di hari kelahiranku

olehirnabonbon Diterbitkan 19 July 2014

di hari kelahiranku


Dia pemberi inspirasi terbesarku. Dia penyemangat hidup terbaikku. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa dia. Tanpa dirinya yang bisa menerima diriku apa adanya. Duhai sayang, belum bisa kubuktikan betapa aku serius pada hubungan kita.. kamu terlanjur pergi.. jauh.. jauh.. dan jauh..



Tiga tahun yang lalu. Tuhan izinkan kami bertemu di suatu acara. Perkenalan pertama yang jauh dari kesan sempurna, namun membekas. Temanku pun yang juga kenal dengannya memperkenalkan kami. kami semakin dekat dan erat. Tanpa sadar, kitapun mabuk dalam anggur bernama cinta dan membutakan tembok bernama agama.



Kamu menerimaku apa adanya. Ya, bagaimana harus kujelaskan berbagai pengorbananmu dalam hidupku? Kamu berasal dari keluarga berada. Orangtuamu pengusaha sukses. Sedangkan aku? Aku hanyalah seorang anak yatim yang memulai segalanya sendirian di kota sebesar ini. aku masih harus menanggung banyak keperluan keluargaku di kampung halaman. Sedangkan kamu? Gajimu hanya untuk kamu seorang. Kamu sering membiayai keperluanku, kamu sering memberi aku modal untuk menjalankan berbagai usaha, kamu selalu menyemangatiku. Genggaman tanganmu itu cukup menghadirkan ketenangan bagi segala gundahku. Kamu, pemberi segala yang ada di hati ini.



Lambat laun, usahaku semakin sukses. Aku mulai cuek denganmu. Aku sangat terfokus dengan usahaku karena aku berpikir untuk menghadapi hubungan serius denganmu. Ya, tentulah. Aku butuh mobil, rumah, dan investasi-investasi lainnya yang bisa meyakinkan ayahmu bahwa kamu akan berbahagia denganku.



Kamu begitu sabar menghadapiku, menghadapi segala kecuekanku, menghadapi segala kesibukanku. Andai kamu tahu, sayang. cukup senyumanmu yang bisa membuatku tenang, melupa tentang segala problem yang aku hadapi. Tak perlu kamu menasehatiku, tapi kehadiranmu disisi, menggenggam tanganku dan menyandarkan kepalamu pada bahuku, itulah yang membuatku yakin bahwa hanya kamu dan selalu kamu yang terbaik dalam hidupku.



Hari ini, tepat di hari kelahiranku, aku berdiri di makammu. Menatap tak percaya, menggenggam surat dan kado untukku yang kamu titipkan pada orangtuamu. Kamu pergi.. hilang.. tak ada lagi disisi. Menurutmu, siapakah yang kelak bisa menguatkanku selain kamu?



Dengan tangan gemetar, aku membaca suratmu. Gerimis perlahan turun. Kecil namun konsisten. Berusaha ikut ber empati atas hilangnya seluruh hati dan jiwaku.



 



Dear:  Rado



Sungguh, aku bersyukur Tuhan memberikanmu untuk hadir disisiku, mendampingiku, mendukungku, menyayangiku, bahkan mencintaiku. Dan sungguh tak ada kata yang bisa aku ucapkan selain terimakasih yang sebesar-besarnya untuk semua pengorbanan yang sudah kamu berikan padaku, untuk setiap detil nasehat, untuk setiap genggaman tangan yang menenangkan, untuk setiap pelukan yang membuatku merasa nyaman, dan untuk setiap kecupan yang meyakinkanku bahwa kamu akan ada disisiku.



Dalam setiap alur kata yang kamu ucapkan, seringkali terselip rasa bangga dan kagumku padamu. Ya, aku tau, mungkin kamu tak menyadarinya. Namun sungguh aku terkagum padamu saat kamu menceritakan segala mimpimu, segala citamu, dan segala kepedulianmu kepada rakyat yang berada di bawah. Seringkali kamu membuka mataku untuk tetap melihat ke bawah dan tidak selalu melihat ke atas. Tak jarang pula, kamu membuatku mengusir segala rasa hedonisme dalam diriku. Terimakasih untuk segala mimpi dan cita yang kamu ceritakan :)



Jujur, sampai pada detik ini, aku masih tidak bisa mengerti, mengapa Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu, saling melengkapi, dan saling mendukung satu sama lain. Dan alasan Tuhan jika Dia pisahkan kita dengan alasan kuat dan jalan yang terbaik. Y,, semua itu masih belum dapat aku mengerti. Yang aku yakini, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Bahkan setiap langkah dan desah nafas kitapun telah tertulis sempurna dalam kitab kehidupan Sang Pencipta. Namun aku yakin, ada rencana Tuhan yang terindah dan ada alasan yang terbaik dariNYA mengapa Dia mentakdirkan kita untuk bertemu. Akan ada waktunya kita akan memahami pertemuan, kebersamaan, bahkan perpisahan. Biarlah, aku percaya, waktuNYA tak ada yang tak sempurna.



Rado,, di hari ulangtahunmu,, aku cuman bisa berdoa untuk segala mimpi dan citamu. Untuk segala angan yang sering kamu ceritakan ke aku. Aku yakin, kamu akan mewujudkannya suatu hari nanti. Ya,, aku yakin, asalkan niatmu tetap mulia dan tekadmu tetap keras melebihi baja. Hidupmu yang kamu rasakan saat ini mungkin terasa sulit dan aku tahu, tidak mudah bagimu untuk tumbuh dan berkembang tanpa kehadiran seorang ayah disisimu. Tidak mudah mengerti duniamu, tidak mudah menebak isi pikiranmu.



Tapi sungguh, Tuhan mencintaimu. Yang selama ini aku lihat selama aku berada disisimu untuk mendampingimu adalah anugrah dan berkat Tuhan yang tiada tara, melihatmu terus berusaha melangkah dan tetap penuh dengan kebaikan hati. Kamu bukan hanya menjadi teladan bagiku, tetapi bagi semua orang yang mendengar kisahmu, karena rencana hidupmu kamu serahkan pada Tuhan. Berapa kali kamu harus kecewa, bukannya aku tak tahu. Berapa kali kamu harus bersabar, bukannya aku tak peduli. Berapa kali kamu harus menangis dan (seolah) menahan bebanmu sendiri, bukannya aku tak mendoakanmu.



Catatan ini untukmu, kekasih hati. Untuk mengingatkanmu bahwa mungkin di depanmu akan ada banyak kekecewaan yang akan kamu tanggung. Untuk mengingatkanmu bahwa akan banyak saatnya kamu harus lebih bersabar dengan semua hal. Dan untuk mengingatkanmu bahwa akan ada airmata lagi yang akan tertumpah. Baik menjadi lelaki atau perempuan sejati memang bukan perkara yang mudah saat ini. Tapi aku percaya, kamu takkan pernah serahkan nasib pada takdir sebelum kamu mencobanya dengan gigih. Kamu telah membuktikannya, dengan tetap bisa bertahan dan berdiri tegak tanpa teladan yang telah pergi sebelum kamu memiliki kenangan indah dengannya.



Happy birthday my dear. I’m so damn proud of you, Rado :)



 



Aku menggenggam erat suratmu dan membuka kado darimu. Sebuah jam tangan, sebagai pengingat waktu bagiku. Aku menangis. Tak bisa kubendung airmata ini. kamu pergi tepat disaat hari lahirku. Kamu pergi tanpa pernah bisa tahu betapa bahagianya aku memiliki kamu.



Kamu sungguh cerdas, Rena. Bahkan, sampai sisa nafas hidupmu pun aku tidak pernah tahu bahwa kamu seorang pengidap penyakit jantung. Kamu begitu kuat dan tegar. Kamu tidak pernah menunjukkan sakitmu di depanku. Suratmu, semuanya penuh misteri. Apa yang pernah aku korbankan untukmu, Ren? Bahkan kamu yang banyak berkorban untukku. kamu dan semua doamu lah yang selalu menjadi penguat setiap langkahku.



Ah Rena. Andai kamu tahu. Hari ini pun aku berencana memberimu kejutan. Aku ingin melamarmu. Aku ingin menikah denganmu, perempuan terbaikku. Aku ingin memberitahumu bahwa aku telah memilih jalan lain menuju Tuhan dengan mengikuti jalanmu. Aku ingin kamu tahu bahwa kamulah kebanggaan terbesarku selama ku hidup.



Kini, apalah yang aku punya? Di hari lahirku, aku kehilangan kamu. Aku kehilangan banyak waktu bersamamu. Aku kehilangan perempuan penyemangat hidupku. Kini, apalah guna semua yang telah aku kumpulkan untuk bahagiamu? Toh, kamu sudah tidak ada disisiku.



Rena, aku ingin merayakan hari lahirku bersamamu. Tunggu aku, Rena. Kita akan merayakannya bersama-sama..



 



***



 



BREAKING NEWS:



Seorang pria ditemukan tewas dengan sayatan pada nadinya. Di dekatnya, ditemukan sebuah surat yang diduga dari kekasihnya, sebilah pisau yang diduga untuk menyayat nadinya sendiri, dan sepasang cincin. Diduga, pria tersebut putus asa karena kematian sang kekasih. 


Baca Juga

AKU YANG AKAN MENJEMPUTMU

oleh: Aprilla Purwantara

Aku yang akan menjemputmu... Kembali ketempat, dimana kau bertinggal dulu... meski kita telah beda......

  • 549
  • 4
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Jeda darimu

oleh: Itsnita Husnufardani

Munculnya warna hitam diawal halaman pernikahan

  • 304
  • 0
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

Hadiah

oleh: ilham A.R.

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 436
  • 4
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari irnabonbon

soulmate

oleh: Irna Bontor Febyola

karena, yang paling memahami kondisi saat kita harus berhenti berjuang adalah diri kita sendiri..

  • 524
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

katanya Tuhan itu satu, kenapa ada banyak agama?

oleh: Irna Bontor Febyola

saling mengingatkan, bahwa perbedaan ada supaya kita belajar mengasihi :)

  • 556
  • 2
  • 6
  • 0
  • Opini

Mendidik Indonesiaku by Muhammad Djamall

oleh: Irna Bontor Febyola

Lelang Buku Bayar Karya di group Love Books A Lot Indonesia (@LoveBooksALot) dengan tema: Mendidik I....

  • 524
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya