Persalinan Istriku

olehnoury Diterbitkan 13 March 2015

Persalinan Istriku


Tepat pukul 2 dini hari, istriku mencengkeram tanganku.



"Mas, bayinya. Aku sudah tidak tahan lagi," katanya dengan suara mehanan sakit.



Aku memandangi wajahnya yang pucat dan dibanjiri peluh. Aku tidak tega melihatnya. Tapi uang di dompetku hanya tinggal dua puluh ribu. Ke mana aku harus membawa istriku melahirkan? Sempat terpikir untuk meminta istriku menahan kelahiran anak kami sampai lusa. Aku akan menerima upah hari itu. Tapi kelihatannya itu tidak mungkin. Selain itu, upah itupun tetap tidak cukup membayar biaya persalinan.



"Baiklah, ayo kita berangkat."



Akhirnya aku menuntun istriku turun dari tempat tidur dan memasukkan beberapa potong baju bayi dan kain. Kemudian kami berangkat menuju bidan terdekat, itupun jaraknya cukup jauh. Perlu berjalan hampir satu jam penuh menuju ke sana.



Saat tinggal beberapa rumah lagi dilewati, tiba-tiba seorang kakek menghampiri kami.



"Mau ke mana kamu?"



"Ke bidan, Kek. Istri saya mau melahirkan."



"Kamu punya uang tidak?"



Firasatku tidak enak, jangan-jangan kakek ini akan meminta uang dariku.



"Tidak, Kek."



"Lalu kenapa kamu ke bidan itu? Dia penyihir jahat. Dia tidak akan membiarkan kamu keluar dari sana dengan istri dan anakmu kalau kamu tidak punya uang yang banyak."



Aku dan istriku mengacuhkan kakek itu, meneruskan langkah kami.



"Jalanlah lurus sedikit lagi dan berbelok ke gang di samping rumah bercat abu-abu. Ada rumah bersalin gratis di sana. Kamu tidak perlu bayar apapun, pelayanannya pun luar biasa."



Aku tidak menghiraukannya dan malah masuk ke pekarangan rumah bidan yang menjadi tujuan kami sejak awal. Aku menekan bel rumah bidan itu. Tidak ada jawaban. Sementara itu, istriku terus mengeluhkan rasa sakitnya. Tanganku yang dia genggam sudah basah oleh keringatnya sekaligus merah-merah bekas dicengkeram.



"Mas, cepatlah."



Satu jam menekan bel dan kadang mengguncang-guncang pagar besi itu, tetap tidak ada jawaban. Aku menoleh ke tempat tadi aku meninggalkan kakek aneh. Dia masih berdiri di sana, memperhatikanku dan menunjuk ke arah yang dia beritahukan tadi.



"Kita ke tempat yang gratis itu aja, Mas," kata istriku, seperti bisa membaca pikiranku.



Setelah berpikir sejenak sementara istriku terus membujuk sambil mengeluh kesakitan, akhirnya aku membawanya ke jalan yang ditunjuk si kakek. Di gang di samping rumah bercat abu-abu, kami berbelok. Sebuah bangunan tiga lantai bertuliskan "Rumah Bersalin Gratis" berdiri terang di sana. Kami segera masuk melewati pintu gerbang yang terbuka. Begitu sampai di ruang UGD, dua orang petugas menyambut kami dan langsung membawa istriku untuk ditangani di sebuah ruangan mirip ruang operasi. Aku tidak diperkenankan masuk mendampingi istriku.



Setelah dua jam menunggu penuh cemas, akhirnya aku mendengar suara tangis bayi. Aku melonjak senang dan menghampiri pintu masuk. Pintu itu dibuka dari dalam dan seorang dokter perempuan yang mungil menyerahkan bayi merah cantik kepadaku. Aku menangis saking bahagianya. Aku mengecup kening putriku dan membawanya ke pelukan istriku yang tersenyum lelah namun lega.



"Alhamdulillah, Mas," bisiknya.



Setelah itu perawat membantu membersihkan bayiku dengan telaten. Mengurus istriku, dan bahkan memberikan sarapan untuk kami saat pagi tiba. Sebelum dzuhur, aku menemui dokter mungil tadi untuk berterima kasih dan menanyakan perihal biaya. Tapi dokter itu hanya tersenyum dan berterima kasih padaku. Dia juga mengatakan bahwa kami sudah boleh pulang kalau memang istriku merasa kuat.



Sebelum ashar, kami akhirnya pulang. Membawa bayi cantik di pelukan istriku dan barang-barang kami di tas. Saat sampai dekat rumah, para tetangga menyambut kami dengan suka cita. Beberapa dari mereka sibuk memuji kecantikan bayi mungil kami. Kemudian salah seorang tetangga menghampiriku.



"Melahirkan di mana jadinya?"



"Di rumah bersalin gratis di ujung gang. Gang itu ada di samping rumah bercat abu-abu."



"Rumah bercat abu-abu yang banyak bougenvil?" tanya tetanggaku itu dengan wajah heran.



"Ya."



"Kau yakin?"



"Tentu saja," jawabku, ikut heran.



"Lho, kau lupa? Di sana itu kan rumah kosong."



Kepalaku berputar seketika. Aku mengingat-ingat lingkungan rumahku. Rumah bercat abu-abu, gang di sampingnya.



"Ya Tuhan!"



Aku bangkit dari tempat tidur. Jam di dinding menunjukkan tepat pukul 2 dini hari. Istriku mencengkeram tanganku.



"Mas, bayinya. Aku sudah tidak tahan lagi," katanya dengan suara mehanan sakit.



Ternyata cuma mimpi. Lalu kemudian aku turun dari tempat tidur dan menyadari ada sesuatu di pelukan istriku. Bayi perempuanku.



"Anak ini menangis terus-menerus, Mas. Aku tidak tahan. Aku capek sekali. Bantu aku menggendongnya," keluh istriku.



Walaupun kepalaku pusing, aku tetap menggendong bayi itu dan menimangnya. Istriku membaringkan tubuhnya dan hampir memejamkan mata.



"Mas, sepertinya ari-ari si dedek tidak dikasih ke kita."


Baca Juga

Stella

oleh: Alfydr

Stella, aku tau kemarin kau di sudut rumah itu. Duduk sendiri dengan bayangmu, samar air matamu mene....

  • 86
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

LUPA

oleh: Lukman Mei Widitya

Lupa

  • 40
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Kiat Bangkok Membuat Jagad Terpikat

oleh: Hotma D.L. Tobing

Pemerintah berupaya meningkatkan pariwisatanya meningkat. Termasuk Bangkok. Kredit foto Bangkok, G....

  • 284
  • 0
  • 0
  • 0
  • Kiat
Karya Lainnya dari noury

Pesan Tak Sampai

oleh: Noury Hasan

Synopsis is not available

  • 3118
  • 5
  • 8
  • 0
  • Serial

Orang-Orang Kolong

oleh: Noury Hasan

Synopsis is not available

  • 439
  • 0
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek

, ibu.

oleh: Noury Hasan

0

  • 370
  • 0
  • 1
  • 0
  • Artikel