Khatarsis

olehibenk Diterbitkan 19 September 2013

Khatarsis


 



Ini sebetulnya adalah lembaran kelima dari cerita kali ini. Kelak kukirimkan padamu lagi, ran.  Tapi empat lembaran itu ternyata berakhir nasibnya dalam tong sampah. Kusangka isinya bakal menjadi sebuah cerita hebat, malah hati sendiri yang digerus habis. Telah kutuliskan dalam dinding jiwaku sendiri. bahwa cerita bukanlah terjemahan hat-hati kosong yang tidak tahu kemana mesti melarikan diri. Cerita seperti itu cukuplah hanya jadi ganjal meja saja.



Engkau sudah bekerja lagi sekarang, mana ada waktu untuk membaca cerita-ceritaku lagi. Ah kubayangkan engkau memakai pakaian kerja, engkau menjadi lebih hidup. Bebas dari penjara kamar dan gemulai sapu yang mesti kau gerakkan setiap pagi. Engkau sungguh cantik. Bahkan lebih dari itu.  Engkau mesti tahu bahwa hatimu masih saja menjadi menjadi misteri tersendiri. Tidak ada petunjuk apa pun yang mengantarkanku menuju kearahnya.



Tapi toh masih saja aku ingin bercerita padamu sebagai penghabisan cerita-cerita waktu lalu. Jika kau enggan membacanya, ada baiknya simpan niatmu itu sampai di akhir kalimat nanti. Tapi terserah padamu saja. kau buang di tong sampah juga tidak apa-apa. Anggap saja sebagai teman untuk empat lembar hati-hati kosong yang kubuang tadi.



Cerita tentang seorang ibu. Ah. Kau pasti tidak akan beranjak dari tempatmu.



Jika kau ingin berbicara banyak hal, ada baiknya kau temui seorang ibu. Karena dia adalah penyimak cerita yang paling baik. Begitu pun sebaliknya, jika kau ingin menjadi penyimak yang baik. Temui seorang ibu. Bisa tetanggamu, atau ibumu sendiri.



Setelah menimang masak-masak. Bukan tentang manusia yang menghabiskan waktunya di depan layar monitor. bukan pula tentang wanita dangdut yang ditipu mentah-mentah seorang Cassanova. Atau seorang pesulap yang kesepian setelah ditinggal pergi istrinya. Aku ingin bercerita tentang ibu kekasihku sendiri.



Kutaksir umurnya lewat 60 tahun. Berambut pendek dan berkacamata cukup tebal. Aku selalu ingat senyumnya. Senyumnya adalah pemberian izin bahwa anaknya boleh kubawa pergi malam minggu ini. Senyumnya juga adalah tanda kecaman ketika anaknya kupulangkan di atas jam 10 malam. Jika kemudian tidak ada kopi disuguhkan padaku, itu berarti malam minggu nanti, cukuplah ruangan depan saja yang jadi pelepas rindu.



Di depan teras rumahnya yang bercat hijau, sementara anak gadisnya menyeduh kopi di belakang, Ada cerita darinya, yang kelak jadi cerita juga untukmu.



“ Bagaimana ibu bisa nikah dengan alhamrhum bapak ?”.



Sebetulnya aku sendiri tak menyangka mengapa pertanyaan itu yang dilontarkan. Mata sang ibu melotot di bawah kacamatanya. Aku nyengir sambil garuk-garuk kepala. Nasi sudah jadi bubur.



“ ah. Ibu kira kau akan menanyakan kapan tanggal baik untuk melamar anak ibu!”.



Aku terbatuk-batuk.  Selain suka menyimak, ternyata seorang ibu tahu bagaimana membuat kursi yang kududuki menjadi panas.



Sang ibu tersenyum lagi. Kali ini tanda itu kuartikan sebagai sebuah guyonan yang satu waktu bisa berubah maknanya menjadi kepastian.



Lalu mengalirlah cerita bersama gigitan nyamuk-nyamuk di kakiku. Segala waktu kuserahkan padanya. Begitu menarik. Tanpa sadar aku menyimak semuanya. Sampai aku lupa, bahwa misiku hari itu adalah mengajak anaknya untuk menghitung bintang-bintang di atas danau.



***



“Aku suka ibumu. Malah mungkin, jangan marah, aku lebih menyukai ibumu ketimbang kamu”.



Suatu malam, anak gadis itu tersenyum. Senyum yang sama dengan ibunya. Tanda yang sederhana : Tidak masalah. Matanya yang sayu menengadah ke awal gelap. Telunjuknya menari kesana-kemari. Menyentuh bintang satu persatu. Dalam hati kulemparkan sebuah doa. Jangan hujan malam ini.



Ketika sampai pada hitungan bintang ke lima puluh delapan. Aku menemukan cahaya dalam diriku sendiri. cahaya yang asing. Datang dari rumah berwarna hijau itu.



Kurebahkan diri diatas rumput di pinggir danau itu. Sementara anak gadis sampai pada hitungan ke delapan puluh sembilan. Alam pikiranku terbang melayang. Entah mengapa, ketika itu, aku membayangkan sebuah keluarga yang hangat. Seorang bapak, seorang ibu, beberapa anak kecil. Kehangatan yang sederhana. Senyum-senyum yang selalu menawarkan tanda-tanda.



Mengenai cerita pernikahan sang ibu, lain kali kuceritakan, ran. Tidak di pinggir danau ini. Aku takut anak gadis itu cemburu.



***



 



Malam-malam berikutnya. Ada banyak malam selain malam minggu. Aku lebih sering mengunjungi rumah bercat hijau itu. Duduk dibangku teras depan, mengambil posisi sebelah pojok. Mengapa sebelah pojok ? tidak terlalu penting. Mungkin sekedar untuk menyadarkan diriku, bahwa seberapa sering pun aku berkunjung, seberapa banyak pun percakapan di teras itu, aku tetaplah masih sebatas tamu.



Ibu itu  tetap berada di sana.



“ bapak dan ibumu masih ada ?” tanyanya memulai percakapan.



Kujawab apa adanya. Kuceritakan padanya bahwa ibuku tinggal bersamaku, menyewa ruangan 3 petak di kota itu. Sementara bapakku, tetap tinggal di kampung lereng gunung untuk mengurusi beberapa petak kebun singkong dan beberapa ekor kambing titipan milik seorang boss besar di kota Bandung.



Sang ibu manggut-manggut. Senyumnya kali ini ingin lebih banyak tahu. Kuceritakan lebih banyak tentang pekerjaanku, keluargaku, semua hal yang dia tanyakan. Bahkan sampai pada pertanyaan kapan anak gadisnya dilamar, aku berikan sebuah tanggal.



Kami terus bercakap-cakap. Jam yang tengah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tidak menjadi halangan. Ketika itu, kurasakan posisiku bergeser sebagai tamu. Dia memandangku lebih dari itu. Cahaya asing dalam rumah bercat hijau itu, aku rasa berasal dari sang ibu. Banyak kehangatan di dalamnya. Memiliki bentuk cahaya yang mirip dengan ibuku sendiri. Tapi sang ibu ini sedikit berbeda. Cahayanya tunggal tanpa perlindungan seorang suami. Tetapi di ruangan tengah rumah itu, aku mendengar suara derai tawa ketujuh anak-anaknya. Begitu hidup. Begitu lepas. Kehangatan yang mustahil diciptakan bentuk keluarga yang tidak mengenal bapak. Atau mungkin, cahaya itu, sebetulnya berasal dari anak-anaknya sendiri ?



“ Anak ibu yang kedua menikah dengan lelaki ambon. Mereka tinggal di rumah ini juga. Anaknya ada dua. Keduanya perempuan. yang kamu ajak beli martabak tadi itu anaknya yang sulung. Masih sekolah SMP. Yang paling kecil yang rambutnya keriting. Kalo yang bocah laki-laki tadi. Itu cucu ibu dari anak ibu yang pertama. Suaminya orang sini juga. Anak ibu meninggal dua orang. Satu lelaki satu perempuan. nanti kalau sempat, menjelang lebaran, kamu ikut saja keluarga ibu ziarah ke makam bapak juga anak-anak ibu…..”.



Meskipun ada kesedihan di dalamnya, cerita itu tetap menarik. Sambil menyimak, kucoba mengingat semua cerita tentang anak-anaknya. Karena kelak, mereka menjadi keluargaku sendiri.



“ Pernikahan kalian nanti, jangan sewa gedung segala, halaman rumah ini cukup luas. Lain kali, ajak ibumu ke rumah ini”.



***



Tetapi, bukan cerita itu yang banyak kuingat, ran. Melainkan kekecewaan di wajahnya. Wajah yang selalu tersenyum itu, membayang watak ketegasan yang lebih kentara ketimbang alur penuaan di wajahnya. Seorang ibu yang mengingatkanku pada sebuah cerita dalam bis kota. Cerita yang pernah kukirimkan padamu (dalam cerita itu, dalam sebuah bis kota, ibu itu duduk tepat di depanku).



Berminggu-minggu aku masih rutin mengunjungi rumah itu. Semuanya baik-baik saja. aku merasa sudah menajdi bagian keluarga itu. Sampai satu waktu, dalam naungan kehangatan keluarga itu, aku malah merasa dingin sendiri. aku terjebak dalam naungan yang kubuat sendiri. segala yang ada didalamnya hanyalah kegelapan.



Ah. Membayangkannya saja membuatku beku. Tapi cerita ini mesti sampai padamu. Seperti cerita-cerita yang lalu.



Ruangan depan. bukan di teras depan lagi. Sementara anak gadis di ruangan dalam bersama keluarga yang lain. Kali ini ada juga cerita. tetapi lebih banyak aku yang mengeluarkan kata-kata.



Kuutarakan banyak hal padanya. Sampai jauh malam. Sepasang mata dibawah kacamatanya sekali waktu menatapku lekat-lekat. Lain waktu menatap kanvas foto suaminya yang digantung di tembok sebelah kanan ruangan depan. ketika itu, aku rasa, apa pun yang kuungkapkan padanya, semata hanyalah berisi pengakuan dari lelaki yang tidak sanggup memenuhi janjinya.



Tanggal yang dinantikan itu, hilang bersama kerinduanku untuk menjadi bagian keluarganya. Tapi bagaimana lagi, yang sanggup kuingat ketika itu, hanyalah berusaha jujur tentang diriku sendiri.



 



***



Ran. Cerita ini aku rasa mesti ditulis ulang. Bercerita kali ini seperti menimbulkan kembali kesalahanku yang lama. Ada baiknya nanti kukirimkan lagi, setelah kutemui kembali ibu itu.



Tapi untuk apalagi ? menelponnya ? bukankah perpisahan itu sudah diucapkan setahun yang lalu. Rumah itu pun sudah tidak bercat hijau lagi. Anak gadis itu pun kurasa tidak lagi menghitung bintang-bintang di atas danau.



Cerita ini sebetulnya untuk ibumu. Karena engkau tidak lagi membaca. Engkau lebih banyak bekerja.



 Beri aku waktu untuk membuat cerita yang lebih baik untuk ibumu.



 



Selamat Tidur



 



 



212.



 



 



 


Baca Juga

Tukang Hukum

oleh: Ichwan Bustomi

Cerpen tentang pahlawan keadilan.

  • 598
  • 1
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek

Menyeruput Senja

oleh: Melin Nda

Sebuah balada yang tumpah di saat senja mulai meregang.

  • 371
  • 0
  • 2
  • 0
  • Lainnya

just one message

oleh: alva bulan

hanya satu pesan dan itu sangat berharga untukku indra : kamu tau kan ? semoga .

  • 396
  • 2
  • 3
  • 0
  • Serial
Karya Lainnya dari ibenk

Cai Panon

oleh: Ibenk Sablenk

Lelaki Gigollo dan adiknya yang santri, berlomba untuk menangis.

  • 571
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Khatarsis

oleh: Ibenk Sablenk

Dalam sebuah keluarga, kutemukan kehangatan dan cahaya yang asing dari seorang ibu dan anak gadisnya....

  • 524
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Iblis Penculik Tanpa Bayangan

oleh: Ibenk Sablenk

Warga sebuah desa bahu membahu untuk melindungi keselamatan gadis anak kepala desa dari sasaran penc....

  • 615
  • 2
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek