Ku tinggalkan dia, demi DIA

olehindryastie Diterbitkan 7 February 2014

Ku tinggalkan dia, demi DIA


Aku tengah duduk di sebuah bangku kereta, mengamati pemandangan sungai kecil dan lahan pertanian yang hijau dari balik jendela. Kali ini aku akan meninggalkan Jakarta untuk waktu yang lama demi menjaga perasaanku yang selalu tak bisa melupakannya. Disebelahku duduk seorang sahabat yang sengaja mengantarku ke kota tujuanku Yogyakarta. Dia akan menghabiskan waktunya sejenak bersamaku untuk mengisi hari liburnya.



Bagiku, waktu yang terlewati saat kereta api berjalan itu dapat membuatku kembali mengenang masa lalu bersama Abang. Aku seperti mengumpulkan puluhan kisah bersama dengannya seiring bersama laju kereta api. Tanpa ku sadari, air mata telah membasahi pipiku.



©©©©



Entah sejak kapan ia mulai masuk kedalam relung hati ini, yang jelas ia mulai mengobati rasa sakit hati yang aku rasakan karena Surya, cinta dimasa laluku. Kami bertemu melalui jejaring sosial, facebook! Tanpa pernah bertemu dan tanpa pernah melihat wajahnya. Tapi ternyata, dia adalah seorang lelaki yang pernah aku kenal waktu duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama. Yah, dulu kami satu sekolah dan kami pernah sekelas. Tapi, dulu kami tak pernah dekat seperti saat ini.



Aghasi, laki-laki yang telah masuk kedalam relung hatiku. Seorang laki-laki yang telah membuat aku jatuh cinta padanya, bahkan pada dirinya yang belum pernah kutemui lagi sejak bertahun-tahun yang lalu.



Melalui wall, chat, comment status atau bahkan melalui games online yang ada di facebook kami mengobrol. Yah, komunikasi yang terjalin dengannya lebih banyak kuhabiskan di facebook. Mungkin ini yang namanya cinta dunia maya. Tapi, aku tak mau melakukan cinta itu. Tidak!!



Ku beranikan diri untuk mengajaknya ber-kopi darat. Tapi sepertinya, kata-kata itu lebih pantas untuk dua orang atau lebih yang belum pernah bertemu sama sekali. Sedangkan aku dan dia sudah pernah bertemu dalu. Bahkan kami teman sekelas.



Dengan segala keyakinan, akhirnya aku mengajaknya. Dan dia, hanya menanggapi ajakanku sebagai sebuah gurauan belaka. Apa yang harus aku lakukan? Ku coba untuk meyakinkannya kalau aku serius. Hingga pada akhirnya dia mau menerima ajakanku. Sungguh aku tak sabar menanti hari itu tiba.



Di ujung jalan itu, enam November 2010 aku bertemu dengannya. Cililitan besar menjadi saksi tempat kami bertemu pertama kali. Tujuan kami adalah Monas karena di Monas kami bisa saling mengenal lebih dekat sekaligus bisa menikmati suasana kota Jakarta. Tak ada kesan yang istimewa saat aku melihat rupa aslinya. Dia hanya seorang laki-laki biasa dengan tinggi yang menjulang, memakai jaket biru dengan jeans biru, dan dengan rambut curly yang sedikit berantakan akibat ngebut naik sepeda motor, akunya. Seorang lelaki yang pendiam, dan selalu menjaga pandangannya. Entahlah.



Terkadang, aku merasa tak dihormati karena dia tak pernah menatapku saat kami sedang berbicara. Bahkan, saat aku menatapnya yang sedang berbicara, dia juga nampak acuh padaku. Apa yang harus aku lakukan ??



Mungkin, itu adalah caranya untuk menjaga pandangannya. Tapi untuk apa ? Bukankah kami hanya berteman saja? Atau dia merasakan sesuatu saat bertemu denganku ? Aku tak pernah tahu akan hal itu, biarlah ini menjadi rahasianya.



Hari itu, aku hanya memfokuskan diri pada hatiku yang semakin yakin untuk memilihnya. Aku belajar untuk lebih mengenalnya, mengenal sosok laki-laki yang sedang bersamaku. Tapi, aku tak bisa mendapatkan keistimewaan dari dirinya. Hingga akhirnya aku sadar betapa ia menjaga pandangannya dan disetiap gerak geriknya ia selalu menghormatiku dan menjagaku sebagai seorang wanita.




Tuhan, laki-laki yang sesederhana inikah yang Engkau kirimkan untukku ??



©©©©



Hari terus berlalu, hingga aku yakin bahwa hati ini benar-benar memilihnya. Semakin hari, hubungan kami semakin dekat, dan dia semakin sering untuk sekedar mengomentari status-statusku yang tidak penting. Hingga akhirnya hal itu terjadi. Aku mendapat pesan via facebook dari seseorang yang tidak menyukai kedekatanku dengan Abang. Yah, Abang adalah panggilan kesayanganku untuknya.



Aku tak tahu pasti siapa orang di ujung sana yang melakukan hal itu padaku. Apakah dia seorang wanita yang mengagumi Abang seperti aku, atau dia seorang laki-laki? Tapi, untuk apa seorang laki-laki menerorku seperti itu? Entahlah!!



Segenap cara ku fikirkan untuk mengetahui segalanya tentang manusia unreal itu. Tapi, aku tak tahu dan tak pernah tahu. Akhirnya ku putuskan untuk memberi tahu Abang mengenai hal ini. Aku hanya menyuruhnya membaca blog pribadiku karena semua caci maki yang dikirimkan manusia unreal kepadaku melalui pesan di facebook  aku copy paste ke dalam blog pribadiku itu.



Setelah membaca postinganku itu, Abang langsung menelepon dan bertanya semuanya. Nada suaranya terdengar seperti orang yang terkejut dan emosi. Yah, siapa yang tidak emosi kalau mendapat pesan singkat dari seseorang yang isinya menjelek-jelekkan diri kita??



Aku tak tahu, dia tak tahu.. dan hingga kinipun, kami tak tahu siapa dia, makhluk unreal di facebook itu!!



Yah, pada akhirnya si unreal sukses membuat hubungan antara aku dan Abang menjadi merenggang. Abang semakin manjaga jarak. Kami jarang chatting, Abang jarang bahkan hampir beberapa bulan Abang tak pernah mengkomentari status-statusku. Apa yang terjadi pada dirinya ??



Jujur, aku rindu akan sikap Abang yang dahulu. Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kedewasaan padaku. Mungkin Tuhan sedang menguji perasaanku.



©©©©



Aku tak pernah patah arang, dan aku tetap menjadi diriku sendiri. Aku tak pernah memperdulikan manusia unreal itu. Aku bahkan tak peduli kalau harus ada manusia unreal muncul di facebook-ku untuk yang kesekian kali. Karena dia hanyalah sosok pengecut yang hanya bisa mengancamku tanpa berani menampakkan dirinya dihadapanku.



Usahaku sedikit membuahkan hasil. Abang sedikit demi sedikit kembali menjadi sosok seperti dahulu, walau tak bisa sepenuhnya seperti dahulu. Dan untuk sekali lagi aku mengajaknya untuk jalan. Tapi kali ini tak hanya berdua, karena kali ini beberapa temanku ikut dalam acara jalan-jalan itu. Masih ke tempat yang sama, Monas!



Kujumpa dia berikutnya, suasana berbeda dan getaran itu masih ada. Aku dekati dirinya, kutatap wajahnya dan dia tetap mempesona. Mungkin beberapa bait lagu ini cocok untuk menggambarkan perasaanku saat itu. Saat bertemu dengannya untuk yang kedua kalinya. Tak seperti saat pertama bertemu, Abang terlihat lebih rapi, rambut curly-nya sudah tak nampak berantakan lagi. Tapi dia tetap pada dirinya yang tak banyak omong. Dan aku semakin menyukainya. Tuhan, ijinkan dia menjadi pelabuhan cintaku.



Betapa senangnya aku hari ini, bersepeda berdua dengannya berkeliling Monas. Bercanda, tertawa bersama, makan bersama, merangkul tangannya, kejar-kejaran seperti anak kecil dengannya, dan lari-larian di tengah hujan gerimis yang turun malam itu. Walau terkadang aku merasa kalau Abang hanya melakukannya dengan setengah hati. Tapi dihari itu aku merasa kalau Abang adalah pacarku, pacar sehari tepatnya!



Kalau aku boleh memohon dan meminta, ijinkan aku berhenti sejenak dan kembali pada hari itu, untuk menikmati indahnya hari bersamanya. Tapi sampai kapanpun aku takkan sanggup kembali ke hari indah itu. Namun, hari itu akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidupku bersamanya.



©©©©



Aku merasakan betapa dalam perasaanku padanya hingga akhirnya aku terjatuh pada perasaanku sendiri. Dia, Hestio Aghasi dengan segala aktivitas yang dilakukannya di facebook dan dengan segala sesuatu yang dia suka atau yang tak disukai dapat aku lihat dari account facebook miliknya.



Suatu hari Abang meng-like salah satu page berjudul " ijinkan aku menikah tanpa pacaran". Tuhan, mungkinkah ini caranya menolakku? Tuhan, baru sebentar saja aku merasakan cinta yang Engkau anugerahkan padaku, tapi mengapa kini aku terjatuh begitu dalam pada anugerahmu itu. Apa yang harus aku lakukan Tuhan ? Haruskah aku bertanya langsung kepadanya mengenai maksud dan tunjuannya meng-like page tersebut ?



Tidak!



Aku tak ingin bertanya mengenai hal itu padanya, karena hal itu sama saja mengakui kalau aku menyayanginya. Tidak, aku tidak akan mengatakan atau bertanya apapun padanya.



Ku coba membaca note-note yang ada pada page tersebut. Satu persatu ku baca dan kuresapi makna disetiap kata demi katanya. Ya Tuhan, Laki-laki seperti apa dia...



Di dunia seperti ini, masih adakah laki-laki seperti itu Tuhan ??



Aku tak pernah tahu apa yang dilakukan Abang setiap harinya, tapi aku bisa mengetahui segala aktivitasnya lewat facebook miliknya. Yah, aku melihat segala activity yang dia lakukan. Entah membaca komentarnya di status orang atau sekedar membaca komentar-komentar di statusnya yang membuat aku yakin, dia bukan laki-laki seperti kebanyakan teman laki-laki yang dekat denganku.



Mengapa aku bisa yakin ?? Entahlah, aku yakin dan setuju dengan kata-kata yang tertulis di kolom komentar yang ditulis teman-temannya itu. Dan, ketika aku menatapnya disaat dia berbicara, aku tak sedikitpun melihat kebohongan dimatanya. Apakah aku sedang dibutakan oleh cinta ??



Tidak!



Aku yakin bahwa dia adalah laki-laki yang baik. Kini, yang menjadi pertanyaan di benakku adalah, “ apakah aku seorang wanita yang baik ?? “



Mengapa ??



Karena seorang wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Itulah janji Tuhan dalam surat An-Nur :26. Aku berkaca pada diriku sendiri, apakah aku seorang wanita yang baik untuknya ??



Kurenungi setiap hal yang kubaca dari notes yang ada di page itu, sungguh aku merasa malu dengan apa yang telah aku lakukan bersamanya.



 



©©©©



 



 





Duhai Abang …



Namamukah yang tertulis di lauh mahfuz[1] sana sebagai jodohku ?? Engkaukah yang akan menemaniku di titian jalan menuju syurga ?? Dirimukah yang akan melengkapkan separuh dari agamaku ?? Aku dan kamu tak akan pernah tahu kepastian jawaban dari serentet pertanyaanku ini, karena jawaban dari pertanyaan ku ini ada pada Tuhan, bukan dihatiku dan hatimu. Dan jika kamu tercipta bukan untukku, haruskah aku marah kepada Tuhan, tentu tidak!



Tahukah kamu, hatiku gelisah memikirkan kamu, takut kehilangan kamu, terbayang betapa beratnya ketika kamu tiada, menjalani hari-hari tanpa sms darimu, melewati waktu tanpa mendengar suaramu, tak ada lagi gelak tawa, canda dan nasehat yang kerap hadir di perbincangan kita melalui chat di facebook. Namun ketakutan ini mengalahkan ketakutanku kepada Tuhan, aku takut Dia murka karena aku menikmati yang bukan hakku, takut murka Tuhan karena jantungku yang berdegup kencang telah aku isi dengan bayangan kamu yang bagai hantu mengikutiku kemanapun aku pergi ada kamu dihati ini, padahal detak jantung ini titipan Tuhan yang harus aku pertanggungjawabkan.



Sesungguhnya Tuhan takkan pernah menyia-nyiakan pengorbanan kita, bila kita tinggalkan semua ini karena Tuhan, yakinlah akan hadir sesuatu yang indah di hari akhir nanti, bukankah kamu pernah berkata, ketika kita mengejar akhirat maka dunia akan mengikuti “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi [ikhlas] puas” (QS. Ad-Dhuhaa : 4-5)



©©©©



Kini aku tinggalkan dirimu karena Allah, aku kembalikan kamu kepada pemilikmu, aku titipkan ikhwan terbaik yang pernah hadir dalam hidupku ini kembali kepada pemilik sesungguhnya, Allah. Sesungguhnya kita harus bertawakal kepada Allah bukan? iya bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.



Dan ketika kamu merasa lemah, mohonlah kekuatan dari-Nya, kamu intan terpilih, mutiara pilihan Allah, jagalah kilaumu jangan biarkan cinta dengan keindahan fisikpun akan merusaknya, aku berdoa untuk kamu, selalu. Mari kita berlari mencari cinta Allah, berlomba-lomba berbuat kebaikan agar dimata Allah kita pas untuk dipasangkan, jika saatnya tiba semua halal untuk kita, ini adalah hasil dari upaya kita mengejar cinta Allah.



©©©©



Kudengar alunan sebuah lagu yang tak asing di telingaku. Ponselku berdering, kulihat ada panggilan masuk dari Shabrina Adelia, yang sedari tadi duduk disebelahku telah berhasil membuyarkan semuanya.



“ Ish, iseng aja sih lo… Kaget nih! “, aku sedikit kesal padanya.



“ Abis, dari tadi gue di kacangin. Lagian, lo kenapa sih Zhia ?? “, tanyanya sambil memprotes diriku. “ Hei, Fauzhia Rahmawati ?? “



 “ Iya, gue nggak papa kok Del. Gue cuma kangen sama nyokap. Nggak kebayang deh gimana hidup gue di perantauan tanpa nyokap. “, jelasku.



Adelia hanya tersenyum melihatku, aku yakin dia tahu apa yang sedang aku rasakan dan aku fikirkan. Aku tak banyak bicara karena masih merasakan sakit yang amat dalam ketika memutuskan untuk menghilang dari hadapannya dan menjauhinya.



Aku meninggalkan Jakarta dengan segala kenangan indah bersama Abang. Dengan segala keindahan itu, aku harap tak akan merasakan sakit yang begitu dalam, tapi ternyata aku salah. Aku pergi dengan membawa rasa sakit yang amat dalam apalagi tanpa memberitahukannya tentang perasaanku padanya. Mengapa berat ungkapkan cinta padahal dia ada ?? Karena aku yakin Abang tahu akan perasaanku padanya dan karena akan ada saat yang paling tepat untuk mengungkapkan cinta pada sang kekasih hati. Entah kapan, tapi yang jelas saat itu pasti akan tiba.



“ Fauzhia, Lo harus inget tujuan lo kesini, selain untuk melupakan dia pastinya. Gue yakin kok, seiring banyaknya tugas dan aktivitas di kampus baru, lo pasti bisa melupakan dia. “, hibur Adel sambil memelukku dengan erat.



“ Bukan untuk melupakan dia. Tapi untuk mengembalikan rasa yang telah di anugerahkan Tuhan sama gue. Semoga gue bisa menjalaninya dengan hati lapang dan ikhlas… “, aku terisak.



“ Gue yakin lo pasti bisa! “, Adelia menyemangatiku, “ Suatu saat nanti, jika kalian di takdirkan untuk bersama, kalian pasti akan bertemu lagi.”, lanjutnya.



©©©©



Ya Allah,



Seandainya telah Engkau takdirkan Abang bukan milikku,



Bawalah dia jauh dari pandanganku,



Luputkan dia dari ingatanku,



Dan peliharalah aku dari kekecewaan…



Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu…



Aku harap kami berdua dapat mengatakan “ betapa besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku seorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.” Aku tahu bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan.



©©©©



Kini aku akan terus menjalani kehidupanku, dikota baru dan lingkungan yang baru. Meninggalkan segala perasaanku untuknya demi Dia, Sang Pencipta. Hingga akhirnya, suatu saat nanti aku dipertemukan dengan seorang lelaki yang akan menjalani kehidupannya bersamaku demi meraih cinta dan ridho Ilahi.



Tuhan, ku kembalikan dia kepada-Mu dan ku titipkan rasa yang hadir untuknya kepada-Mu, hanya kepada-Mu lah aku kembali dan hanya Engkaulah yang Maha mengetahui segalanya.



Bismilahirohmanirohim, aku ikhlas . . . .



 



 



 



 










[1] Lauh Mahfuz : Kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/catatan kejadian di alam semesta.





 


Baca Juga

Knife and Broken Doll

oleh: bima whynot

Freya Shikamaru berusaha keluar dari kehidupan kelamnya sebagai "kontraktor independen". Akan tetapi....

  • 541
  • 1
  • 3
  • 0
  • Serial

Cerpen untuk Calon Presiden

oleh: Noor H. Dee Rex

Seorang calon presiden ingin mencoba hal baru dalam berkampanye. Ia bosan dengan cara-cara konvensia....

  • 622
  • 3
  • 5
  • 0
  • Cerita Pendek

Arti Kebahagiaan Sesungguhnya

oleh: Gita Cahyo Nomi

Kiriman pertama saya .. isi cerpen dari Irenna Nicole

  • 429
  • 1
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari indryastie

Surat Cinta Untuk Kekasih

oleh: Ry astie

andai saja aku bisa mengungkap semua kata dan rasa dalam hati yang aku punya iniā€¦, maka seribu lem....

  • 345
  • 1
  • 0
  • 0
  • Artikel

Ku tinggalkan dia, demi DIA

oleh: Ry astie

Aku belajar untuk lebih mengenalnya, mengenal sosok laki-laki yang sedang bersamaku. Tapi, aku tak b....

  • 829
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek