Jodoh

olehshouta Diterbitkan 3 August 2014

Jodoh


 



Kerabat tante punya keponakan,

usia 27 sudah mapan dan siap menikah.

Kalau kamu minat, kita atur jadwal ketemu.

Gimana? :)



 



Aku bergeming membaca tiap kata dari layar ponselku. Bingung. Bagaimana tidak, ini kali ketiga rencana perjodohan yang ia upayakan untukku. Aku tak kuasa menolak, pun aku tak mau mengiyakan. Tanteku itu memang sangat bersemangat membantuku menemukan calon pria idaman. Tapi tidak kali ini, aku ingin jalani proses sewajarnya saja. Biar ku temukan dengan sendirinya, siapa yang layak mendampingiku di pelaminan kelak.



Kurebahkan tubuh sembari memandang langit-langit kamar ini. Kosong. Aku tak mampu membayangkan perasaanku jika perjodohan kali ini pun gagal. Di sisi lain, aku tak ingin tanteku kecewa karna penolakan atas niat baiknya. Ah! Semua ini hanya membuatku semakin pusing. Aku bergegas mengambil air wudhu. Mungkin shalat dua rakaat akan menenangkan. Semoga dengan mengadu padaNya aku dapat meyakinkan hati ini. Hai Dzat yang menguasai hati, kuserahkan diri ini padaMu, kupercayakan hidupku padaMu, kuyakin akan petunjukMu.



Alhamdulillah. Hatiku jauh lebih tenang setelah mengadukan semua padaNya.



*brrrrrr brrrrr brrrrr*



Ponselku bergetar. Ternyata ada pesan baru untukku. Sungguh aku ragu membukanya. Walau begitu, kuberanikan diri untuk membuka pesan itu dan membaca isinya perlahan.



Assalamualaikum wr wb

Apa kabar sahabatku? 

Ada kutipan indah

yang ketika membacanya

aku teringat padamu..

Dibaca perlahan ya cantik.. :)



"Jodoh itu rahasia Tuhan.

Yang namanya rahasia,

kita mampu merobohkan gunung sekalipun,

mengeringkan lautan,

kalau tidak berjodoh,

tidak akan pernah terjadi.

Sebaliknya, mau benci setinggi bulan,

mau menghindar ke ujung dunia,

kalau memang berjodoh,

tetap akan terjadi.

Ada saja jalannya" -Tere Liye-



 



Air mata perlahan membasahi pipiku. Aku terharu. Secepat ini Dia memberiku petunjuk melalui sapaan seorang sahabat. Aku cukup yakin bahwa ini adalah isyarat. Isyarat bahwa ada proses yang harus kujalani. Hasil akhir? Kupercayakan penuh padaNya sebagai perencana terbaik hidupku. Bismillah



Kini aku tersenyum sembari memandangi layar ponselku. Semoga ini bagian skenarioNya. Ya, aku berserah dengan segala ketidakberdayaanku sebagai hambaNya. Aku percaya yang terbaik tidak akan memberiku hal tidak baik tanpa alasan.





Bismillah. Oke Tante.

Silakan diatur.

Aku percaya sama tante.

Semoga ini bagian ikhtiar kita.

Makasih ya tan... :))


 



Segala sesuatu terjadi karna sebuah alasan. Aku yakin. Karna sebuah alasan pula aku harus bertemu dengan mereka yang tidak diperuntukkan bagiku sebelum aku bertemu dengan sosok yang memang ditakdirkan untukku. Saat itu, hati ini tidak akan lagi kecewa. Saat itu pula, kegagalan yang kualami hanya akan menjadi bagian cerita agar aku mensyukuri apa yang kudapatkan : suami yang mendampingiku di pelaminan.



 


Baca Juga

Lelaki Tua, Maut, dan Secangkir Kopi

oleh: Noor H. Dee Rex

Kisah tentang lelaki tua yang berjumpa dengan maut.

  • 605
  • 7
  • 2
  • 0
  • Cerita Pendek

CERBUNG DUNIA KEDUA 1

oleh: anik cahyanik

Mimpi itu adalah dunia yang hanya bisa dimasuki oleh jiwa, mata tak bisa melihat dan tangan tak bisa....

  • 382
  • 1
  • 0
  • 0
  • Serial

Orang-Orang Kolong

oleh: Noury Hasan

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 478
  • 0
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari shouta

Tentang Kita

oleh: azzam shouta

Synopsis is not available

  • 484
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

Tentang Rasa

oleh: azzam shouta

Synopsis is not available

  • 391
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

Gue Roker!

oleh: azzam shouta

Sebuah catatan perjalanan sepanjang rute BOO-THB

  • 749
  • 0
  • 2
  • 0
  • Artikel