demi cinta

olehirnabonbon Diterbitkan 30 October 2013

1


Ketika rindu ini datang tak terbendung..



Rengkuh.. rengkuhlah aku dalam dekap doamu..



Ketika raga ini memintamu hadir..



Genggam.. genggamlah aku diantara nafasmu..



Karena setiap aliran darah yang terpompa masih menginginkanmu ...



Masih membutuhkanmu ..



Masih mendekapmu …



 



Shella melirik ponselnya. Jam 05.00 pagi. Dipaksakan tubuhnya untuk menyingkir dari nyamannya kasur tempat dia mengistirahatkan tubuhnya, dan bergegas menuju kamar mandi. Semalam, Shella baru keluar dari kantornya pukul 01.30 dan baru sampai rumah pukul 02.00. Shella hanya sempat melepas sepatunya dan melemparkan tas kantornya begitu saja, kemudian tertidur. Dan sekarang, jika Shella tidak mengingat bahwa jarak Bekasi-Thamrin sangat jauh dan jalanan yang akan sangat macet, tentu saja Shella malas beranjak dari tempat tidurnya. Oh iya, tidak lupa, deadline pekerjaannya yang sudah menunggunya !



Setelah selesai bersiap, Shella segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Shella melirik arlojinya. 15 menit lagi, kekasihnya akan menjemputnya. Maka disegerakan dirinya untuk sarapan secepat mungkin.



“Shel, semalam pulang jam berapa?” tanya ayahnya.



“Jam setengah 2, yah..”



“Malam sekali, Shel.. hari ini akan pulang malam lagi?”



“Mungkin, Yah. Soalnya beberapa bulan ini di kantor lagi peak season, semua kerjaan deadline nya sempit. Jadi Shella harus bisa menyelesaikannya sesegera mungkin..”



Ayahnya menghela nafas panjang. Mengerti betul bahwa putri pertamanya sangat cerdas dan pekerja keras. Tak terkejut dirinya ketika dua tahun yang lalu, putrinya – yang baru saja menyandang gelar Sarjana - itu berteriak girang, menyatakan bahwa dirinya diterima sebagai Junior Auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik yang amat ternama di daerah Thamrin. Pergejolakan batin terjadi dalam dirinya. Arif Budi Santoso sudah berpengalaman bekerja pada bidang tersebut. Lima belas tahun lamanya dia pernah ada sebagai Auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pensiun dini dan mengembangkan usaha catering milik istrinya, agar bisa memiliki waktu lebih fleksibel dan lebih dekat dengan anak-anaknya.



Menolak keinginan Shella saat itu sama saja menghancurkan impiannya. Namun, bagaimana jika putrinya harus pulang larut malam? Waktu istirahat yang sangat sempit? Bahkan harus menikmati weekend di kantor ketika masa sibuk? Telah siapkah Shella menghadapinya? Ah, rasanya tak perlu lagi dia jelaskan. Shella sudah sangat mengerti resikonya. Dan bukan putrinya jika dia tidak keras kepala dan bertekad baja, cerminan dirinya.



Arif Budi Santoso melihat putrinya duduk dihadapannya. Kantung matanya mulai membengkak karena kurang tidur, tubuhnya mulai kurus, wajahnya pucat. Tak hanya sekali dia melihat putrinya seperti ini. Sering. Bahkan akhir-akhir ini mulai semakin memburuk karena Shella diminta menjadi kepala tim pada tim audit yang baru. Dia berharap, putrinya kali ini menyerah dan bisa mencari pekerjaan yang baru, atau mungkin membantunya mengembangkan usaha keluarganya. Namun nampaknya putrinya belum menyerah.



Dia menghela nafas panjang. Syukurlah, Demian – kekasih Shella – yang sudah dia yakini sebagai pendamping hidup Shella bisa membuatnya sedikit bernafas lega. Setidaknya, dia bisa meyakini bahwa Shella pulang dengan aman bahkan di tengah malam sekalipun. Dia ingin sekali memberikan kepercayaan kepada Shella untuk membawa salah satu kendaraan yang ada dirumahnya. Namun biarlah, biarlah agar Demian semakin mengerti Shella.



***



Shella membuka pagar rumahnya, dan melihat mobil kekasihnya sudah berada disana. Shella langsung membuka pintu dan masuk. Kemudian merebahkan tubuhnya di bangku sebelah kekasihnya. Demian langsung meluncur. Shella mengatur bangkunya agar dia tetap nyaman dan bisa sedikit lagi beristirahat. Melihat Shella tertidur, hati Demian merasa teriris. Setiap hari dia melihat Shella mati-matian bekerja, pulang larut malam, kurang tidur, lupa makan, bahkan harus masuk kerja saat weekend jika sedang masa sibuk. Lampu merah. Demian menggenggam tangan Shella. Dia tak ingin Shella seperti ini. Dia ingin kelak Shella bisa menjadi ibu untuk anak-anak mereka kelak. Dia ingin Shella menjadi orang yang pertama kali dilihatnya saat pulang. Dia ingin melihat Shella bekerja dengan jam yang teratur, eight to five. Memang belum ada perbincangan yang serius, namun Demian telah bertekad. Shella yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Demian mencium tangan Shella, berkata dalam heningnya “I love you, Shel..”



Tepat di depan sebuah gedung perkantoran yang megah. Demian membangunkan Shella dengan lembut dan hati-hati. Shella terbangun, menyadari dirinya tertidur lelap sepanjang perjalanan. Shella mengecup pipi kekasihnya, dan kekasihnya membalas kecupan pada keningnya, kemudian Shella keluar, mengalungkan ID Cardnya, dan memasuki gedung perkantoran itu. Pikirannya melayang-layang. Rasanya hampa beberapa minggu ini tidak mengobrol dengan Demian disepanjang perjalanan ke kantornya. Ada yang kosong dalam dirinya. Shella menghela nafas panjang. Tersadar kalau lift telah berhenti di lantai 11. Shella buru-buru keluar dan memasuki ruangannya.



“Shell, tadi ada telpon dari client kita yang perusahaan tambang itu. dia minta kita meeting sama konsultan pajak tiga minggu lagi” kata salah satu rekan Shella saat Shella baru saja memasuki ruangannya.



“hah? Kok tiga minggu lagi sih?” Shella terkejut “bukannya kita baru mau 90% final itu bulan depan ya?”



“gak tau, Shel. Kayaknya dia minta dipercepat deh..”



Shella memutarkan bola matanya, kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan melihat beberapa tumpukan pekerjaan yang harus di review di mejanya. Hah ! belum duduk aja udah bikin pusing batin Shella. Shella hanya menaruh tasnya kemudian berjalan menuju pantry untuk mengisi botol minumnya. Shella tersenyum sendiri saat mengisi botol minumnya. Minimal 5 botol per hari, itulah pesan Demian saat memberikan botol minum ini ke Shella. Tiba-tiba hatinya bersedir. Dia rindu menghabiskan waktu bersama Demian.



Shella kembali ke mejanya. Menyalakan komputer, kemudian menata file-file prioritas yang harus dikaji ulang. Setelah selesai, Shella mulai bekerja dan tenggelam sendiri dalam dunianya.



“woy Shel !” tepukan kuat pada bahunya menghentakkan Shella. Shella menengok ke arah hentakan itu yang membuat jantungnya hampir terlepas dari tubuhnya “makan siang yook. Kerja mulu”



“Rahmaaaa” teriak Shella kecil dan hampir mencakar-cakar temannya itu. “lo tuh ya, bikin gw kaget aja !”



“hahahaha, lo sih, kerja serius banget. Liat tuh jam di meja” kata Rahma sambil menunjuk jam di meja kerja Shella “udah jam 12.15. Anak buah lo juga udah pada makan siang tau.”



Shella melihat sekeliling ruangannya. Sepi. Tinggal dia dan Rahma. Shella meraih tasnya, mengambil HP dan dompetnya. Kemudian mengutak-atik HPnya sebentar. Dia rindu Demian.



“yah, pake lowbat lagi nih HP” kata Shella kemudian. Shella mengambil charger dari laci mejanya dan mencharge HPnya.



“itu HP gak dibawa, nyonyah?” kata Rahma sambil terkikik-kikik



“lowbat !”



“hahahaha, gak bisa telpon-telponan dong selama makan siang sama pacar tercinta”



Shella berdiri, tersenyum, dan melirik HP yang dipegang sobatnya itu “tolong ya, gw punya temen. Bisa dong ya dimanfaatin itu HPnya”



“hahaha, dasar kutu lo !” kata Rahma. Mereka berdua tertawa sambil melangkah keluar ruangan.



***



Shella melangkah keluar gedung kantornya dan menunggu di lobi. Shella melirik jam tangannya. Jam 1 malam. Gedung itu sudah sangat sepi. Tinggal Shella dan beberapa teman-temannya yang menunggu untuk dijemput juga. Semua sudah terdiam, tidak ada lagi celoteh seperti biasa. Iya, mereka sudah terlalu lelah dan sudah terlalu malas untuk membuka topik pembicaraan.



“dijemput, Shel?” tanya seseorang yang baru saja keluar dari lift. Shella tersenyum sopan dan mengangguk kecil. “hmm.. oke. Sama pacar?” lagi-lagi Shella hanya menjawab dengan senyuman sopan dan anggukan kecil. “pasti kamu istimewa banget ya, sampai pacar kamu setia banget jemput kamu meskipun tengah malam gini” Shella hanya tertawa kecil. “okelah, Shel. Saya duluan ya”



“oh, iya mas. Hati-hati dijalan” kata Shella yang akhirnya buka suara.



“iya, terimakasih Shella. Kamu juga hati-hati ya.” Kata orang itu sambil berlalu.



Rahma terkikik-kikik kemudian menghampiri Shella “eh, bu. Si Mas Rama gak ada menyerahnya ya. Keliatan banget dari dulu, usahaaaa banget ngedeketin lo. Tapi lo nya juga kayak gunung es ya sama dia, cuek banget”



“hahaha, rese lo, ma. Gw kan emang tipe cewe setia. Lagian orang kayak dia itu terlalu serius gimanaaa gitu. Males gue. Gak humoris. Kebayang gak sih, kalo gw ngedate sama dia tapi yang diomongin topiknya kerjaan juga?” kata Shella sambil memutar bola matanya.



Rahma terkikik lagi mendengar penjelasan Shella. Kemudian melihat mobil sedan hitam memasuki lobi. Rahma menyenggol Shella. “udah dijemput tuh, Shel”



Shella tersenyum melihat mobil sedan itu “Ma, gw duluan ya. Telpon tuh si Yudha, lama banget jemputnya”



“hahaha beres buu. Hati-hati ya. Salam buat Demian.”



“beres” kata Shella kemudian masuk ke sedan hitam tersebut kemudian membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya “daaah, Ma…”



“daaah” Rahma membalas lambaian tangannya.



 



...bersambung


Baca Juga

Terhalang Ruang

oleh: Audi Ariaji Harahap

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 368
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

60 Bulan yang lalu

oleh: elize

Jika kau pernah merasakan ciuman seseorang yang begitu hangat dirasa tetapi pahit untuk dikenang, mu....

  • 301
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

BGTS: Hand of God

oleh: bintangpena

Be Gins the series

  • 1033
  • 0
  • 1
  • 0
  • Serial
Karya Lainnya dari irnabonbon

Mendidik Indonesiaku by Jamaluddin

oleh: Irna Bontor Febyola

Lelang Buku Bayar Karya di group Love Books A Lot Indonesia (@LoveBooksALot) dengan tema: Mendidik I....

  • 661
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Hitam

oleh: Irna Bontor Febyola

semuanya sudah berubah.. hitam

  • 620
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Born for you

oleh: Irna Bontor Febyola

terinspirasi dari lirik Kamu yang kutunggu - Rossa ft. Afgan.. segalanya berakhir, ketika kamu tahu....

  • 500
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek