Iblis Penculik Tanpa Bayangan

olehibenk Diterbitkan 16 October 2013

Iblis Penculik Tanpa Bayangan


 



Warga Desa Bambu Ireng tengah dalam kondisi siaga. Puluhan obor dipasang mengelilingi rumah besar kepala desa. Beberapa pemuda dan tetua desa berjaga melingkari rumah. Masing-masing membekal sebilah golok dipinggangnya. Sementara di atas pohon, empat penjuru rumah, pada masing-masing cabang yang terlindung dari cahaya obor, mendekam empat sosok penjaga sambil mengarahkan busur dan anak panah ke daerah sekitar rumah besar. Sang kepala desa, Ki Bangun Jagra, beserta beberapa orang kepercayaannya berjaga di depan pintu rumah besar. Di punggung Ki Bangun, terselip sebilah pedang panjang berwarna perak. Bayangan kekhawatiran terlihat jelas di wajah sang kepala desa.



Di dalam rumah besar, pada sebuah kamar luas yang seluruh jendelanya tertutup potongan-potongan papan melintang, terduduk di tepi ranjang, seorang gadis cantik bernama Putri Hapsari, sembari memeluk ibunya. Sang ibu membelai rambut anak gadis semata wayangnya itu. Berusaha menenangkan meskipun dalam dirinya lebih banyak ketakutan. Sang ibu tidak ingin anak yang disayanginya menjadi korban penculikan berikutnya.



Belakangan ini, di sepanjang kampung-kampung pesisir pantai utara, tersiar kabar munculnya seorang iblis penculik para gadis cantik. Orang-orang menjulukinya Iblis Penculik Tanpa Bayangan. Penculik itu menculik seorang gadis paling cantik dari setiap desa. Tidak ada satu orang pun yang pernah melihat seperti apa tampang penculik itu. Semuanya serba misteri. Kecuali sebatang paku panjang berwarna kuning dengan hiasan bendera putih bergambar setangkai bunga tanjung. Tanda pengenal si penculik yang selalu di tinggalkan di tempat kejadian.



Desa Bambu Ireng adalah desa paling ujung dari rentetan desa sepanjang pesisir pantai. Semua gadis-gadis cantik dari desa-desa tersebut telah mendapat giliran. Putri Hapsari, anak gadis semata wayang Ki Bangun Jagra adalah sasaran terakhir iblis penculik itu.



Tetapi setelah lewat satu bulan, dalam penjagaan yang terus semakin ketat. Sang penculik tak kunjung menampakkan diri di rumah besar kepala desa. Yang terjadi kemudian adalah lenyapnya beberapa gadis Desa Bambu Ireng. Satu persatu lenyap tanpa bekas.



Seluruh warga mulai kebingungan. Ketakutan semakin menjadi melanda warga. Sementara dibawah penjagaan yang ketat, dalam kamar luas dalam rumah besar kepala desa, seluruh jendela tertutup rapat papan-papan yang melintang. Putri Hapsari masih saja menangis setiap malam dalam dekapan ibunya.



***



Dalam suatu pertemuan di ruangan tengah kepala desa, seorang pria separuh baya, berkumis tebal melintang membuka pembicaraan.



“Gila. Apa maksud semua ini ? jelas-jelas anak Ki Bangun Jagra adalah gadis tercantik di desa ini. Bahkan kecantikannya paling menonjol diantara semua gadis dari seluruh desa pesisir pantai utara. Tetapi mengapa iblis penculik itu malah menculik gadis-gadis lain di desa ini ?”.



Ki Bangun Jagra mendelik. “ kau seperti berharap kalau anak gadisku yang betul-betul diculik rupanya”.



Si kumis melintang gelagapan. “ Bukan seperti itu maksudku, ki. Hanya saja aku penasaran. Apa yang direncanakan penculik itu?. Menurut kabar, penculik itu hanya menculik seorang gadis paling cantik dari setiap desa. Puluhan gadis cantik telah menjadi korbannya. Tetapi hanya di desa ini keanehan itu terjadi. Lima orang gadis lenyap mendadak. Dua orang janda beberapa hari lalu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Parahnya lagi, Nenek Juminten pun ikut raib dua hari yang lalu. Aku tidak mengerti,ki!”.



Beberapa tetua desa yang hadir manggut-manggut. Ki Bangun Jagra mengusap-usap jenggotnya.



“ Penculik ini selain lihay juga cerdik. Dia sengaja menculik gadis-gadis desa untuk memecah kewaspadaan kita. Supaya kita terjebak dengan permainannya dan termakan umpan. Ketika seluruh warga desa dilanda kebingungan dan ketakutan, maka itu saatnya dia bergerak menculik putriku”. Jelas Ki Bangun Jagra.



Seorang tetua berambut kelabu kemudian angkat bicara. Mengemukakan pendapat.



“Menurutku, mungkin bukan putri Ki Bangun yang menjadi sasaran ?”



Ki Bangun Jagra menatap tetua itu dengan mata melotot. “Maksudmu, putriku bukan gadis paling cantik di desa ini. Begitu ?”. semprotnya.



Giliran tetua berambut kelabu yang gelagapan. “ Bukan begitu,ki. Mungkin di desa kita ini, bukan gadis paling cantik yang menjadi sasaran. Tetapi gadis-gadis biasa dan para janda. Mungkin saja penculik itu menyadari bahwa penjagaan di rumah Ki Bangun sangat ketat. Dia tidak mampu menerobosnya lantas menculik gadis-gadis lain”.



Seorang tetua lain yang berambut putih uban, tak kalah ingin bicara mengemukakan pendapat.



“Menurutku, malah bisa dipastikan, sasaran sebenarnya si penculik itu adalah Nenek Juminten. Penculikan para gadis hanyalah tindakan untuk menutupi semua itu. Meskipun nenek-nenek, dulu saat masih muda, Nenek Juminten adalah bunganya desa ini”. Jelasnya mantap. Kali ini dia merasa semua yang hadir menyetujui pendapat itu. Tetapi ketika merasakan semua mata melotot padanya, tetua berambut putih menyadari bahwa pendapatnya adalah yang paling bodoh.



Ki Bangun Jagra mengangkat tangannya. “ Kita perketat penjagaan selama satu minggu ke depan. Tambah penjagaan di beberapa rumah warga yang memiliki anak gadis. Tugaskan seseorang untuk mendatangi kotaraja untuk meminta bantuan penjagaan. Saranku, tetap buka mata buka telinga. Tangkap dan tanyai setiap orang asing yang masuk ke desa ini!”.



Perintah kepala desa disambut dengan anggukan seluruh warga yang hadir.



***



Dua minggu berlalu.



Sepak terjang  iblis penculik makin menjadi. Dua orang gadis dan dua orang janda Desa Bambu Ireng lenyap ketika tengah mencuci pakaian di sungai.  Warga Desa Bambu Ireng kembali gempar. Penjagaan terus dilakukan di rumah besar kepala desa.



Di dalam rumah besar, dalam sebuah kamar luas yang setiap jendelanya tertutup papan-papan yang melintang, Putri Hapsari terus menangis dalam dekapan ibunya.



Kegemparan  juga  terjadi kembali di desa-desa lain sepanjang pesisir pantai.  Beberapa gadis, janda dan nenek-nenek dikabarkan lenyap satu persatu. Seorang pemuda yang ditugaskan untuk mendatangi kotaraja, ditemukan tewas terkapar dengan bekas tusukan senjata tajam diperutnya. Kuda tunggangannya raib entah kemana. Pemuda utusan tewas sebelum sempat meminta bantuan kotaraja. Semakin hari, nama Iblis Penculik Tanpa Bayangan menjadi nama paling menakutkan. Sepak terjangnya yang tidak bisa ditebak mengalahkan pamor para penjahat nomor wahid kotaraja.



Kepala Desa Ki Bangun Jagra bertambah geram. Jika melihat keadaan, mestinya dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan putrinya. Penjagaan tidak perlu lagi diperketat. Tapi firasatnya begitu kuat, naluri masa lalu sebagai kepala rampok Hutan Roban menyadarkan dirinya bahwa ada sebuah rencana yang tersembunyi. Dia yakin betul bahwa sasaran utama adalah putrinya sendiri. Tidak ada seorang pun penjahat yang melanggar aturannya sendiri kecuali ada hal lain yang menjadi alasan kuat. Atau mungkin ada penculik lain yang tengah gentayangan. Entahlah. Mungkin nalurinya kali ini salah. Setelah beberapa kali pertemuan dengan para tetua desa, belum ditemukan penjelasan pasti apa maksud dibalik semua kejadian ini.



Penjagaan makin diperketat. Di setiap rumah warga yang memiliki anak gadis, berdiri dua orang warga yang bertindak sebagai penjaga dengan golok tersampir dipinggangnya masing-masing. Beberapa orang nenek dan janda yang tersisa di desa itu, dikumpulkan dan diungsikan ke rumah besar kepala desa. delapan orang bersenjatakan busur mendekap dalam pohon-pohon disekeliling rumah besar. Mata mereka jelalatan kesana kemari melihat segala gerakan yang mencurigakan.



Di bagian barat rumah besar, yang bersebrangan langsung dengan aliran sungai, dipasang tali sepanjang 50 meter. Melintang tersembunyi dibalik semak-semak. Kedua ujung tali itu tersambung langsung dengan kentongan di teras rumah kepala desa. Jika si penculik muncul dari arah sungai dan menyentuh tali itu, maka kentungan akan berbunyi menandakan arah kehadiran si penculik itu.



Semua warga saling bekerjasama dan menyumbangkan tenaganya masing-masing. Setiap hari mereka bergiliran berjaga di rumah besar dan beberapa rumah warga kampung. Penjagaan utama tetap dipusatkan di rumah besa kepala desa demi keamanan Putri Hapsari.



Meskipun terharu dengan pengorbanan seluruh warga desa. Ki Bangun lebih banyak menyimpan kekhawatiran akan keselamatan putrinya. Selain itu, dirinya sebagai kepala desa merasa ditantang secara terang-terangan. Mungkin sekarang, penculik itu tengah tertawa melihat ketidakbecusan dirinya melindungi warga desa.



Malam itu, semua penjaga mencapai tingkat kewaspadaan puncak. Semua pemanah di atas pohon siap siaga. Pandangan mereka jelalatan kesana kemari berusaha menembus gelap. Mendadak, muncul semburan asap kuning dari arah barat. Perlahan asap itu mengembang dan menyungkup wilayah sekitar rumah besar. Semua penjaga mendadak diserang kantuk yang amat sangat. Tak lama kemudian, satu persatu penjaga tertidur lelap. Di depan teras, Ki Bangun dan beberapa orang kepercayaannya ikut pula jatuh tertidur.



Beberapa saat kemudian, sesosok bayangan hitam berkelebat cepat dari arah barat menuju pintu rumah kepala desa.



***



Pagi itu, Desa Bambu Ireng seolah belum lepas dari teror. Semua nenek dan janda yang dikumpulkan dalam rumah besar kepala desa lenyap. Di kamar luas putri kepala desa, pada salah satu tiang penyangga ranjang, tertancap sebuah paku panjang berhias bendera putih bergambar bunga. Putri Hapsari menangis tersedu di tepi ranjang ketiduran.



***



Braak!



Kepala desa menggebrak meja. Wajahnya kelam membesi. Para tetua yang hadir ditempat itu masing-masing mengusap dada.



“Cukup semua ini. Aku tidak tahan dengan kelakuan keparat itu. Aku merasa dipermainkan. Keparat itu berhasil masuk kamar putriku. Tetapi nenek dan janda itu yang malah jadi korban. Dia betul-betul menantangku. Kalau sampai kutemukan manusia itu, kucincang habis bagian-bagian tubuhnya!”.



Seorang tetua berusaha menenangkan. “Sabar,ki. Sabar”.



“Sabar ndasmu. Aku tidak akan tertipu dengan trik murahan seperti ini. Penculik itu memang tengah mempermainkanku. Memang putriku yang dia cari. Penculikan lain hanyalah pancingan. Tanda pengenal yang dia tinggalkan adalah bukti kepongahannya. Aku tahu dia cuma menantangku. Dia ingin memberitahuku bahwa kapan pun dia mau, putriku bisa diculik dengan mudah”.



Seorang tetua manggut-manggut. “Mengapa dia tidak melakukan penculikan itu tadi malam ?”. Seorang warga separuh baya  yang berkumis melintang menambahkan. “Mungkin memang betul,ki. Di desa kita ini, bukan putrimu yang menjadi sasaran penculikan. Penculik itu memang tidak sekali pun berniat menculik putri Ki Bangun”.



“Peduli setan. Pokoknya kali ini aku punya satu cara untuk memancing keparat itu untuk menunjukkan batang hidungnya!”.



***



Malam itu, tampak sebuah kereta yang dikawal puluhan pengawal meninggalkan gerbang desa. Puluhan nyala api obor bergoyang-goyang ditiup angin. Di belakang kereta, terlihat beberapa pesilat bayaran didatangkan untuk ikut mengawal. Di dalam kereta, Ki Bangun Jagra mendekam sembari menghunus pedangnya. Disampingnya terduduk seorang gadis dengan muka ketakutan. Gadis itu sengaja mengenakan pakaian kebaya dan kerudung milik Putri Hapsari. Ini adalah serangkaian jebakan yang disiapkan Ki Bangun untuk memancing penculik itu. Rombongan besar terlihat seperti sedang mengungsikan Putri Hapsari menuju suatu tempat.



Sesosok bayangan hitam bergerak cepat dari sebelah barat. Sosoknya melesat dari satu pohon hinggap ke pohon lain mengikuti perjalanan rombongan kereta. setelah sampai ke pohon paling dekat dengan kereta, Sosok itu berhenti mendekam. Sinar rembulan terang menerangi wajahnya. Ternyata dia adalah seorang pemuda berwajah tampan. Rahangnya yang menonjol menandakan kekerasan dan keteguhan diri. Matanya yang tajam menyorot ke arah kereta. seolah mata itu mampu menembus sampai ke dalam isi kereta. sebuah seringai muncul di wajahnya.



Selang beberapa lama, kereta terus bergerak ke arah hutan belantara. Pemuda itu berkelebat cepat melawan arah. Kembali menuju arah kedatangannya dari sebelah barat rumah kepala desa.



Sosoknya berhenti dan mendekam pada salah satu pohon dimana sebelumnya para pemanah ditempatkan. Pandangannya tajam menyorot atap rumah besar seolah mampu menembus isi rumah besar itu. Tiba-tiba mata itu berubah sayu. Setitik air mata jatuh perlahan. Menetes membasahi kain bendera bergambar bunga dalam pegangannya.



Dadanya sesak. Seluruh badannya bergetar tanpa tertahan. Dia merasakan kembali kelemahan lima tahun lalu. Bayangan wajah seorang gadis yang tidak sekali pun pupus dari benaknya. Sejauh apa pun dia berkelana menebar teror. Bayangan wajah gadis itu masih saja membuatnya bergetar.



Seluruh pelosok daerah menjulukinya Iblis Penculik Tanpa Bayangan. Nama yang begitu gagah. Tetapi semuanya tetap hanya nama saja. Dia sepenuhnya menyerah pada kenyataan. Jangankan untuk menculik gadis itu. Menemuinya saja dia tidak sanggup. Berkali-kali dia muncul di desa itu untuk menculik sang gadis, berkali-kali pula dirinya harus melawan gejolak hatinya sendiri. Dan tidak pernah berhasil. Sepenuhnya dia tahu, kepahitan masa lalu akan selalu mengejarnya kemana pun dia menebar teror.



Setelah menatap kembali rumah besar itu dan mengusap serpihan air mata. Sosok hitam itu berkelebat cepat. Lenyap dalam bayangan kegelapan sebelah barat.



Di dalam rumah kepala desa, dalam kamar luas yang seluruh jendelanya tertutup papan-papan melintang, Putri Hapsari terisak seorang diri. Ibunya telah lama terlelap di kamar sebelah.



Mungkin memang setiap malam Putri Hapsari menangis pilu. Mendekap paku panjang berhias bendera bunga itu erat-erat. Mungkin ayah dan ibunya sendiri, tidak pernah mengerti mengapa setiap malam putri semata wayangnya meneteskan air mata.



Dalam isak tangisnya, Putri Hapsari hanya bisa berucap pelan.



“Kakang. Kapan kau akan menjemputku ?”.



Malam terus bergulir. Dua orang penjaga di depan pintu rumah besar tengah tertidur lelap. di ujung perbatasan desa, kereta beserta para pengawal tenggelam dalam belantara.



 



 



212



 



 



 



 


Baca Juga

Apa bahagia itu?

oleh: Abi Wardani

Entahlah, pikiran liar membabat malam

  • 604
  • 3
  • 1
  • 0
  • Lainnya

Buku-Buku Lepra

oleh: Ichwan Bustomi

Cerita pendek inspirasi dari Kipli. Istrinya begitu memahami keinginan putranya. Dia selalu menangis....

  • 717
  • 3
  • 3
  • 0
  • Cerita Pendek

Pohon Beringin, Sepasang Kenari, dan Telaga

oleh: Cahya Bagus

Kini tak ada lagi alasanku mengunjugi beringin tua, sepertinya dia kehilangan lebih banyak dariku. P....

  • 459
  • 0
  • 2
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari ibenk

Khatarsis

oleh: Ibenk Sablenk

Dalam sebuah keluarga, kutemukan kehangatan dan cahaya yang asing dari seorang ibu dan anak gadisnya....

  • 524
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Rantas Menembus Waktu

oleh: Ibenk Sablenk

Seorang anak manusia mencari cara bagaimana menembus waktu.

  • 593
  • 1
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Bangke

oleh: Ibenk Sablenk

Kumpulan syair amatir

  • 507
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi