BELAJAR HIDUP DARI KEHIDUPAN ORANG KECIL

Resensi Buku 



Judul buku            : BELAJAR HIDUP DARI   KEHIDUPAN ORANG KECIL



Penulis                  : Aries Susanto



Cetakan pertama  : 2011



Penerbit                : Laksana,  Divapress, Jogyakarta



Tebal buku           : 218 halaman



ISBN                    : 978-602-978-533-3



Kejujuran , ketekunan, kesabaran, kesederhanaan dan juga kesungguhan:  nilai  kehidupan yang kini terasa asing di tengah laju modernitas yang diagung-agungkan



Buku ini adalah potret orang-orang kecil, tak berdaya, terpinggirkan, dan tak jarang di ambang kebangkrutan. Mereka diangkat ke panggung reportase, bukan semata-mata karena nilai human interest-nya. Namun memang dari merekalah kita mesti belajar mendengar kisahnya, tentang ketegarannya, ketekunannya, kebesaran jiwanya, dan kepasrahan hidupnya kepada pemangku jagat ini. Dan  merekamemang layak  didengar kisahnya, sebab orang-orang kecil seperti  mereka sesungguhnya adalah orang-orang besar.



Antara elite dengan elit (ekonomi sulit)



Sulitnya hidup tidak harus disesali, namun harus dihadapi dan terus diupayakan untuk maju. Banyak sudah orang yang mampu melewati semua cobaan. Meski harus tertatih-tatih, mereka masih tetap bisa tersenyum menatap  hidup. Bagaimanakah cara mereka menyikapi semua himpitan masalah hidup ini?  Bagaimana pula mereka  membelah riuhnya kota, malam, dan juga belantara yang mungkin tak sanggup dikerjakan oleh kebanyakan  orang yang terbiasa duduk di balik meja kantor? Semua rahasia itu disajikan di  dalam buku ini.



Di tengah hiruk pikuk persoalan para elite hipokrit dramatik, kisah mereka akan mengajak kita  bermandikan oase di padang sahara. Ada kejujuran, ketekunan, kesabaran, kesederhanaan dan juga kesungguhan, sebuah nilai  kehidupan yang kini terasa asing di tengah laju modernitas yang diagung-agungkan.  Mereka justru tampak berjiwa lebih besar,  lebih sareh dan lebih  jernih  ketika kesulitan menjadi teman karib mereka. Ini  sangat bertolak belakang dengan  kehidupan glamour para elite yang bertahta harta dan jabatan, yang kerap memandang diri sendiri sebagai orang  penting dan orang besar.



            Lebih dari 50 tahun memikul bronjong es dawet, mbak Sukimin telah menjadi saksi perubahan zamannya. Zaman memang telah jauh meninggalkannya dengan kebudayaan roda bermesin, namun mbak Sukimin tetap melangkah dengan sepasang kakinya yang sudah renta. Mbah  Sukimin seperti dalam cerita di atas, telah mengajarkan kepada kita akan ketegaran dan kepasrahan dalam menjalani  hidup.  Mbah  Sukimin adalah potret sesungguhnya  orang-orang kecil yang tahan uji, pantang menyerah di tengah usia yang renta dan digdaya karena mampu membelah jalanan berpuluh-puluh kilometer sepanjang hari dengan berjalan kaki. Sebagai  kepala keluarga, dia tidak pernah galau dalam pembagian  rezeki Tuhan. Ia memiliki kepasrahan pada tingkat yang paling   matang, betapapun satu-satunya pendapatan yang dia harapkan adalah  sebagai  penjual es dawet keliling.



 Kisah di atas dijadikan awal buku ini hanya sebuah ketertegunan untuk mengatakan takjub atas  kehidupan orang-orang kecil, pemilik sah negeri tercinta ini. Kisah lainnya adalah  Mencari Dewi Keadilan. Kisah keluarga Lanjar adalah cermin ketahanan, keluguan dan kerendahhatian orang-orang kecil. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang  hukum, maka mereka cuma bisa pasrah  atas kehendakNya tanah menempuh jalur hukum seperti orang-orang yang bertahta jabatan. Bahkan ketika mereka dipermainkan pasal-pasal hukum  yang asing baginya, keluarga Lanjar tidak melawan. Mereka tetap tabah, sumeleh, dan sareh, betapa pun sangat menyakitkan. Mereka percaya akan ada tangan-tangan ajaib yang membantu mereka. Itu saja keyakinanmareka yang tak pernah padam.



Arkian, ada banyak cerita  tentang para pedagang kecil di negeri ini. Keberadaan mereka acap kali dianggap menjadi masalah, ketika datang sebuah konsep yang mengatasnamakan pembangunan dan penataan untuk kepentingan umum.  Konsep  itu bagi mereka  sungguh seperti awang-awang. Sebab  mereka yang berpikir untuk mencari sesuap nasi esok hari, tak pernah merasakan hasil pembangunan itu, selain hanya kalangan elite terbatas. Kapankah akan terwujud sebuah  konsep pembangunan yang tak hanya ramah bagi kalangan elite,  akan  tetapi juga bagi kehidupan orang orang kecil seperti mereka? Ini dapat dinikmati pada tulisan bertajuk “Susahnya Mencari makan  di Negeri Sendiri”.



 



44 kisah-kisah inspiratif



            Semua kisah yang ditulis Aries Susanto  ini menyangkut orang orang kecil yang  ditemui  Aries tepi jalan, pinggiran sungai, gang-gang kampung atau di pucuk gunung. Antara lain  perempuan buruh  gendong di pasar, buruh cuci, abang becak, penyandang difabel, penjual es dawet keliling, musisi kampung, tukang ojek, tukang tambal ban,  abdi dalem, tukang angkut mayat, penjahit sepatu keliling, ibu-ibu pencari pasir, ibu-ibu pembersih makam, atau pahlawan kecil di panti jompo.  Ada juga kisah pejuang yang malang, anak-anak tanpa orang tua, senandung sunyi penyandang cacat.  Syahdan ada pula asli warganegara tetapi menumpang di tanah negara,  Sang Pejuang yang malang. Begitu pula dengan Tiada rejeji bagi Sri Rejeki,  dan Mbak Semi tak lagi bersemi.  Mereka-merekalah  yang menjadi ilham dari berbagai tulisan di dalam buku  ini  yakni  44 judul yang mengisahkan perjuangan orang-orang kecil dan mungkin bisa menjadi renungan bagi kita pembaca. Isinya boleh jadi Kisah-kisah Super Inspiratif Pendongkrak Semangat Jiwa.



Kelurahan Kebon  Kelapa 5/1/2017


Baca Juga

GOOD BYE BLUE SKY

oleh: ang

selamat jalan angkuh langit biru, cukup polusi saja yang merampasmu.

  • 308
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

KAU TAHU ?

oleh: ang

angin dan matahari

  • 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

JAUH

oleh: alya_haseena

antara kau dan aku

  • 220
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya
Karya Lainnya dari hotmadihita

Siapakah Gadis Kecil Itu?

oleh: Hotma D.L. Tobing

Raganya masih kecil, tetapi sudah terpaksa mencari nafkah dengan mengumpul uang bernilai kecil. Inil....

  • 332
  • 3
  • 0
  • 0
  • Puisi

Peminta-minta Semi Profesional

oleh: Hotma D.L. Tobing

Inilah insan berbuat seenak penaknya

  • 264
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

Cinta

oleh: Hotma D.L. Tobing

Terasa indah

  • 303
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi