Rubi di Sarang Lelaki

olehnoury Diterbitkan 12 April 2016

Berhitung

Ada yang pernah membayangkan seorang anak cewek masuk ke sekolah bernama STM? Ya, ada sih. Tapi pasti nggak banyak dan Rubi adalah satu orang yang kebanyakan itu. Dia tidak pernah membayangkan ada anak cewek masuk STM.



Tunggu sebentar, jangan-jangan masih ada yang belum tahu apa itu STM? Rubi memutar bola matanya. Jadi, STM adalah akronim dari Sekolah Teknik Menengah. Well, sebenarnya secara formal nama STM sudah tidak digunakan lagi karena menurut peraturan yang entah dikeluarkan oleh bagian mananya Kementerian Pendidikan, STM adalah salah satu cabang kejuruan dari SMK alias Sekolah Menengah Kejuruan.



Kalau dengar SMK, pasti yang teringat adalah sekolah yang banyak anak cewek cantik-cantik mau jadi sekretaris atau juru ketik, kan? Tapi masalahnya adalah, di SMK yang satu ini tidak ada anak cewek cantik-cantik yang mau jadi sekretaris itu. Jangankan anak cewek cantik-cantik, sifat jamak dalam frasa ‘anak cewek cantik-cantik’ itu saja Rubi ragukan karena sepanjang matanya memandang, yang ia lihat hanya anak cowok. Dari mulai pintu gerbang, lapangan upacara, koridor-koridor kelas, jalan-jalan penghubung setiap bangunan, lapangan olahraga (apalagi) dan aula besar tempat Rubi sedang duduk sekarang.



“Ini jurusan apa?” tanya seorang cowok tinggi besar dengan rambut berdiri seperti landak.



Dia bertanya dengan nada membentak. Kemungkinan besar dia kakak kelas dan anak OSIS. Karena anak kelas satu yang baru masuk dua hari di sekolah seseram ini tak mungkin berkeliaran tanpa barisannya dan bertanya dengan membentak-bentak pula.



“TKJ,” jawab seorang cowok kurus di depan Rubi. Wajah cowok ini mirip Chris John. Chris John yang petinju? Ya, benar.



“Hei, kamu! Ngapain kamu keliaran di situ?”



Tiba-tiba seorang cowok tinggi besar yang lain datang menghampiri cowok tinggi besar yang rambutnya berdiri seperti landak tadi. Duh, kenapa mereka tidak pakai nametag sih? Rubi kan jadi susah mengidentifikasi mereka.



“Maaf, kak. Saya dari toilet. Saya kepisah dari temen-temen saya.” Oh, ternyata dia anak kelas satu juga.



Si cowok berambut landak ?kayaknya terlalu panjang kalau pakai ‘cowok tinggi besar’, toh mereka berdua sama-sama tinggi besar? sekarang menunduk takut-takut. Si Chris John yang tadi dia bentak tapi tidak terlihat puas juga. Dia hanya memperhatikan dua orang itu sambil memasang wajah lempeng. Ha, nggak tahu lempeng? Itu loh, datar.



“Jurusan apa kamu? Kok nggak pake nametag?”



Nah, kan. Makanya pakai nametag.



“Jurusan listrik, kak. Nametag saya jatoh. Dicari kemana-mana nggak ketemu.”



“Ya udah, berhitung!”



Seketika itu juga si rambut landak tiarap dengan telapak tangan menempel di lantai dan kaki diluruskan ke belakang. Dia mulai berhitung.



“Satu.”



Dia mengangkat tubuhnya, bertumpu pada kedua telapak tangan.



Ya ampun, Rubi baru tahu bahwa di sini yang namanya ‘berhitung’ berarti push up. Setelah menyelesaikan ‘berhitung’ sampai sepuluh kali, si kakak kelas menyuruh si rambut landak bergabung dengan barisan anak-anak ber-nametag kuning.



 “Kenapa kamu liat-liat?” bentak Si Kakak Kelas sambil memelototi Rubi. Dia panik dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi bingung juga harus melihat ke mana. Duh, jangan-jangan dia juga harus berhitung.



“Sana, makan bekal kamu!”



