berat beban yang bisa aku lihat dari setiap tarikan nafasnya. Begitu banyak kesedihan yang bisa aku lihat dari air matanya. Begitu banyak penyesalan yang aku lihat setiap dia melafadzkan kalimat istigfar. Aku berdosa sempat membenci Ibu. Sebutan apa yang pantas buat anak perempuan sepertiku yang tidak bisa merasakan apa yang Ibu rasakan. Aku hanya bisa menyalahkan Ibu ketika aku akan menjadi seorang broken home victim. Padahal jelas-jelas Ibu yang akan menyandang status janda, sebutan yang lebih menyedihkan. Dan aku, masih saja membela Ayah dan meyakinkan Ibu bahwa Ayah akan berubah.



“Nay…”, Ibu menyadari kehadiranku di balik pintu kamarnya.



Ku tunjukkan diriku di depannya.



“Nay..maafkan Ibu.”



Segera ku cium kaki Ibu  dan menangis. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku hanya ingin menangis di kaki Ibu, meminta maaf. Sampai kemudian Ibu memelukku sangat erat, erat sekali. Aku sadar, dia tidak ingin jauh dariku.



“Kamu tidak apa-apa Nay ? Sudah makan ?”



Aku hanya mengangguk.



“Sesakit apapun perasaan Ibu oleh sikap Ayah, sepahit apapun penyesalan Ibu terhadap keadaan ini, seperih apapun jalan yang nantinya akan Ibu lalui, semua itu tidak ada artinya jika Ibu harus jauh darimu Nay. Walaupun jalan Ibu berliku, kamu tidak perlu mengetahuinya. Ibu tidak mau membagi penderitaan denganmu. Ibu akan selalu berusaha membahagiakanmu walau hanya dengan sepuluh jari yang Ibu miliki.  Ibu sayang kamu, Nay. Ibu mohon, jangan tinggalkan Ibu,”



Aku masih diam. Tak sanggup berkata apa-apa. Yang aku dengar hanya isak tangis Ibu dengan pembicaraan yang terbata-bata. 



“Baiklah. Ibu mengerti. Kamu masih lelah seharian keluar rumah. Nanti malam kita bicara lagi ya, sayang.”



Aku masih belum beranjak dari pelukan Ibu, dan kemudian aku tertidur.



***



Ku rasakan ada yang mengecup keningku, dan aku terbangun.



“Bu..maafkan Nayla. Nayla egois. Nayla malu sama diri Nayla sendiri. Nayla tidak peka terhadap apa perasaan Ibu. Nayla hanya mementingkan perasaan Nayla sendiri. Nayla hanya bisa menyalahkan Ibu. Nayla kira Ibu marah sama Ayah cuma karena Ayah banyak lupa dengan momen penting Ibu,” airmataku kembali deras.



“Ini adalah proses pendewasaanmu. Menerima keadaan dengan ikhlas adalah langkah awal untuk meraih kebahagiaan.”



Sejenak hening.



“Bu..tadi siang aku melihat Ayah dengan seorang perempuan seusiaku.”



“Tidak usah dibahas Nay, Ibu tahu. Lebih tahu dari apa yang kamu tahu. Semua tidak bisa ditoleransi lagi. Semua tidak bisa diperbaiki. Ayah punya jalan lain. Dan Ibu juga punya jalan lain..denganmu. Ayah belum tentu bahagia dengan perempuan-perempuan itu. Tapi Ibu pasti bahagia denganmu.”



“Boleh aku membunuh Ayah, Bu ?”



“Nay..Ikamu anak baik. Kamu akan mengerti dengan sendirinya apa yang harus kamu lakukan setelah ini kepada Ayahmu.



“Kenapa sampai saat ini Ibu bisa kuat bertahan ?”



“Karena kamu, Nay. Ibu merasa menjadi Ibu yang paling bahagia di dunia karena memilikimu.”



Senyum Ibu kali ini menjatuhkan tetesan terakhir airmataku. Genggaman erat tangannya membuatku bersyukur memiliki seorang Ibu hebat seperti Ibu ku. Tak akan pernah ku ulangi hal apapun yang dapat menyakiti perasaan Ibu, aku berjanji. Tatapan lembut dari matanya membuatku yakin bahwa aku akan selalu baik-baik saja. Dan aku akan lebih bahagia daripada orang lain karena aku telah berhasil melewati fase yang menyakitkan dari sebuah kehidupan, dan aku mengakhirinya dengan mencium kaki Ibu.



Mataku menangkap cahaya menyilaukan dari bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit yang ku lihat dibalik jendela, langit masih senja tapi mereka muncul terlalu dini. Mungkin mereka ikut merayakan kemenangan hati Ibu. Kupandangi sekelilingku, lampu kamar Ibu yang masih terang seperti dulu, fotoku yang berbingkai sewaktu bayi masih ada di atas meja rias, dan cahaya hati ibu terpancar dari garis senyumnya. Twilight zone.. tak pernah kulihat semuanya seterang sore ini. Seperti Ben & Jerry’s Strawberry Ice Cream, kali ini Twilight zone berhasil melelehkan amarah aku dan Ibu.



Ibu layak mendapatkan kebahagiaan, bersamaku.



***


Baca Juga

Mengejar Malam

oleh: Ichwan Bustomi

Kisah romantisme dewasa tentang ambisi dan perpisahan

  • 679
  • 1
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Sawarna Bersama Senja

oleh: sukma rahastri

Kini aku kembali memandangi matahari yang perlahan tenggelam kedalam pelukan malam. Terang yang mula....

  • 355
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Aku dan kamu. Bukan kita

oleh: Irna Bontor Febyola

-pernah diikutkan dalam cerpen kisah sang mantan di salah satu penerbit- Meminjam kebahagiaan semu ....

  • 689
  • 1
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari widywidyawati

Sudah!

oleh: Widy Widyawati

Raisa bilang sih apa yang pernah kamu buat, buatnya susah lupa, tapi aku bilang apa yang pernah kamu....

  • 365
  • 0
  • 3
  • 0
  • Cerita Pendek

Di Rumah Sakit

oleh: Widy Widyawati

Kata siapa cara berpikir seorang dokter itu selalu paling baik ?

  • 378
  • 2
  • 2
  • 0
  • Cerita Pendek

Twilight Zone

oleh: Widy Widyawati

Hari itu, mungkin bisa dikatakan sebagai hari yang terlahir di luar takdir. Aku muak terlibat dalam ....

  • 428
  • 0
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek