Dendam untuk Jantra Kertapati

olehibenk Diterbitkan 24 September 2013

Dendam untuk Jantra Kertapati


Guru. Terima salam hormatku.



Sejak turun gunung meninggalkanmu, aku pergi menuju sebuah desa bernama Bojong Kihiang. Seperti petunjuk yang kau berikan dulu.



“Muridku. Petualangan itu dimulai dari Desa Bojong Kihiang. Temui Kepala Desa bernama Randu Landang. Ikuti segala apa yang dia katakan. Minta petunjuknya. Temukan siapa pembunuh seluruh keluargamu. Jangan kembali sebelum kau menemukan pembunuh itu!”.



Randu Landang seorang lelaki berbadan tinggi kurus. Pipinya cekung tapi tidak secekung engkau, Guru. Kulitnya hitam. Sebuah tahi lalat besar melekat di pipi kanannya. Orang-orang bilang itu tompel. Aku mana tahu soal itu. hidungnya agak bengkok. Sebuah bekas luka melintang dari dahi sebelah kanan sampai di atas alis sebelah kiri. Bibirnya tipis dan mancung. Sekilas seperti burung beo penyakitan.



Tetapi dia orang alim, Guru. Seorang Kiai. Mantan bajak laut Selat Malaka yang telah insyaf. Pertemuan pertama dengannya, dia menyuruhku untuk membaca kalimah syahadat. Kalimat pertanda bahwa aku telah memeluk agama islam. Kau tahu bagaimana bunyi kalimat itu, Guru ? ah. Susah untuk kutuliskan. Setahuku kalimat itu bukan berasal dari bahasa leluhur kita.



Demikianlah, Guru. Awal petualanganku adalah belajar sembahyang. Bersujud kepada Sang Pencipta lima kali setiap hari. Setiap malam Randu Landang mengajariku membaca Al-Quran. Sebuah kitab yang juga disebut Kalamullah. Kitab berisi firman-firman Allah. Allah itu ternyata yang menciptakan kita. Ah. Engkau tidak pernah mengatakan hal itu padaku, Guru. Jangan-jangan kau pura-pura tidak tahu ? atau jangan-jangan, kau sengaja menyembunyikan supaya aku mencari sendiri ?



Singkat kata, di desa terpencil itu, aku menemukan kedamaian. Desa yang tenang. Setiap malam berkumandang ayat-ayat Al-Quran. Kadang aku merasakan keanehan, Guru. Mendadak dalam dada ini sering berontak rasa sesak. Ketika melihat seorang pengemis dipukuli tuan tanah yang datang ke desa ini, ketika prajurit-prajurit meminta upeti dengan paksa. Darahku tiba-tiba mendidih menyaksikan seorang warok menculik paksa seorang gadis desa dan melarikannya ke dalam hutan sebelah timur desa. Apa yang terjadi dengan diriku, Guru ?



Masuk bulan ke empat, Randu Landang memintaku untuk tinggal lebih lama. Dia merasa bahwa aku belum mempunyai cukup bekal untuk melanjutkan petualangan. Tapi aku selalu ingat petuahmu, Guru. Aku harus mencari siapa pembunuh keluargaku. Aku ingin menjadi murid dan anak yang berbakti.



Randu Landang mulanya melarang, tapi aku bersikeras. Akhirnya dia pun menyerah. Aku rasa, mungkin dia kembali teringat masa-masa gelap usia mudanya dulu. Entahlah. Tetapi dari mulut Randu sendiri, aku mendapat beberapa keterangan.



Berdasarkan pembicaraan pada suatu malam. Setelah membaca ayat-ayat Al- Quran. Randu Landang menerangkan sepak terjang pembunuh keluargaku. Seorang pendekar sesat masa lampau bernama Jantra Kertapati. Dimana aku mesti mencari, itulah yang menjadi tugasku. Begitu katanya. Kadang aku kesal, Guru. Engkau dan Randu Landang sama saja. orang-orang tua bisanya  hanya memberi petunjuk, sedang kami orang-orang muda mesti mencari jawabannya diluar. Tapi tak apalah. Aku ambil baiknya saja. Hitung-hitung mencari pengalaman.



O ya baru kuketahui juga bahwa ternyata Randu Landang adalah kakak kandung ayahku sendiri. dia pamanku dari garis yang syah. Ah. Aku mulai mengerti mengapa kau menyuruhku menemuinya.



Randu Landang memintaku untuk mendatangi sebuah desa di lereng gunung Ranca Gondang. Nama desanya Bongkor. Letaknya 2 hari perjalanan dari desa Bojong Kihiang. Menurutnya, di desa itulah makam ayah ibuku beserta kedua adikku berada. Dia menyuruhku untuk menyambangi makam terlebih dahulu, sebelum melanjutkan mencari pembunuh itu. Dari Desa Bongkor, aku harus melanjutkan perjalanan menuju sebuah bukit di pantai utara. Mencari sebuah Goa bernama Goa Bentar. Goa angker kediaman seorang Warok. Aku harus menyelamatkan gadis desa yang disekapnya di goa itu.



Waktu itu, aku memang tidak berhasil mencegah sang warok menculik gadis itu. ilmunya terlalu tinggi. Belum sempat aku mengeluarkan jurus pamungkas warisanmu, dia keburu menghilang membawa gadis itu.



Aku bingung lagi, Guru. Mengapa mesti aku yang harus menyelamatkan gadis itu. Menambah perkara saja. Tugasku adalah mencari seorang pembunuh. Mengapa harus terlibat urusan culik menculik segala. Orang lain punya kerjaan aku ketiban getahnya.



Di sela kebingunganku itu, aku ingat petuahmu, Guru.



“ Jangan pandang remeh sebuah tugas. Engkau tidak tahu berapa banyak jalan yang mesti dilalui. Engkau tidak tahu kemana arah membawamu. Engkau buta akan jawaban akhir pencarianmu nanti. Buka mata. Pasang telinga. Olah rasa. Hidupkan jiwa mudamu”.



Kadang aku merasakan, engkau mengetahui bahwa ini adalah bagian perjalananku.



***



Menjelang pagi, aku berangkat menuju Desa Bongkor. Dalam perjalanan, aku terlibat pertarungan dengan seorang tokoh. Urusan sepele, Guru. Aku bingung sendiri mengapa kulit pisang yang mampir di kaki manusia itu mesti diganti dengan 2 tail perak. Ketika dia menanyakan siapa guruku, kusebutkan namamu. Lantas dia berkata 2 tail perak itu harus diganti dengan nyawaku. Manusia edan.



Berdasarkan keterangan beberapa penduduk, makam keluargaku, juga makam para penduduk desa, terletak di lereng bukit sebelah timur.  Sesampainya di pekuburan itu, aku melihat 4 buah nisan yang telah lapuk. Terpisah letaknya dari nisan-nisan lain yang lebih banyak terkumpul sebelah barat. Aku tidak mengerti semua ini. Bagaimana keluargaku menemui kematian pun aku tidak tahu sama sekali. Semua hanya berdasar keteranganmu, Guru. Ketika itu, aku tengah melatih jurus-jurus baru, kau turun gunung selama beberapa hari untuk menemui kerabat di selatan. Bersama kemunculanmu kembali, kau memberitahukan kabar bahwa keluargaku tewas dibantai, kau memintaku segera turun gunung dan mencari pembunuh itu.



Guru, di depan makan keluargaku, belum kutemukan titik terang kemana mesti mencari pembunuh itu. di depan makam ayah ibuku, aku tidak ingin mengabarkan kesedihan padamu. Yang aku rasakan hanyalah panasnya didihan darah dalam tubuhku. Sebuah dendam muncul ke permukaan, menenggelamkan segala ajaran pamanku Randu Landang. Aku tidak peduli seberapa tinggi kesaktian pembunuh itu. hutang nyawa bayar nyawa. Satu nyawaku siap kupertaruhkan demi tamatnya riwayat pembunuh itu.



Tak selang berapa lama, aku mendengar sebuah suara, Guru. Hampir seperti bisikan. Seperti suara manusia dari sumur yang dalam. Entah suara bisikan dari alam lain. Arahnya dari bawah nisan makam ayahku. Suara itu begitu lembut.



“ Tidak ada dendam memiliki ujung. Semuanya akan terus berbalas sampai engkau menjadi salah satu korban. Sampai korban-korban lain berjatuhan. Tidak ada akhir sampai dendam kemudian menembus langit. Tapi engkau mempunyai pilihan. Putuskan kesesatan itu hari ini. Hapus dendam dalam darahmu. Carilah alasan untuk meneruskan hidup tanpa kebencian”.



Sejenak aku tertegun. Bingung.



 Ah sial.  Tugas berikutnya. Goa Bentar. Aku harus segera menyelamatkan gadis itu.



***



Guru, terimalah salam hormatku.



Jejak pembunuh itu demikian tersamar. Malah aku berjalan menuju persimpangan. Aku mendahulukan  menyelamatkan gadis desa itu dan menunda mencari pembunuh keluargaku.



Guru. Meskipun aku semakin jauh dari tujuan petualangan. Aku merasakan getaran-getaran dalam sekujur tubuhku. Getaran yang membuat tenagaku serasa berlipat-lipat. Apa yang bergejolak ini, Guru ? rasanya aku siap bertarung dengan manusia kepala tujuh sekali pun. Apa ini karena hendak menyelamatkan seorang gadis ? ataukah naluri pertarungan menghadapi seorang warok tukang culik gadis desa ?



Setelah berjalan selama 5 hari, tibalah aku di mulut Goa Bentar.



“Warok!. Keluar kau!” . dinding goa bergetar menyambut teriakanku.



Sesaat hening.



“Sebutkan nama! Jika namamu kosong, lekas minggat dari tempat ini. Tinggalkan kuping kirimu. Letakkan di depan mulut goa!”



“Namaku Panji Dasawarna . Serahkan gadis desa Bojong yang kau sekap di dalam. Sebagai imbalannya, kau boleh pergi kemanapun membawa kepalamu!”.



“Sombong betul!. Rupanya manusia ingusan yang tengah mencari Jantra Kertapati. Engkau salah tempat anak muda. Disini bukan sarangnya Jantra Kertapati”.



“ Hai. Darimana kau tahu aku tengah mencari keparat itu ?”.



“ Tanyakan saja pada malaikat maut. Sebentar lagi dia muncul menjemput nyawa tengikmu!”.



Kami pun terlibat pertarungan. Aku tidak pernah mengecewakanmu, Guru. Hampir 100 jurus kami bertarung. Dinding goa ambrol. Semak belukar ranggas. Dinding bukit longsor. Tanah terbongkar pasir berhamburan. Kami saling hantam dalam badai debu. Saling mengandalkan rasa membuka semua indra. Sembari menutup sepasang mata. Menjelang jurus ke 98, kurasakan pertahanan dadanya sedikit terbuka. Kulayangkan sebuah tinju kepalan terbuka. Tapak Iblis Membongkar Raga. Tepat menghantam dada kirinya. Tubuhnya mencelat sejauh tiga tombak. Terkapar di depan mulut goa.



Tadinya aku ingin membuatmu bangga, Guru. Tetapi tiba-tiba kurasakan nyeri di bagian dadaku sebelah kiri. Berbuku-buku darah kental hitam muncrat dari mulutku. Penglihatanku mulai gelap. Aku terluka bagian dalam. Warok tukang culik itu ternyata sempat mendaratkan sebuah pukulan di dadaku. Pukulan aneh. Tidak terasa ketika mengena. Tapi menyebabkan luka parah jika aku melepaskan aliran tenaga dalam.



Sambil berdiri terhuyung aku melangkah menuju goa. Kutemukan gadis desa itu hampir setengah busana. Untungnya perbuatan terkutuk itu belum sempat merenggut kehormatan sang gadis.



Di ujung nafas terakhirnya, di belakangku, kudengar suara erangan sang warok. Sebuah ucapan singkat terputus bersama darah kental tumpah dari mulutnya. Tak lama kemudian, malaikat maut menjemput nyawa tengiknya.



Guru, aku seperti mendengar sambaran halilintar. Badanku bergetar mendengar ucapan terakhir warok itu. dendam itu bangkit lagi. Tapi aku kehabisan tenaga. Mendadak, sekelilingku benar-benar menjadi gelap. Aku limbung. Dadaku berdenyut semakin nyeri. Baru kali ini kurasakan kesakitan seperti ini, Guru.



Tubuhku jatuh menghantam kerasnya lantai goa.



***



Guru yang sangat aku hormati.



2 tahun sudah berlalu sejak peristiwa di Goa Bentar. Kini, aku tengah berdiri di atap sebuah surau Desa Bojong Kihiang. Memandang puncak Gunung Halilintar di kejauhan. Gunung tempatku menimba kedigdayaa selama belasan tahun. Seorang tokoh bernama Dewa Pemusnah bermukim di puncak bukit itu. mengambilku sebagai murid dan mewariskan segala ilmu kesaktian, tenaga dalam dan ilmu meringkankan tubuh.



Guru. Sebetulnya ini semua tentang apa ? Dewa Pemusnah adalah Jantra Kertapati. Manusia menjelang kematian tidak pernah berdusta, Guru.



Semula aku tidak percaya dengan sambaran halilintar itu. kusirap kabar ke beberapa penjuru negeri ini. Sepak terjangmu selama empat puluh tahun. Agkara murka kau tebarkan dimana-mana. Aku hampir tidak percaya, Guru. Sembilan bekas anak buahmu bersumpah sebelum nyawa mereka kukirim ke neraka. Sembilan anak buahmu memuntahkan halilintar yang sama dengan warok Goa Bentar. Engkau pembunuh keluargaku.



Guru yang aku hormati.



Di Desa Bojong ini, semuanya kuanggap berakhir. Aku habiskan sisa hidupku disini. Bersama seorang istri dan seorang paman. Seorang istri yang kutemukan karena pengorbanannya yang begitu besar. Selama 10 hari perjalanan Goa Bentar menuju Bojong Kihiang, dia memapahku dan merawat luka-luka luar dan luka dalamku. Seorang paman yang memadamkan bara dendam dalam darahku. Randu Landang menyiram kebencian dalam diriku dengan air suci ajaran agama islam.



Guru.



Kini engkau sendiri di puncak gunung itu. aku tidak akan menemuimu. Mulai detik ini, putus hubungan guru dan murid. Lebih baik aku menjadi murid murtad. Tidak melaksanakan perintahmu. Ketimbang menemuimu dengan sejuta bara dendam yang menenggalamku dalam kebencian.



 



 



**Inspired by Serial Mahesa Kelud Pedang Sakti Keris Ular Emas karya Bastian Tito.



 



 


Baca Juga

Kesal

oleh: Hotma D.L. Tobing

Baru kali ini, begtu kesal

  • 313
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Stella

oleh: Alfydr

Stella, aku tau kemarin kau di sudut rumah itu. Duduk sendiri dengan bayangmu, samar air matamu mene....

  • 65
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Sangkar Kecil Itu Bernama Kelas

oleh: Vier AL

Pertemuan awal dengan wanita kecil pemalas itu. Perempuan pemberontak, yang jadikan sajak sebagai ja....

  • 772
  • 0
  • 0
  • 0
  • Novel
Karya Lainnya dari ibenk

Darah Dan Asap Rokok Untuk Ibu

oleh: Ibenk Sablenk

Seorang bajingan, hampir mampu mengartikan kasih seorang ibu. Tapi belati yang menusuk jantungnya, m....

  • 423
  • 1
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Bangke

oleh: Ibenk Sablenk

Kumpulan syair amatir

  • 484
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

Acara Makan

oleh: Ibenk Sablenk

Aku, sahabatku, dan tiga anaknya. Berbagi 2 bungkus nasi.

  • 484
  • 3
  • 3
  • 0
  • Cerita Pendek