Rubi selamat dari acara ‘berhitung’ yang menyiksa itu. Dia cepat-cepat menunduk dan mengambil kotak bekal dari dalam tasnya yang terbuat dari karung bekas terigu dan diberi tali jemuran berwarna biru.



“Kok tempe kamu nggak berbentuk?” tanya Si Kakak Kelas.



Rubi memperhatikan tempenya yang berbentuk kotak. Apanya yang nggak berbentuk?



“Kamu nggak dengerin ya waktu pengarahan? Kamu harus bawa tempe berbentuk komputer. Kamu jurusan TKJ kan?” Si Kakak Kelas seperti polisi yang menginterogasi Rubi.



Begini tidak enaknya sakit sewaktu hari pengarahan pra-orientasi sampai hari pertama MOS berlangsung. Rubi merasa jadi anak paling tidak tahu apa-apa. Adiknya yang disuruh datang ke pengarahan tidak mencatat baik-baik apa yang harus Rubi bawa dan apa yang tak boleh, serta apa yang harus dipakai dan apa yang tak boleh, sampai ke tradisi-tradisi aneh seperti ‘berhitung’ tadi dan perkara tempe berbentuk komputer. Yang adiknya catat cuma tas dari karung terigu; bawa bekal nasi, tempe, telur dan sayur tumis selama tiga hari; lalu nametag warna biru dan wajib memakai seragam putih biru SMP.



Rubi tiba-tiba teringat Si Kakak Kelas masih berdiri di situ, menunggu jawaban darinya. Apa ya pertanyaannya tadi? Rubi menggerakkan bola matanya ke kiri. Ah, dia akhirnya ingat.



“Iya, kak. Saya jurusan TKJ.”



“Ya saya juga tahu. Tapi kenapa kamu nggak bawa bekal sama kayak temen kamu?” tanya Si Kakak Kelas terlihat bosan dan kesal.



Rubi melirik kotak bekal Si Chris John dan menaruh perhatian lebih kepada tempenya yang konon berbentuk komputer, tapi Rubi tidak berhasil mengenali bagian mananya yang seperti komputer.



“Ada apa Rob?”



Rubi hampir terjengkang melihatnya. Seorang perempuan, berdiri tegap, memakai celana panjang abu-abu dan kemeja putih safari dengan lengan digulung sampai ke siku, berwajah kuning langsat dengan tahi lalat kecil di pipi kanan, sepasang mata anggun yang dibingkai bulu mata lentik, serta rambut dikuncir kuda. Apa yang dilakukan anak perempuan sekeren ini di sekolah ini? Rubi melirik nametag merah putih di dadanya. Sammy. Wah wah, bahkan namanya pun keren. Dan dia kakak kelas pula.



“Anak ini nggak bawa tempe berbentuk komputer.”



“Anu, kak. Saya sakit waktu pengarahan,” kata Rubi, mencoba memberanikan diri. Dia harus bersikap baik. Ini adalah kesempatannya untuk berteman dengan Kak Sammy yang keren.



“Oh, kamu?” Kak Sammy mengambil sesuatu dari belakang kemejanya. Ya Tuhan, papan jalan! Diselipkan di celana panjangnya di balik punggung. Sungguh keren sekali.



Mata Kak Sammy melihat dari atas ke bawah, seperti mencari-cari sesuatu di papan jalan itu. Tebakan Rubi, papan jalan itu pasti berisi daftar presensi kelasnya.



“Rubi? Nggak masuk waktu pengarahan dan hari pertama. Tanya teman kamu apa yang harus dibawa dan apa yang jangan dibawa. Ngerti?”



“Baik, Kak,” kata Rubi sambil tersenyum. Tapi Kak Sammy tidak membalas senyumnya. Rubi agak kecewa, tapi tak mengapa. Lain kali ia bisa mencoba lagi.



Tak lama kemudian, Kak Sammy diikuti oleh Si Kakak Kelas tadi yang ia panggil ‘Rob’ ?mungkin namanya Robi, wah mirip Rubi? berjalan melintasi aula menuju sebuah pintu di sudut kanan ruangan. Sampai dia menghilang ke balik pintu, Rubi masih memandanginya dengan penuh kagum. Dia senang karena akhirnya menemukan makhluk sejenis.



 



“Sudah selesai makannya?” Kakak ?entah siapa namanya, Rubi lupa? yang menjadi MC acara ini bertanya dari depan panggung.



Rubi panik melihat kotak bekalnya yang masih penuh. Sejak tadi ia sibuk sendiri dengan pikirannya sampai-sampai lupa memakan makan siangnya.



Si Chris John sudah membereskan kotak bekalnya ke dalam tas karung terigu. Kemudian dia berdiri. Rubi bingung melihatnya, apalagi setelah menyadari anak-anak lain juga berdiri. Ini pasti salah satu aturan yang tidak diketahuinya. Rubi ikut berdiri.



“Oke. Silakan kakak-kakak, dicek tasnya,” kata Kakak MC, disambut dengan munculnya serombongan manusia ber-nametag merah putih dari balik pintu tempat Kak Sammy menghilang tadi. Ah, Kak Sammy juga termasuk di antara rombongan itu. Rubi tidak melihat cewek lagi selain Kak Sammy.



Mereka membagi diri mereka menjadi berpasang-pasangan. Kak Sammy, tentu saja berpasangan dengan Robi. Benar kan, namanya Robi. Sekarang dia sudah pakai nametag. Mereka berdua menghampiri barisan anak-anak ber-nametag merah. Rubi lupa itu artinya mereka jurusan apa.



Sementara itu seorang kakak kelas gendut berwajah Tionghoa dan kawannya yang kurus berbibir terlalu ‘besar’ mendekati barisan tempat Rubi berada. Rubi membaca nametag mereka. Hendri dan Ridho.



Hendri dan Ridho membagi tugas. Hendri di sebelah kanan dan Ridho di sebelah kiri.



“Siap?” tanya Kakak MC. Siapa sih namanya? Dari tempatnya berdiri, Rubi tidak bisa membaca nametag kakak kelas yang itu.



Semua kakak kelas mengacungkan jempol ke udara.



“Mulai!”



Kemudian Hendri dan Ridho mulai membuka tas karung terigu anak di baris terdepan, kemudian anak di belakangnya, dan begitu seterusnya. Rubi mencoba memperhatikan baik-baik. Berarti, nanti Ridho yang akan membuka tasnya. Permainan semacam apa ini, Rubi tidak mengerti. Razia narkoba? Tidak tahu juga. Kemudian Rubi teringat sesuatu, ada pembalut di dalam tasnya!



Seketika itu juga Rubi panik. Ia ingin menunduk dan mengamankan benda itu ke dalam kantongnya. Tapi ia juga tak berani. Cowok di sampingnya, walaupun mereka terlihat berdiri tegap menghadap ke depan, tetap saja kan bisa-bisa dia berteriak melapor kalau melihat gerakan mencurigakan? Tapi kalau sampai Ridho membuka tas dan menemukan pembalut itu, entah mau ditaruh di mana wajah Rubi. Ini baru hari pertamanya, dia belum siap merasakan momen memalukan seperti itu.



Rubi melirik ke kanan dan ke kiri, kemudian nekat menunduk. Dia membuka tasnya dengan cepat, mengambil pembalutnya itu dan segera menutup asal tasnya.



“Ngapain kamu?”



Tiba-tiba Ridho sudah sampai di depan Rubi. Gawat, dia pasti melihat gerakan mencurigakan.



“Maaf, Kak. Uang saya jatoh,” jawab Rubi, berusaha setenang mungkin.



“Oh.” Ridho terlihat tak peduli. Baguslah. Rubi menghembuskan napasnya, lega.



Ridho menunduk dan membuka tas karung terigu Rubi. Dia mengambil kotak bekal. Hah, ada apa dengan kotak bekalnya? Rubi bingung.



Ridho berdiri sambil memegangi kotak bekal Rubi dan menyunggingkan senyum puas. Rubi semakin bingung.



Ridho menatap wajah Rubi lekat-lekat, lalu melihat nametagnya.



“Ubi?” tanya Ridho. Anak-anak ber-nametag hijau di sebelah kirinya sontak tertawa terbahak-bahak. Rubi cemberut kesal. Anak-anak kurang ajar itu baru berhenti tertawa setelah Hendri memelototi mereka.



“Oh, ada huruf R-nya.” Ridho tertawa kecil. Rubi merasakan telinganya memanas.



“Rrrrubi, tunggu di sini ya!” ujar Ridho, terlihat sangat senang. Rubi marah karena dipanggil ‘ubi’, tapi sekarang dia lebih bingung melihat ekspresi Ridho yang senang sambil membawa-bawa kotak bekal Rubi ke belakang.



Sepertinya mereka telah selesai menggeledah tas setiap anak. Hendri dan Ridho, serta kakak kelas yang lain maju ke depan. Cuma Ridho yang membawa kotak bekal. Apa-apaan ini, karena tempe berbentuk normal itukah? Tapi kan tadi Kak Sammy dan Robi tidak begitu mempersalahkan.



“Wah, ada satu penjahat ya di antara kita!” seru Kakak MC. Rubi menelan ludah.



“Siapa namanya, Dho?”



“Rubi, kelas 1 TKJ!” Ridho bersorak girang. Jantung Rubi serasa copot mendengarnya. Dia mulai ketakutan.



“Ayo, Rubi maju ke depan.”



Semua mata mencari-cari Rubi, kecuali anak-anak yang mendengar ‘ubi’ barusan. Mereka langsung memandangi Rubi dengan tatapan kasihan. Rubi menoleh ke kanan ke kiri, teman-teman dengan nametag berwarna sama dengannya kelihatan lesu. Sebagian dari mereka menatapnya marah dan malas. Rubi tidak mengerti.



“Ayo, Rrrrubi. Maju ke depan!” panggil Kakak MC lagi, membuat Rubi mual mendengar namanya dipanggil dengan huruf R dilafalkan berlebihan.



Dia maju ke depan dengan langkah digagah-gagahkan padahal nyalinya hanya sekecil biji zarah. Begitu Rubi sampai di depan panggung dan menghadap seluruh teman seangkatannya, Kak Sammy dan Robi bergabung bersamanya. Mereka berdiri di kanan dan kirinya.



Rubi kebingungan dan menoleh ke arah mereka berdua bergantian. Robi memasang tampang ‘yah, mau bagaimana lagi’. Sedangkan yang membuat Rubi hampir menangis, Kak Sammy kelihatan kesal sekali kepadanya.



“Siap? Berhitung!” Kakak MC berseru semangat.



Rubi syok. Dia harus ‘berhitung’? Sedangkan mencium lutut saja dia sulit. Yang lebih mengejutkan lagi, dia melihat Kak Sammy, Robi dan seluruh anak ber-nametag biru sepertinya sudah memasang posisi push up.



Rubi tercengang tak percaya melihatnya. Tapi melihat raut serius dan marah Kak Sammy yang menghadap lantai, Rubi mengikutinya.



“Satu!” teriak Kakak MC, mengumumkan kepada dunia bahwa tak ada tempat bagi Rubi berteman dengan Kak Sammy, teman sekelasnya, atau siapapun.


Baca Juga

Hilang

oleh: nanaumama

Ketika sebagian besar duniaku hilang tanpa pengganti bintang

  • 294
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Hidup dan Keheningan

oleh: Octavio Probonegoro

Seberapa jauhkah engkau akan berjuang untuk mendapatkanku?

  • 444
  • 1
  • 0
  • 0
  • Serial

1 Kata

oleh: Eva Nissa

1 kata itu datang dan melambaikan tangannya seakan memanggilku untuk datang kepadanya.

  • 283
  • 0
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat
Karya Lainnya dari noury

untukku

oleh: Noury Hasan

Synopsis is not available

  • 78
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

Untuk Ibu

oleh: Noury Hasan

Synopsis is not available

  • 355
  • 0
  • 0
  • 0
  • Artikel

Samir dan Puteri Lea

oleh: Noury Hasan

Di sebuah kerajaan yang damai, katanya..

  • 269
  • 4
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek