Sense

olehilhamark Diterbitkan 6 December 2014

Prolog

Maret 2002, Munich, Jerman



 



Pria setengah baya itu duduk di sebuah bangku reyot di pinggiran taman Ostpark. Bangku itu berderit pelan setiap kali dia membetulkan posisi duduknya. Membuatnya jengkel. Dia seakan merasa bahwa bangku itu sedang mencibirnya dan menyuruhnya untuk segera pergi dari sana.



Dia mengenakan sebuah topi fedora berwarna hitam. Dibalik topi itu rambutnya yang mulai memutih tersisir dengan rapi. Matanya asyik memperhatikan isi artikel di dalam tabloid yang ada di pangkuannya. Di sampingnya tersimpan sebuah gelas plastik berwarna hitam dengan uap masih mengepul. Uap putih itu membumbung setinggi beberapa sentimeter di udara, sebelum akhirnya terdispersi dan menghilang.



Sambil terus membolak-balik tabloid itu, kedua ujung matanya sesekali melirik segerombolan anak yang sedang bermain tak berapa jauh di depannya. Mereka terlihat asyik berlarian kesana-kemari. Berguling dan bergulat. Semua itu mereka lakukan sambil berteriak-teriak dan menjerit.



Dia meraih gelas plastiknya dengan sebelah tangan. Terdengar pekikan tertahan pada saat panas dari gelas itu terasa membakar jemarinya. Dia menghirup uap minumannya selama beberapa detik, menikmati aroma khas kopi arabica. Beberapa saat kemudian dia menyeruput sedikit minuman itu. Seketika dia mengernyitkan dahi, kemudian meludahkan minuman itu ke rumput di depannya. Seketika itu juga dia menyesal telah mengeluarkan uang lima euro untuk membelinya. Dengan segera dia meletakan kembali minuman itu di sampingnya.



Pria itu melirik jam di pergelangan tangan kanannya, memperhatikan jarum detiknya bergerak konstan sampai menuju ke angka dua belas. Setelah itu dia melihat ke arah barat. Langit tampak sudah mulai memerah di ujung perbukitan. Masih ada sekitar dua puluh menit sebelum matahari benar-benar terbenam. Masih banyak waktu. Dia kembali membaca tabloid.



“Kau seharusnya memperhatikan mereka,” sebuah suara berat menyapanya. Seorang pria yang terlihat lebih muda berdiri sambil menatapnya. Rambut cokelatnya yang panjang tampak rapi dan licin disisir ke belakang. Janggut dan kumisnya lebat, namun terurus dengan baik.



“Tanpa melihatpun aku tetap bisa mendengar lengkingan suara jeritan mereka.” Dia masih terus membaca. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman sinis. Lalu dia menyadari keberadaan sebuah koper hitam yang baru saja diletakan di sudut bangku oleh pria berambut cokelat. “Apa yang kau bawa?”



Dossier. Hanya memastikan kalau kita sedang mencari orang yang benar. Boleh aku duduk? Atau kalu lebih suka ditemani oleh gelas plastik itu?”



“Yah, setidaknya gelas ini tidak cerewet sepertimu.”



Pria berambut cokelat tak mengacuhkan komentar tersebut. Dia mengambil gelas plastik itu dengan sebelah tangan, kemudian duduk di samping pria bertopi. Sejenak dia terlihat bingung di mana harus meletakan gelas plastik itu.



“Buang saja,” gumam Pria bertopi. “Lima euro terburuk yang pernah aku bayarkan.”



Pria berambut cokelat tertawa mendengarnya. Dia kembali berdiri dan berjalan ke arah tempat sampah. Sebelum membuangnya, pria itu mencoba meminum sedikit kopi dari dalam gelas plastik.



“Ini enak. Kenapa kau tidak suka?” Dia melemparkan gelas plastik itu ke tempat sampah.



“Berarti lidahmu tidak beres.”



Pria berambut cokelat sepertinya hendak membalas, tapi tiba-tiba terdengar deru mesin mendekat dari kejauhan. Mereka berdua sontak melihat ke arah jalan. Sebuah mini van dengan motif bunga dan kupu-kupu muncul dan berhenti di tempat parkir dekat mereka.



Pria berambut cokelat menunjuk dengan dagunya. “Jemputannya datang.”



Pria bertopi mendengus. “Aku bisa lihat.”



Mereka kemudian memperhatikan bahwa rombongan anak kecil yang sedari tadi berlarian di taman mulai dibawa masuk ke dalam mobil jemputan. Anak-anak itu dipandu oleh seorang pria kurus berkemeja pink, senada dengan warna mini vannya.



“Yang benar saja? Dia pakai baju warna pink? Menjijikan.”



“Apa yang dia pakai itu bukan urusanmu kan? Sebaiknya cepat kau tunjukan yang mana anaknya.” Pria berambut cokelat terlihat kesulitan membedakan antara satu anak dengan anak lainnya.



Pria bertopi meletakkan tabloid yang dia baca di sisi bangku. “Yang di ujung sana, dibelakang bocah ingusan berkaos biru.”



“Kau yakin dia akan jadi wadah yang sesuai?”



“Kau meragukan hasil risetku? Tingkat kecocokannya di atas sembilan puluh lima persen.”



Pria berambut coklat berusaha menahan tawa, “aku hanya bercanda, Robert. Santai sedikit. Ayolah, sudah waktunya kita menjemput anak itu.” Dia berdiri dan merapikan jas yang dikenakannya.



Robert ikut berdiri. Langkahnya sedikit terseok ketika dia berjalan ke arah parkiran.



“Kau butuh tongkat jalan?” Pria berambut cokelat kembali menggodanya.



“Urus urusanmu sendiri, Vincent!”



Vincent kembali tertawa.



“Bagaimana dengan keluarga target?” Robert bertanya. Kini mereka berdua masuk ke dalam sebuah mobil Lexus hitam yang diparkir tidak jauh dari sana.



“Tenang.” Vincent menyalakan mesin mobil. “Semua sudah diurus oleh organisasi. Skenarionya adalah kebocoran gas. Pipa gas rumahnya akan meledak, tiga mayat akan ditemukan hangus terbakar dan tidak dapat teridentifikasi.”



“Tak terlacak?”



“Sama sekali tidak.” Vincent terdengar yakin.



“Kemana kita akan membawa anak itu?”



“Sementara akan kita tempatkan di Warsawa. Sampai fasilitas penelitian di Roma selesai dibangun.” Lalu Vincent tiba-tiba tertawa.



“Kenapa kau?” Robert mengerutkan kening.



“Maaf, Lucu sekali jika membayangkannya. Sekarang anak itu dengan gembira bermain di taman, nanti malam keluarganya mati terbakar bersama dengan identitas dan seluruh kehidupannya. Dan dia mungkin tidak akan melihat siapapun yang dia kenal lagi dalam waktu yang sanga-sangat lama. Malah mungkin tidak akan pernah,” Vincent tersenyum geli.



Robert menggelengkan kepalanya pelan. “Dasar sinting.”



***


Baca Juga

Chaos

oleh: Kafka On2

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 343
  • 0
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

I AM WAITING FOR YOU

oleh: ariedeltrame

Seorang laki laki yang sangat mencintai wanita, namun wanita tersebut merupakan sahabat dekat dari m....

  • 176
  • 1
  • 0
  • 0
  • Novel

Dunia Mas Bro : Semacam Novel Perjalanan Santri Konyol

oleh: muhammad zulkarnaen

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 254
  • 0
  • 3
  • 0
  • Novel
Karya Lainnya dari ilhamark

Pesan Terakhir

oleh: ilham A.R.

Ada hal terakhir yang harus dia sampaikan, sebelum semuanya berakhir

  • 502
  • 2
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

Persona

oleh: ilham A.R.

Synopsis is not available

  • 766
  • 9
  • 8
  • 0
  • Cerita Pendek

25

oleh: ilham A.R.

Synopsis is not available

  • 504
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi