Rantai

olehilhamark Diterbitkan 14 March 2014

Prolog


Yudi berlari sekencang yang dia bisa. Langkahnya kecil namun lincah, sepatu boot hitamnya melibas habis semak belukar dan dedaunan singkong yang tumbuh di bawah kakinya. Peluh menetes deras dari dahinya. Merembes sampai ke kerah kaos birunya yang kumal. Napasnya pendek-pendek dan nyaris habis. Tapi dia belum boleh berhenti berlari, setidaknya sampai dia bisa menceritakan apa yang baru saja dia temukan barusan.



“Ada!” Teriaknya kepada seorang pria yang sedang berteduh di bawah rumpun pohon pisang.



“Ketemu?”



Yudi akhirnya bisa berhenti berlari.



“Bentar..” Jawabnya kepayahan. Dia lalu membungkuk dan menopangkan tangan kirinya ke dahan pohon pisang. Napasnya sudah benar-benar habis. Dia harus mengatur napasnya selama beberapa detik  sebelum akhirnya bisa berbicara dengan normal. Sebelum itu suara yang keluar dari dalam mulutnya hanya berupa dengkingan serupa orang bengek.



“Di mana?” Tanya pria itu lagi. Dia terlihat tidak sabar.



“Di dekat tebing di ujung sana.” Yudi menunjuk ke arah utara dengan ujung dagunya. Tangannya sibuk mengusap peluh di kening dan lehernya.



“Lalu, bagaimana keadaannya?”



“Mati.”



*



Keduanya berlari-lari kecil menyusuri jalan yang baru saja dilewati oleh Yudi. Dia berjalan di depan, menjadi pemandu. Mereka terus berlari sampai jalan setapak yang tipis tidak lagi terlihat di bawah kaki mereka. Tergantikan oleh rimbunnya ilalang dan rerumputan. Pepohonan di sekitar mereka tampak menjadi semakin rapat dan rimbun. Mereka sudah hampir masuk ke dalam hutan. Setelah sekitar sepuluh menit, Yudi berhenti. Dia melihat ke sekelilingnya.



“Kamu lupa jalannya?”



“Nggak. Aku hanya mencari jalan tembus agar kita bisa lebih cepat sampai.”



Yudi kemudian belok ke arah kiri, masuk lebih dalam ke area hutan. Di antara dedaunan di pucuk pohon, Yudi bisa melihat samar pada saat itu langit di atasnya sudah mulai berubah gelap. Di kejauhan juga sayup-sayup mulai terdengar suara kodok yang muncul ke permukaan rawa-rawa.



“Mendung. Kita harus kembali ke desa sebelum malam atau turun hujan.” Yudi merasa sedikit khawatir. Dia tidak ingin terjebak di hutan ini di tengah derasnya hujan dan tanpa penerangan sedikitpun.



"Gimana dia mati, Yud?” Pria itu tak menggubris perkataan Yudi barusan.



“Gantung diri di atas pohon. Posisinya cukup tinggi, sekitar dua meter dari tanah.”



“Mayatnya udah kamu turunin?”



Yudi menggeleng. Mana mungkin dia berani? Tiba-tiba dadanya berdegup dengan kencang. Pemandangan yang dia lihat tadi cukup mengerikan. Dia hanya bisa berbalik dan berlari pada saat menemukan jasad yang tergantung di pohon itu.



“Kenapa kita nggak langsung panggil penduduk desa yang lain?” Dia sebenarnya enggan harus kembali lagi ke tempat tadi.



“Nanti, sebaiknya kita urus dulu mayatnya. Gawat juga kalau penduduk desa nanti histeris ngelihat mayat dia. Di sebelah mana kamu menemukannya?”



“Di balik bukit itu, ke arah sungai.” Yudi menunjuk ke arah depan.



Dengan sedikit susah payah mereka berdua berhasil naik sampai ke atas bukit. Dari puncaknya Yudi bisa melihat matahari yang bersembunyi malu-malu dibalik tebalnya awan mendung di ujung langit sana. Dia juga bisa melihat hamparan lembah sedalam puluhan meter yang menjadi pembatas wilayah desa dengan belantara di luar sana. Dari dasar lembah dia bisa mendengar samar suara derasnya aliran sungai yang menghempas dinding lembah tiada henti.



“Aliran sungai belakangan ini tambah deras saja..” Bisiknya kepada diri sendiri. “Lewat sini.” Lanjutnya. Yudi memandu orang itu menuruni jalan sempit dan curam sampai ke bibir tebing. Beberapa kali dia nyaris terpeleset.



Mereka sampai di bawah sebuah pohon jambu air.



Yudi menunjuk ke atas. Pria itu mengikuti arah telunjuknya. Benar saja, sekitar dua meter di atasnya, di sebuah dahan yang cukup besar, menjuntai sebuah rantai berwarna merah, ujung rantai itu mengikat leher seorang remaja pria. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot, lidahnya terjulur keluar.



Terdengar suara gemerincing rantai ketika tubuh kakunya berayun pelan tertiup oleh angin.



“Astaga..” orang itu terlihat terkejut.



Yudi tersenyum kecut melihat ekspresi pria itu. “Sekarang gimana?”



“Sebaiknya kita turunin dulu dia. Kamu bisa manjat pohon?” Tanyanya sambil menoleh ke arah Yudi.



Yudi menggeleng. Dia bukannya tidak bisa, tapi enggan. Dia malas berdekatan dengan jasad remaja itu. ditambah lagi suara gemerincing rantai yang mengalungi lehernya membuat bulu kuduk di tengkuknya berdiri.



