Mad Wonderwall

olehkorudokiraru Diterbitkan 24 November 2015

Prolog - Restart


Cisarua, Bogor, 00.45

2021


 


Level-SS. Mereka dikenal sebagai kelompok petarung terkuat di Republik Indonesia. Terdiri dari sepuluh orang mantan militer, mereka dianggap sebagai penjaga kedaulatan negara paling istimewa, bahkan melebihi keistimewaan pasukan baret merah; Kopassus. Tak hanya mampu menghajar penjahat hingga menjadi bubur kayu, kesepuluh pejuang tangguh yang terdiri dari tujuh orang pria dan tiga orang wanita ini pun terbukti mampu menumbangkan satu kompi pasukan khusus bersenjata lengkap. Di akhir "latihan" yang melibatkan Kopassus, Kopaska, dan Kopaskhas tersebut, Panglima TNI Jenderal Erwin Margono bahkan menghormat kepada sepuluh mantan militer tersebut.


 


Semua orang tahu mengapa Level-SS bisa sedemikian kuat. Mereka adalah hasil program eksperimen biologis pemerintah yang dinamakan Nusantara Wonderwall. Program tersebut diinisiasi oleh presiden Republik Indonesia keenam—yakni Jenderal (Purn.) Sudhiro Yuswanto—pada tahun 2009 untuk tujuan memperkuat pertahanan Indonesia. Tidak, ia menciptakannya demi sesuatu yang lebih besar. Ia ingin negaranya disegani oleh parasuperpower seperti pada era 60-an. Namun, ia tak ingin Indonesia menjadi negara nuklir seperti Amerika Serikat dan Rusia, oleh karenanya ia menciptakan super-soldier untuk merealisasikan mimpi jangka panjangnya.


 


Akan tetapi, ada yang aneh dengan Level-SS malam ini. Heroisme yang selama ini mereka bangun seakan menjadi mitos belaka. Mereka menyerang salah seorang anggota Nusantara Wonderwall generasi awal, yakni Sersan Satu (Sertu) Kurniawan Ramadhan, mantan anggota Raider. Pria yang namanya seringkali disingkat menjadi Kurama itu pun tampak kerepotan menghadapi sepuluh petarung terbaik di lingkungan rumahnya. Ia melompat ke sana-kemari, menghindari berbagai macam serangan, hingga menyerang balik dengan kekuatan yang cukup membuat Level-SS gentar. Benar, produk Nusantara Wonderwall generasi awal memang lebih unggul secara individu.


 


Pertarungan berlangsung alot. Rumah Kurama pun hancur berantakan oleh berbagai macam serangan tenaga dalam. Tak ada warga sipil yang menyaksikan kejadian tersebut, karena rumahnya terletak cukup jauh dari keramaian. Blar, blar, blaaar! Suara ledakan menyeruak silih berganti, namun tetap tak ada orang yang memperhatikan. Sampai pada akhirnya, pertarungan yang telah berlangsung selama hampir sejam tersebut menyisakan empat juara bertahan; mereka adalah Kurama, Garudaman—anggota Level-SS yang dapat mengubah wujud menjadi humanoid mirip burung garuda, Putri Lunar—anggota Level-SS yang tampak seperti penyihir eksotis nan anggun, dan Kapten Nusa—anggota Level-SS yang mengenakan seragam antiteror dengan balaclavaberduri. Mereka sudah terengah-engah, namun tetap tak menyerah sebelum tujuan masing-masing tercapai.


 


Kapten Nusa lantas merangsek maju, ia kembali memulai serangan.Wuk! Tinju lurusnya melesat secepat kilat, bahkan tak mampu terindera oleh mata telanjang. Akan tetapi, Kurama dapat melihat serangan sang kapten seperti melihatnya dalam gerak lambat. Kurama meliukkan kepalanya sedikit seraya menangkis tinju Kapten Nusa. Ia lantas menangkap pergelangan Kapten Nusa, mengentak rahang Kapten Nusa dengan pangkal telapak tangannya, dan menyodok ulu hati Kapten Nusa dengan lututnya. Seluruh rangkaian serangan terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Petarung biasa tentu takkan mampu melihat apa yang baru saja terjadi.


 


Garudaman tak sanggup melihat temannya berjuang sendirian, ia lantas terbang beberapa meter di atas lokasi pertarungan dan menembakkan puluhan bulu dari kedua sayapnya ke arah Kurama. Bulu-bulu tersebut sama sekali bukan bulu burung biasa, mereka sama tajamnya dengan pedang Damaskus—pedang tertajam di dunia. Jika bulu-bulu tersebut berhasil mengenai Kurama, Kurama takkan selamat; ia akan terpotong-potong seperti daging fillet.


 


Ajaibnya, Kurama berhasil menghindari serangan Garudaman. Ia melakukan salto mundur beberapa kali dan membuat seluruh tembakan Garudaman luput. Akan tetapi, Putri Lunar secara tiba-tiba muncul di depan wajah Kurama. Kedua mata Putri Lunar pun bersinar, mengentakkan tubuh Kurama ke belakang. Di saat yang bersamaan, Kurama melepaskan tinju kaitnya ke rahang Putri Lunar. Wham!


 


Blar, blar, blaaar! Kurama dan Putri Lunar saling menerima serangan, keduanya terpental keras dari tempat mereka berpijak. Kurama menghantam sekitar dua hingga tiga dinding rumahnya, sementara Putri Lunar terperosok menghantam tanah dan pepohonan.


 


Kapten Nusa tak gentar. Ia kembali menghampiri Kurama yang masih lengah. Dengan cepat ia mendekat dan melepaskan puluhan serangan mematikan kepada sang sersan. Kurama berhasil mengantisipasi beberapa serangan fatal Kapten Nusa dan berupaya untuk menyerang balik, namun Kapten Nusa sendiri tak mudah untuk ditumbangkan. Pertukaran serangan nan sengit tersebut lantas menghasilkan celah pada pertahanan Kapten Nusa maupun Kurama. Wajah keduanya tak terlindungi. Sebagai mantan militer, keduanya langsung dapat melihat celah besar tersebut dan melepaskan serangan. Bam! Keduanya melepaskan tinju yang sama dengan hasil yang serupa. Keduanya terpental, namun efek yang diterima Kapten Nusa jauh lebih fatal.


 


Kurama pun terpental cukup jauh, namun ia dapat mengerem begitu tiba di halaman rumahnya. Tiba-tiba, Garudaman muncul dari belakang. Ia segera melepaskan puluhan serangan secepat kilat ke arah Kurama. Tak ada yang berhasil masuk.


 


Kurama melihat celah besar pada tubuh Garudaman, ia berniat untuk mengakhiri nyawa Garudaman dengan pukulan tombaknya. Akan tetapi, ia menyadari bahwa ada bahaya yang datang dari arah belakang. Kapten Nusa. Mantan kapten Sat-81 Gultor tersebut tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Kurama dengan tangan kanan mengepal. Refleks, Kurama segera bertolak dan berupaya menangkis serangan Kapten Nusa. Bam! Serangan berhasil ditangkis, namun ...


 


Jraaak! Dengan cakarnya yang sangat tajam, Garudaman akhirnya menembus titik vital Kurama. Tangannya merangsek masuk ke dalam dada Kurama dan langsung mencabut jantung Kurama dari porosnya. Rupanya ia sengaja membuka pertahanannya untuk Kurama agar Kurama lengah. Triknya berhasil, Kurama tak menyadari Garudaman telah menyiapkan serangan fatal dari arah belakang.


 


Krak! Tanpa sedikit pun keraguan, Garudaman lantas menggenggam jantung Kurama sekuat tenaga hingga organ vital tersebut pecah di dalam genggamannya. Kurama tak sempat menjerit, tak sempat melenguh. Ia langsung tertunduk lemas begitu Garudaman berhasil mendapatkan jantungnya. Tewas seketika. Dengan demikian, berakhirlah perkelahian sengit antara Level-SS dan Kurama. Entah apa tujuan Level-SS, namun mereka tampak tak menyesal dengan keputusan yang mereka buat.


 


Sorak-sorai pun menggema dalam hati, kesepuluh anggota Level-SS kini dapat bernapas lega mendapati Kurama terkapar luruh tak berdaya. Mereka tersenyum lebar, merayakan kemenangan yang tertunda selama hampir sejam. Para juara bertahan tersebut lantas saling membantu satu sama lain untuk bangkit. Kini saatnya bagi mereka untuk meninggalkan tempat terkutuk tersebut. Mereka harus menghilang sebelum fajar menyingsing.


 


Namun, kenyataan kadang tak seindah harapan ...





 


Ka-blam! Ka-blam! Seseorang melepaskan dua buah tembakan dari kejauhan. Peluru pun melesat cepat  ke arah di mana para anggota Level-SS berpijak. Crat! Tembakan memakan korban, Kapten Nusa adalah orang yang menerima serangan misterius tersebut. Pundak belakangnya terluka cukup parah, ia lantas menjerit dan melutut di atas tanah selama beberapa saat. Geram dengan serangan culas sang penembak misterius, ia pun menoleh ke belakang; ke arah datangnya tembakan.


 


Kapten Nusa melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 14-15 tahun tengah menggenggam shotgun Stoeger Uplander laras pendek hanya dengan satu tangan. Ia sempat terheran dengan fenomena yang muncul di depan matanya, bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa begitu kuat menahan entakan senapan legendaris tersebut? Ia lantas menyadari bahwa sang anak adalah hasil didikan Kurama atau paling tidak memiliki ikatan khusus dengan Kurama. Ekspresi sang anak menunjukkan segalanya; kepiluan, ketakutan, kemarahan, hingga kebingungan. Kesemuanya bercampur aduk menjadi sebuah formula yang tak terelakkan: rasa kehilangan.


 


Akan tetapi, Kapten Nusa tak ingin beramah-tamah dengan sang anak. Ia tak peduli pada peraturan perang, ia tak peduli siapa yang harus ia bunuh, ia hanya peduli atas kemenangan absolut. Lagipula, ini bukan perang, pikirnya. Ia pun melesat cepat ke tempat sang anak berpijak dengan kedua tangan mengepal. Garudaman mencoba menahan sahabatnya, namun seruannya tak digubris. Ia malah semakin liar.


 


Sang anak sama sekali tak gentar. Ia malah menjatuhkan senapannya dan mencabut pisau komando dari balik celananya. Kapten Nusa mendekat, sudah hampir menghantam kepala sang anak dengan bogemnya. Beruntung, sang anak mampu menghindar. Anak lelaki misterius tersebut lantas menebaskan pisaunya secepat kilat. Airmatanya berlinang meninggalkan kedua sudut mata, menjadi saksi atas kepiluannya malam itu. Syash!Serangannya berhasil mengenai pipi Kapten Nusa, membuat sang prajurit semakin terbakar oleh amarah.


 


Sang anak kembali menyerang. Ia berupaya menghujamkan pisaunya ke perut Kapten Nusa. Sayangnya, kali ini luput. Kapten Nusa berhasil meliukkan tubuhnya sesaat sebelum pisau mengoyak tubuhnya. Ia lantas menahan tangan sang anak, meninju rahang sang anak dengan keras, menyodok perut sang anak dengan lututnya, lalu melempar sang anak tinggi-tinggi ke atas langit.


 


Anak lelaki misterius tersebut tak mampu melawan, ia lengah dan pasrah. Kapten Nusa pun melompat tinggi, menyusul tubuh sang anak yang masih mengawang-awang di atas langit. Tanpa sedikit pun rasa iba, Kapten Nusa melepaskan tinju terakhirnya tepat ke ulu hati sang anak. Duaaak! Pukulan superkerasnya sontak membuat sang anak terpelanting keras menjauhi pintu langit—meluncur ke atas permukaan bumi.


 


Wuuung! Terjunnya sang anak menghasilkan gesekan atmosfer yang cukup kuat, sehingga terdengar suara menyerupai meluncurnya bom atom dari atas langit. Sang anak sudah kehilangan setengah kesadarannya, rasa sakit pun seakan nihil.Blaaaar! Tak lama kemudian, anak yang diduga hasil didikan Kurama itu pun terjatuh menghantam permukaan bumi. Tanah pun bergetar, menciptakan lindu kecil hingga radius seratus meter.


 


Kapten Nusa mendarat mulus di atas tanah. Ia lantas bersiap melepaskan serangan penutup untuk memuaskan hasrat membunuh yang telah menggelora. Akan tetapi, Garudaman menahan tangan dan kakinya. "YUSUF!" teriaknya. "Kendalikan dirimu, bajingan! Kita di sini hanya ditugaskan untuk mengeliminasi Kurama, bukan anak kecil! Kau mau nama Level-SS menjadi jelek karena perbuatanmu!? Rakyat telah mempercayai kita, dunia telah mempertimbangkan kekuatan kita, dan kau mau menghancurkannya dengan membunuh anak kecil!? PIKIR!"


 


Mendengar ceramah Garudaman, Kapten Nusa pun terdiam. Ia menatapi sahabatnya dengan tatapan tajam. Begitu saja yang terjadi selama beberapa detik, keduanya saling bertukar pandangan dingin. Tak lama kemudian, Kapten Nusa melepaskan tangannya dari genggaman Garudaman. Ia berjalan menghampiri kawanannya dengan jengkel, masih tak puas dengan serangan terakhir yang ia layangkan kepada sang anak.


 


Garudaman memang merupakan anggota Level-SS yang paling bijaksana. Setidaknya ia masih menghargai aturan-aturan perang yang pernah ia pelajari saat aktif di militer beberapa tahun lalu. Merasa iba, ia pun menatapi sang anak yang sekarat selama beberapa saat. Namun, ia berdiri di sana untuk membunuh Kurama, bukan untuk menyelamatkan anak kecil. Lagipula, anak tersebut tampaknya merupakan bagian dari Kurama. Mungkin memang lebih baik ia tinggalkan sang anak bersama seluruh kenangannya. Garudaman lantas pergi meninggalkan sang anak layaknya tikus yang tergilas di jalan raya.


 


Level-SS pun menghilang.


 


---


 


02.34


 


Malam semakin gelap. Situasi semakin senyap. Panas semakin lenyap.


 


Anak laki-laki yang dihajar oleh Kapten Nusa itu pun terbangun dari "tidurnya." Ia bangkit perlahan seraya melenguh kecil. Airmatanya telah habis, senyumannya telah sirna, ia sudah tak bisa lagi merasakan kepiluan yang semula membakar jiwa dan raganya. Orang-orang yang dipanggil "pahlawan" oleh berbagai belahan masyarakat itu tiba-tiba berubah menjadi pembunuh brutal yang merenggut segalanya dari kehidupan sang anak—sang anak bahkan tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi.


 


Lelaki berusia 14 tahun itu pun menyeret langkahnya ke dalam rumah. Perlahan-lahan. Ia bersyukur dirinya masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Kuasa. Luka berat yang dihasilkan oleh pukulan Kapten Nusa seakan tak berarti apa-apa. Benarkah Kurama telah melatihnya sehingga ia menjadi terlalu kuat? Entah.


 


Sang anak tiba di dalam rumah. Ia lantas mengambil beberapa barang pribadi Kurama yang terserak di balik reruntuhan. Ia membawa senapan yang ia gunakan untuk menembak Kapten Nusa, golok militer, rompi antipeluru, dan berbagai macam barang pribadi milik Kurama lainnya. Ia butuh tahu apa yang sesungguhnya diincar oleh Level-SS, itulah sebabnya ia mengambil barang-barang penting milik Kurama. Barangkali ia bisa menemukan petunjuk dari barang-barang tersebut.


 


Akan tetapi, ia mengambil beberapa senjata bukan sekadar untuk mencari pesan-pesan terselubung.  Ia juga mengambilnya untuk melampiaskan amarah kepada sekelompok orang yang selama ini disebut-sebut sebagai "pahlawan." Ia sudah tak percaya pada istilah superhero atau semacamnya. Yang ada di matanya saat ini hanyalah sekelompok kriminal bertopeng surga. Setan berjubah malaikat. Anjing berbulu merak.


 


Sang anak pun berpikir, langkah pertama yang harus ia tempuh untuk merealisasikan rencananya adalah tetap melatih kemampuan bertarungnya dan ... bersekolah. Ia masih terlalu bodoh untuk memahami tragedi yang terjadi di depan matanya, itulah sebabnya ia butuh sekolah. Selama ini ia terlalu menggantungkan hidupnya dari Kurama seorang; ia bahkan menolak pergi ke sekolah hanya karena Kurama mampu mengajarinya banyak hal. Kini sang prajurit telah tewas, sekolah adalah satu-satunya jawaban untuk menggantikan jasa Kurama.


 


Malam mengerikan itu pun berakhir. Sang anak melangkah pergi dari rumahnya, entah ke mana. Kurama, Kurama, Kurama, sekadar nama itu yang terbesit di dalam benaknya. Ia begitu fanatik terhadap eksistensi seorang Kurama, sampai kemudian ia terpikir untuk mengulang kehidupannya sebagai sosok yang benar-benar berbeda. Restart. Ia ingin mengubah namanya. Ia ingin mengubah jati dirinya. Bukan lagi sebagai seorang Handoyo—nama aslinya.


 


Tetapi sebagai Kurama dan Handoyo. Kurama Handoyo.


 


TO BE CONTINUED

Baca Juga

Abnormalisasi

oleh: Blass Reiter

Aku tahu ada yang tidak normal dalam hidupku... Mengapa aku tak bisa menatap mata mereka? Apa yang t....

  • 6796
  • 5
  • 5
  • 0
  • Serial

Di Luar Jangkau Jaringan

oleh: tamafandira

Sebukit keputus asaan, satu intensi terkutuk dan sebuah jalan.

  • 196
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

CERBUNG DUNIA KEDUA 1

oleh: anik cahyanik

Mimpi itu adalah dunia yang hanya bisa dimasuki oleh jiwa, mata tak bisa melihat dan tangan tak bisa....

  • 347
  • 1
  • 0
  • 0
  • Serial
Karya Lainnya dari korudokiraru

Subject 09

oleh: Korudo Kiraru

Apa yang terjadi jika salah satu pembunuh terbaik pemerintah tak berhasil ditangkap dan malah berger....

  • 13139
  • 16
  • 11
  • 0
  • Novel

Mad Wonderwall

oleh: Korudo Kiraru

Indonesia akhirnya menjadi salah satu negara yang paling disegani, bahkan diperhitungkan oleh dua su....

  • 2690
  • 1
  • 1
  • 0
  • Serial