Me and Little Monster Adventure

olehnurulfikri Diterbitkan 31 October 2014

Namaku Ben


Aku tidak pernah kesepian, selalu ada burung-burung yang berkicau yang berbicara denganku dipagi hari, selalu ada matahari yang menghangatkanku hingga sore hari, selalu ada hamparan bintang yang menemaniku di malam hari. Rumahku di Indonesia, ya benar, Indonesia, dari Sabang sampai Merauke adalah rumahku, Setiap sudut wilayah adalah areaku, dari mulai pantai hinggal puncak gunung adalah tempat tinggalku. Jika kalian bertanya gunung mana di Indonesia yang belum pernah aku daki, jawabannya adalah Jaya Wijaya. Gunung terakhir di Indonesia yang paling ingin aku daki, butuh waktu lama untuk mengumpulkan uang untuk bisa mendaki gunung tersebut.



Ya, namaku Ben, cita-citaku sangatlah simple, yaitu mendaki semua gunung yang ada di Dunia. Aku terlahir sebagai seorang yang berkecukupan, diwarisi perusahaan yang sudah matang dan dapat berdiri sendiri merupakan suatu anugerah yang patut di Syukuri. Karena itu aku tidak pernah bersekolah, buat apa bersekolah jika kebutuhan hidupku hingga tua nanti terpenuhi. Percaya atau tidak, aku adalah sebatang kara. Kedua orang tuaku meninggal saat aku masih berumur 1 tahun karena kecelakaan pesawat dalam perjalanan bisnisnya. Hingga aku berumur 10 Tahun, aku dirawat oleh nenekku. Tapi kini nenekku sudah tiada. Dan tidak seorangpun diantara mereka mengenalkanku pada Saudara-Saudaraku. Jadi, ya cuma alam yang kini menemaniku. Aku tidak peduli dengan perusahaan Ayah yang diambil oleh anak buahnya, aku tidak peduli dengan rumahku yang disita oleh Bank untuk membayar pinjaman Ibuku, aku tidak peduli dengan semua asset keluargaku yang dicuri oleh pembantuku sendiri, dan aku tidak peduli harus tinggal di Gubuk nenekku seorang diri ditengah perkotaan yang padat. Ya karena rumahku lebih luas daripada kalian, tabunganku masih cukup untuk tidur di puncak gunung Rinjani, dan mandi di Ranu Kumbolo (Gunung semeru). Alam yang membuatku menjadi Anti-Sosial, karena alam tidak pernah meninggalkanku sendiri, dan selalu ada saat aku membutuhkan. 



Hari ini adalah hari penting dalam hidupku, aku akan mendaki gunung terakhir di Indonesia yang belum pernah aku daki, yaitu Jaya Wijaya. Sepatu Gunung, Jaket Gunung, Keril, Tenda, Nesting, Kompor, Pakaian Ganti, dan Konsumsi sudah lengkap. Dengan senyum penuh semangat akupun keluar dari Gubuk ini, mencari taksi untuk pergi ke Bandara Soekarno-Hatta. Kulihat tiket, jadwal penerbanganku jam 5 Sore, akupun melihat jam, jam menunjukan pukul 5 Pagi, akupun buru-buru berangkat ke Bandara, aku tidak ingin ketinggalan pesawat. Yah rumahku cukup jauh, sekitar 20 KM dari Bandara.



Kalian pikir aku berlebihan? Datang terlalu pagi? aku cuma tidak mau penerbanganku gagal cuma karena aku telat, tidak ada yang tahukan jika dalam perjalanan aku harus balik lagi mengambil sesuatu yang tertinggal? tidak ada yang tahukan nanti diperjalanan, taksi yang aku naikin mogok ditengah Tol sehingga aku harus berjalan kaki sampai keluar tol? tidak ada yang tahukan jika nanti ternyata jalanan kebandara ditutup karena Presiden mau makan di Bandara? tidak ada yang tahukan jika nanti supir taksinya tertidur dijalan dan menabrak kendaraan di depannya sehingga menyita waktuku? tidak ada yang tahukan jika nanti supir taksi melihat istrinya jalan dengan pria lain di Tol dan kejar-kejaran di Tolpun terjadi yang memaksaku untuk pasrah dengan keadaan? tidak ada yang tahukan jika sang pilot pesawat sedang bersemangat terbang, hingga datangnya juga pagi hari dan langsung pergi membawa pesawat yang akan aku naiki? Hidup itu harus penuh perhitungan. Ingat itu!



Aku tiba dibandara, perhitunganku tepat, dan aku bangga akan hal itu. Aku melihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 6 pagi, 15 menit lebih lambat daripada biasanya. Untung aku dah memperhitungkan sebelumnya. Dengan senyum yang merona akupun mengangkat tanganku, dan menunjuk pintu masuk bandara sambil berteriak, 



"Jaya Wijaya, i'm coming!"



Akupun mengeluarkan pisau Commando ku, dan memutar-mutarkan pisau itu dengan jemariku. Aku siap untuk menghadapi semua rintangan yang ada.



"Brukkk, Bruukk, Bruukkk"



Tiba-tiba ada sesuatu yang menindih badanku dari belakang, 2 atau 3 orang barusaha untuk mengunci tanganku, aku tidak diam diri, aku memberontak sambi berteriak



"Aku tidak takut pada kalian, kalian hanya orang primitif yang hanya mengandalkan otot, aku lebih pintar dari kalian!"



"Kreekk, Kreekk, Krekk, Kreekkk"



Kini tangan dan kakiku terkunci, akupun membalikkan badanku untuk melihat muka orang-orang primitif itu.



"Loh pak, ada apa ini nangkap saya?"



Seketika perkataan itu keluar dari mulutku, rupanya itu adalah polisi yang bertugas di Bandara, aku melihat kakiku terbogol, dan tanganku juga tampaknya diborgol. Sial, aku pikir sekarang aku sudah di Gunung. Aku lupa ini masih dibandara.



Salah seorang polisi berteriak padaku, "Kamu mau merampok yah dibandara? kamu pikir saya takut kamu membawa pisau? kamu yang primitif."



Akupun langsung berusaha membela diri, "Maaf pak tadi saya sedang berhalusinasi, saya pikir saya sekarang sedang digunung."



Polisi itupun menjawab dengan menaikkan nadanya, "Kamu sedang berhalusinasi? kamu "pemakai" yah? abis ngeganja?nyabu?atau jangan-jangan sekarang kamu sedang pake LSD? Coba buka mulutmu, perlihatkan gusimu. Terus jalan dihorizontal line ini."



Akupun menuruti perintah polisi tersebut, tampaknya masalah semakin rumit, polisi itu mulai berfikir jika aku seorang pecandu obat-obatan, atau aku sedang mabuk karena alkohol. Semua test yang polisi berikan padaku dapat aku lalui dengan mudah, ya karena aku bukan pecandu ataupun pemabuk.



"Sudahkan pak? saya tadi sedang behalusinasi aja, saya sedang bersemangat ini mau mendaki Gunung Jaya Wijaya, Ayo dong pak sudah 3 Jam kita melakukan permainan ini, bapak mau buat sirkus disini? orang-orang pada ngeliatin saya pak. Bapak tidak liat berberapa orang tadi bertepuk tangan saat saya berhasil melewati test yang bapak berikan? saya tidak mau tertinggal pesawat." Teriakku.



Polisi itu tampaknya baru menyadari bahwa telah banyak orang disekelilingnya, dan polisi itu berkata padaku,



"Ayo ikut saya ke Pos"



"Loh, loh pak?mau main apa lagi di pos?Bapak jangan test saya dengan soal-soal matematika atau fisika. Saya tidak akan bisa menjawabnya, saya belum pernah sekolah pak. Atau jangan-jangan Bapak mau macam-macam sama saya? Maaf pak, saya masih normal." teriak saya.



Seketika orang-orang di Bandara yang dari tadi menyaksikan kami tertawa dengan kencang.



"Sudah ikut saja", teriak polisi itu sambil menarik kerah bajuku, tampaknya kemarahannya sudah dipuncak.


Baca Juga

Siapa Kita Sebenarnya?

oleh: bukanjeri

Tuisan pertama. Hanya ingin bertanya, memikirkan siapa kita.

  • 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Pride and Prejudice

oleh: Jane Austen

Seri Novel Klasik

  • 20745
  • 0
  • 0
  • 0
  • Novel

BERDUA

oleh: Anung De Lizta

Sepasang suami istri, dimana suami belum bekerja. Dan istri selalu bersabar hingga suatu hari suami ....

  • 259
  • 0
  • 1
  • 0
  • Fiksi Kilat
Karya Lainnya dari nurulfikri

Creepy Stories!

oleh: Nurul Fikri

Kumpulan Creepy stories karya saya sendiri. Harap jangan membacanya di malam hari. Akan di update se....

  • 8929
  • 6
  • 9
  • 0
  • Cerita Pendek

BOOM !!

oleh: Nurul Fikri

Terorisme semakin menjamur di negeri ini. Entah siapa dan kenapa hal ini terjadi, yang pasti teroris....

  • 651
  • 4
  • 3
  • 0
  • Novel