Pria itu menghela napas, seperti sudah menduga jalan pikiran Yudi. Tanpa banyak bicara lagi dia melompat ke dahan tertinggi yang bisa dia gapai. Dari sana dia perlahan merangkak naik. Yudi memperhatikannya dari bawah. Dadanya kembali berdebar, dia seakan sedang melihat napak tilas perjalanan remaja itu untuk sampai di atas dahan tempatnya bunuh diri.



Tak sampai lima menit dia sudah duduk di dahan tempat rantai itu terikat. Dia  kemudian berusaha untuk melepaskan ikatan rantai merah yang melilit di dahan itu. Tapi ternyata sia-sia.



“Ujung rantai itu diikat gembok.” Dari bawah Yudi menunjuk gembok kecil berwarna kuning.



“Pinjam belatimu!” Dia berteriak dari atas.



“Nggak akan kuat buat motong rantai.”



“Aku mau potong dahannya.”



Yudi mengangguk. Baru terpikir olehnya ada juga cara seperti itu.



Pria itu turun ke dahan yang lebih rendah. Yudi menghampirinya, dia meraih pisau belati yang tersimpan di dalam sepatu bootnya, seraya menyerahkan belati itu ke tangannya.



Orang itu kembali ke atas. Kemudian mulai memotong dahan.



Setelah sekitar lima menit, terdengar bunyi patahan. Orang itu kembali berteriak.



“Tangkap dia. Bisa gawat kalau mayatnya jatuh ke lembah.”



“Nggak mau.” Dia menggeleng dengan cepat.



“Kenapa kamu takut sama orang yang sudah mati sih, Yud? Ayo ke sini!”



Tak lama berselang dahan itu putus. Yudi dengan takut-takut menangkap jasad remaja itu. Dia merasakan seluruh rambut halus di badannya berdiri seketika ketika kedua tangannya memeluk jasad itu, dan juga ketika kedua mata mereka bertatapan dengan tidak sengaja.



“Bangke!” Yudi memaki, sambil membaringkan jasad remaja itu di tanah. Menatap jasad itu selama beberapa saat, sebelum kemudian mencoba untuk melepaskan lilitan rantai itu dari lehernya. Entah bagaimana dia merasa ada yang salah. Rasa-rasanya dia belum pernah mendengar ada orang yang gantung diri dengan menggunakan rantai baja seperti ini.



“Kenapa sih dia gantung diri pakai rantai?” Tanya Yudi setelah selesai melepaskan ikatan rantai dari leher remaja itu.



“...Kamu tanyakan saja sendiri padanya.”



“Eh? Apa?” Yudi tidak bisa mendengar dengan jelas. Pria itu berbicara terlalu pelan.



Yudi menoleh. Dia melihat orang itu mengeluarkan sarung tangan kain dari dalam saku celananya, kemudian mengenakan sarung tangan itu di tangan kanannya. Yudi mengerutkan kening, semakin kebingungan.



“Buat apa sarung tangan itu?”



Pria itu mendekati Yudi dengan cepat. Tanpa berkata apapun dia tiba-tiba menusukan belati yang sedang dipegangnya ke dada Yudi.



Dia tak sempat bereaksi. Dia bahkan tak sempat merasakan apapun. Dia hanya bisa melotot. Yudi merasakan pakaiannya basah oleh cairan hangat dan lengket yang keluar dari tempat belati itu menancap.



Merah.. Yudi menunduk, memperhatikan tetes demi tetes darah yang keluar dari dalam tubuhnya. Entah mengapa saat ini hanya hal itu yang bisa dia pikirkan.



Dia tiba-tiba merasa pusing. Yudi mencoba meraih ke depan, tapi pandangannya perlahan mengabur. Sesaat kemudian dia jatuh tersungkur. Semuanya perlahan memudar.



Sayup-sayup dia mendengar bisikan di dalam kepalanya.



“Aku bilang kamu tanyakan saja sendiri kepadanya di dunia sana. Jangan khawatir, Yud. Kalian berdua tak akan kesepian. Tak lama lagi seluruh penduduk desa akan pergi menemani kalian di dunia sana. Aku janji.”



Setelah itu Yudi hanya bisa merasakan kehampaan.



***


Baca Juga

Dunia Kecil Ku

oleh: Liatia Dwiyani

Seorang anak perempuan yang bernama Diva Sharmila. Ia dijuluki anak autis, padahal dia tidak autis h....

  • 636
  • 2
  • 2
  • 0
  • Serial

Cinta Tujuh Titik Kebahagiaan

oleh: penulis cantik

Senyuman aku punya dua alasan untuk tersenyum yang pertama karena aku sedang mau tersenyum dan ....

  • 79
  • 1
  • 0
  • 0
  • Serial

Rubi di Sarang Lelaki

oleh: Noury Hasan

Rubi, permata merah delima kesayangan Ayah terjebak di sebuah STM di mana anak perempuan adalah makh....

  • 1118
  • 0
  • 0
  • 0
  • Serial
Karya Lainnya dari ilhamark

Rembulan

oleh: ilham A.R.

Synopsis is not available

  • 513
  • 0
  • 1
  • 0
  • Puisi

Pesan Terakhir

oleh: ilham A.R.

Ada hal terakhir yang harus dia sampaikan, sebelum semuanya berakhir

  • 469
  • 2
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

Tebing

oleh: ilham A.R.

Synopsis is not available

  • 564
  • 6
  • 5
  • 0
  • Cerita Pendek