DOA GORGA UNTUK IMPAS

olehhotmadihita Diterbitkan 3 June 2016

DOA GORGA UNTUK IMPAS



Ketika ditugaskan rapat kerja selama 3 hari ke Jakarta, tambahlah semangat Gorga. Gorga sangat senang, karena sudah 10 tahun tidak pernah  ke Jakarta.



Malam telah larut, ketika rapat kerja malam itu selesai. Gorga segera masuk kamar. Lalu menelepon isteri dan anak-anaknya. Untuk mendengar suara isteri maupun anaknya di pulau Sumatera sana.



Tiba-tiba bel pintu kamar di hotel itu berbunyi. Gorga bangkit, mengintip dari kaca bundar kecil itu. ”Seorang perempuan berpakaian rapi,” pikir Gorga.



Dia lalu membuka pintu dengan tangan kirinya. Dia  menyuruh perempuan itu masuk. Perempuan itu menyapa selamat malam. ”Selamat malam,” kata Gorga pula. Gorga kemudian menonaktifkan handphone-nya. Kini Gorga ada bersama seorang perempuan, tukang pijat yang  disediakan hotel.



Perempuan itu sopan memakai  baju batik dan kain sarung. Begitu  rapi, indah memesona. Sebuah keranjang di tangannya dengan seperangkat alat : plastik warna biru, handuk  kecil, dan  hand body lotion. Gorga tidak menyangka bahwa tukang pijatnya masih muda, bukan seperti tukang pijat mbok Ros di kotanya.



”Silahkan bapak baca. Di sini ada peraturan yang harus diketahui dan dipahami, agar tidak terjadi salah pengertian,” kata perempuan itu dan menyodorkan bahan bacaan



Gorga membacanya sejenak. Dia lalu manggut-manggut tanda mengerti.



“Kita mulai saja, Pak. Silahkan buka baju. Hanya baju saja,” kata perempuan itu tegas.



”Baik,” kata Gorga.



”Bapak punya waktu selama 14 menit untuk merasakan pelayanan kami. Gratis. Pada menit ke-15, bila mau dilanjutkan, punggung, kaki dan sekujur badan,  kami siap melayani dengan bayaran Rp 350.000. Apabila tidak berminat melanjutkan, bapak tinggal sebut saja. Berhenti.”



“Maaf, saya mau yang gratis saja,”  kata Gorga sambil membuka bajunya.



“Terserah bapak. Yang penting , 14 menit pertama tidak dibebani biaya apa pun.”



Nurani Gorga mulai bicara : perempuan secantik ini bertugas memijat setiap insan yang membutuhkan jasa pijat. Gorga hanya bisa mereka-reka,  apabila di sebuah kamar tertutup  terdapat seorang lelaki dalam keadaan  setengah telanjang, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi sesuatu hubungan akrab - persentuhan tubuh.



Lalu perempuan itu mulai melaksanakan tugasnya. Melayani dengan sepenuh hati. Tampaknya dia paham akan tugasnya.



”Siapa namamu, Dik? Boleh bicara sebentar kan?”



”Impas.”



 “Sepertinya adik berasal dari kota Indah Permai, dekat danau Impian,” kata Gorga.



”Ya betul, bagaimana bapak tahu?”



”Ya saya tahu. Saya duga saja dan ternyata pas. Sudah berapa lama bekerja di sini?”



“Oh ya. Maksud bapak?” kata perempuan itu.



”Sudah berapa lama adik  berprofesi sebagai staf pemijat di hotel ini?”



“Empat tahun, Pak”



Tahulah Gorga, perempuan itu berusia 24 tahun. Itu berarti sudah  bertugas ketika dia  berusia 20 tahun. Impas juga menerangkan kepada Gorga, bahwa petugas hanya melayani pijat saja. Tidak lebih dari itu. Kalau ada sesuatu paksaan dari tamu, pemijat akan melakukan sesuatu sehingga  satpam akan segera melakukan eksekusi hukuman. Karena itu adalah pelecehan seksual!



“Nah, kalau petugas mau diberi sogokan, bagaimana?”



“Itu tidak mungkin, saya selalu setia kepada tugas. Itu komitmen. Kalau ada tamu yang memaksa untuk berbuat mesum, saya lebih baik “commit suicide”.”



“Oh ya? Sedramatis itu?”



Setelah pakai baju, Gorga meminta waktu untuk bincang-bincang  dan perempuan itu bersedia. Ternyata perempuan itu belum berkeluarga. Punya pacar dan sang pacar  tahu bahwa Impas berprofesi sebagai tukang pijat. Namun orang tuanya tidak  mengetahui pekerjaan Impas. Lalu Impas juga bercerita bahwa dia harus  senantiasa jujur.



”Kami sadar, busuk berbau, jatuh berdebuk. Tugas saya adalah memijat. Membuat orang jadi sehat. Kata bunda : Benar bawa lalu, salah bawa surut. Maka harus takut Tuhan.”



Gorga kaget dan takjub dengan kalimat terakhir itu.



“Karena ada hukum yang berbunyi : Janganlah engkau mengingini sesamamu manusia. Janganlah engkau berzinah,” kata perempuan itu dengan suara lantang.



“Malam, Pak,” kata Impas sambil merapikan pakaian dan peralatannya.



“Mengapa bapak terheran-heran?” tanya Impas.  “Itu adalah titah-titah yang tidak boleh dilanggar,” kata Gorga.



”Kalau begitu, maukah adik berdoa bersama saya?”



“Sebelum saya iyakan, saya  ingin bertanya. Apakah bapak seorang pendeta?”



“Tidak, tetapi saya anggota majelis.”



“Maksud bapak, anggota majelis permusyaratan ......?” sela perempuan itu.



”Oh bukan. Majelis Saling Menghargai Ibadah Karunia.”



Maka, segeralah terucap doa dari mulut Gorga. Dalam doanya dia memohon agar Impas  tetap kukuh dalam pendiriannya. Gorga berdoa agar Impas tetap setia memegang keteguhannya. Setelah disebutkan kata amin, Gorga  mencuri pandang dan melihat perempuan itu mencucurkan air mata. Deras sekali. Menganak sungai. Sesenggukanlah ia karenanya.



”Mengapa adik menangis?”



”Selama saya bekerja di sini,” kata Impas seraya menatap Gorga. ”Banyak sekali  ancaman bagi kami pekerja pijat ini, Pak. Kami dianggap rendah oleh sebagian besar lelaki. Kami acap menjadi bulan-bulanan. Baru kali ini saya dapat tamu yang istimewa dan sekaligus mendoakan saya. Terima kasih, Pak,” kata perempuan itu terbata-bata.



”Hapuslah air matamu, Dik, dan cuci dulu mukamu sebelum kembali bekerja.”  



***



Pagi muncul lagi. Matahari merekah di ufuk  Timur. Gorga siap-siap cek out.



“Selamat pagi, Pak. Semoga telah bermimpi indah,” kata suara petugas perempuan.



“Ya, selamat pagi,” jawab  Gorga seadanya.



“Saya Hani dari divisi kebugaran. Bapak mendapat fasilitas gratis dipijat selama 14 menit di hotel kami.”



“Tapi saya sudah,” kata Gorga agak tersendat.



“Maaf, Pak. Ini pelayanan kami. Petugas kami akan segera datang ke kamar Anda. Kami selalu siap melayani.”



            Telepon langsung ditutup petugas hotel. Gorga diam terpaku. Bel kamar pun berbunyi. Pintu pun segera dibuka Gorga. Gorga melangkah ke arah jendela  tanpa memandang petugas pijat.



“Selamat pagi, Pak,”sapa perempuan itu.



“Selamat pagi,” kata Gorga seadanya.



Karuan saja Gorga  kaget  melihat  perempuan itu yang juga kaget itu. Dia itu Impas.



“Lho kok adik datang ke mari lagi?” kata Gorga kaget.



”Saya tidak tahu, Pak,” kata perempuan itu sambil tersenyum. Saya mau melayani bincang-bincang  aja selama 10 menit. Bila bapak berkenan. Boleh kan, Pak? ” pinta perempuan itu. Berkilat mukanya.



Mereka pun berbincang. Menurut pengakuan  Impas, dia punya saudara bernama Hontas, Gopas, Hipas, dan Hiras.



”Itu asli bahasa Ibu saya. Nama–nama itu hal penting, suatu tatanan dan keadaan  yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan di muka bumi, Pak,” kata Impas dengan lancar.



”Kami diajari oleh ayah untuk tetap kokoh dalam pendirian dan kukuh dalam prinsip. Boleh belajar bahasa asing, tetapi bahasa Indonesia harus dipakai dengan baik dan benar. Bahasa daerah atau bahasa Ibu harus dipahami agar jangan sampai hilang ditelan zaman.  Hidup ini penuh tantangan. Waktu sangat, sangat berbahahaya. Maka kami harus menggunakan waktu untuk berbuat kebaikan.”



Gorga  diam seribu bahasa mendengar paparan Impas.



”Apakah bapak bersedia mendoakan saya, Pak?”



”Kenapa minta berdoa lagi?” Gorga menatap.



”Sebab kami dipesan, biarlah kita tetap tekun berdoa selama hayat di kandung badan. Berdoa itu penting. Doa adalah nafas hidup. Doa adalah alat komunikasi dengan Tuhan.”



Mereka menyusun jari. Berdoa. Impas tidak lagi berurai air mata.



 



Cibodas baru, 12/9/2011/16.00 05:29- sagala



Sawahbesar,  11/4/2012/09.15- sagang



 



Penulis adalah staf Perpustakaan Jakarta, berdomisili di Tangerang. Aktif menulis di berbagai media, sperti Harian Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Medan-Global di Medan, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, The Jakarta Post, majalah  Intisari, Pialang , Anggaran, Warta Pasar Modal, Suara HKBP, Dalihan Na Tolu di Jakarta, Radar Banten dan media lokal lainnya. “Perempuan di Kapal Terakhir” adalah Antologi cerpen : karya terbaru  Hotma D.L.Tobing bersama Berliana Siregar. Diterbitkan oleh Leutikaprio Yogyakarta (10/3/2012).



 



 



Catatan:



Cerpen ini dimuat di harian Mimbar Umum Sabtu 2 Mei 2012.


Baca Juga

Aku Pasti Kembali

oleh: Evangelina Tessia Pricilla

Natal telah mengubah pandanganku mengenai ayah yang sebenarnya. Ayah yang kupikir adalah ayah terbur....

  • 874
  • 4
  • 3
  • 0
  • Cerita Pendek

I AM WAITING FOR YOU

oleh: ariedeltrame

Seorang laki laki yang sangat mencintai wanita, namun wanita tersebut merupakan sahabat dekat dari m....

  • 275
  • 1
  • 0
  • 0
  • Novel

Acara Makan

oleh: Ibenk Sablenk

Aku, sahabatku, dan tiga anaknya. Berbagi 2 bungkus nasi.

  • 573
  • 3
  • 3
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari hotmadihita

Kertas-kertas Bernas

oleh: Hotma D.L. Tobing

Kertas itu

  • 322
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya

PEREMPUAN INDONESIA DALAM KARYA & PENGABDIAN

oleh: Hotma D.L. Tobing

Kisah-kisah Super Inspiratif Pendongkrak Semangat Jiwa

  • 354
  • 1
  • 0
  • 0
  • Lainnya

Peminta-minta Semi Profesional

oleh: Hotma D.L. Tobing

Inilah insan berbuat seenak penaknya

  • 337
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi