Surat

olehwidywidyawati Diterbitkan 22 October 2013

Surat


Sepertinya aku masih belum bisa menemukan keberanian dari tatapan mata, pun suara tak kunjung merangkai kalimat. Adalah angin malam yang menyiangi kebersamaan hingga tidak disadari bahwa telah ada bentangan kekacauan di antara kita.



Ragu itu akan selalu ada. Ragu bahwa kamu bisa bertahan dengan semua kecacatan dari kehidupanku. Ragu bahwa tak akan pernah ada dua rasa nyaman di satu hati. Ragu itu bermula dari pola pikir kita yang tak pernah sama. Pun dari kebohongan-kebohongan yang sering terjadi.



Aku merasakan kekalahan yang jauh sebelum waktunya tiba. Itu tidak baik, buat diriku sendiri. Ketakutan, ya rasa takut yang akhirnya mengkristal dalam benak. Bukan, bukan takut kehilanganmu. Tapi takut terluka lagi karena ketidaknyamananmu terhadapku sehingga membuat kamu perlahan mencari sandaran lain lalu membohongiku. Aku pun takut terluka lagi. Terluka dengan tangan yang biasa menggenggam perlahan jadi tidak seerat biasanya. Dekap yang tak sehangat dulu. Rangkulan yang perlahan pudar ketika kita berjalan beriringan. Terlalu takut untuk menyadari bahwa kamu akan perlahan memunggungiku dan berjalan kearah yang berbeda.



Dari sejak awal, diiringi sebait doa dan keyakinan bahwa tanganNya lah yang akan meluruskan semua. Memang tampaknya sudah terlalu di ujung sebelum sadar untuk memaafkan kembali. Terlambat, sudah ada jalan lain bagimu untuk bahagia. Kebebasan yang tak pernah kamu dapatkan dari hubungan kita selama ini, itu katamu. Aku hanya ingin terlibat atau hanya sekedar ingin tahu pada setiap waktu senggangmu dengan mereka, waktu makan malam mu dengan mereka, dan waktu liburanmu dengan dia. Aku sadar bahwa aku tidak bisa memaksakan diri untuk selalu bisa menemanimu, tapi kenapa terlalu banyak yang disembunyikan dariku ? Itu kataku.



Mungkin baiknya, biarkan ini berakhir dengan luka di hati yang kujilati sendiri. Biarkan luka itu ada di hati, dan akan terlepas seperti seharusnya dari awal ku biarkan terbebas – mencari nyaman yang kamu mau.



Di kedua sujudku membuncah namamu. Entah apa yang ku tangisi, karena baik aku atau kamu tidak pernah mengalah dengan pemikiran sendiri. Tidak ada yang kalah.



Ditepi mata kulihat bayangan kita pudar perlahan. Menjadi diam dibalik bisu kata. Aku tidak akan (lagi) merepotkan kebebasan yang kamu mau. Apa kamu setuju ?


Baca Juga

Teruntuk Nisa yang Kucinta

oleh: Gee

Bacalah suratku, barangkali tentangmu akan abadi dalam kata-kataku. Meski aku sudah tak lagi menjadi....

  • 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Biarkanlah Kau Bersamanya Disana

oleh: Muhammad Fahran Januar

Untukmu yang begitu bahagia bersamanya disana

  • 62
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

Terlambat

oleh: tandabaca

Aku mencintai sahabat dekatku yang selama ini mencintai orang lain. Dan saat ia tiba-tiba meninggalk....

  • 387
  • 1
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari widywidyawati

Damn! Ternyata Aku Jatuh Cinta pada Waria

oleh: Widy Widyawati

Beberapa hal tentangnya, tak pernah kecil dimataku. Apa aku salah ?

  • 85
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

Twilight Zone

oleh: Widy Widyawati

Hari itu, mungkin bisa dikatakan sebagai hari yang terlahir di luar takdir. Aku muak terlibat dalam ....

  • 465
  • 0
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek

Titik yang Menjadi Garis

oleh: Widy Widyawati

“Yaa..namanya juga anak muda. Terkadang kalau lagi melow..suka merasa jadi orang yang paling menye....

  • 524
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek