Kubedah Kau Demi Dendamku

olehhers Diterbitkan 26 February 2014

Chloroform


Beberapa tetes Chloroform yang kutuang pada sehelai sapu tangan itu, bekerja dengan cepat. Hanya beberapa detik, korban yang baru saja kubekam, pingsan dalam biusan. Tak nampak lagi tatapan menyeramkan yang selalu memelototiku. Tak ada juga gertakan yang kerap membuat gemetar. Yang terlihat, hanyalah sesosok tubuh yang lemah, sementara punggungnya masih turun naik, menghirup nafas dalam posisi telungkup.



 



Aku tak tahu, seberapa lama obat pembius itu bereaksi. Yang kupikirkan saat ini, hanyalah bekerja dengan cepat. Menyayat kulitnya, lalu mengambil sebagian organ dalamnya. Bahkan jika perlu, kusisit seluruh kulitnya hingga menyisakan daging yang terbungkus lemak-lemak putih.



 



Namun, rasanya aku tak sebiadab itu. Maka, kuputuskan, biarlah dia menderita dengan kehilangan sebagian organnya. Itulah sepahit-pahitnya pembalasan dariku.



 



Pinset, pisau dan gunting bedah yang telah kupersiapkan sebelumnya, tertata di atas meja bersama paku dan jarum bertangkai. Kiranya seluruh peralatan bedah telah lengkap, tinggal menunggu kesiapan yang tepat untuk memulai eksekusi.



 



Ya, kesiapan. Karena pada dasarnya, aku sama sekali tak tahu organ tubuh mana yang akan kuambil. Mengambilnya begitu saja hanya karena alasan dendam, ternyata sedikit mengganggu mental dan keberanianku. Namun, kapan lagi kesempatan seperti ini akan tiba?



 



Tidak, aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.



 



Secepatnya kubalik tubuh telungkupnya.



 



Sial! Tubuh yang kecil ini seolah tak sebanding dengan berat badannya. Hingga aku harus bersusah payah, bahkan mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk membuatnya terlentang.



 



Tampaklah kini dadanya yang turun naik seiring tarik ulur nafasnya. Begitupun detak jantung yang berdegup di antara paru-parunya. Aku masih ragu dan bergeming, mengamati detak-detak kehidupan tersebut.



 



Rubber gloves yang telah kupakai sesaat lalu, mulai terasa basah oleh keringat cemasku. Tak pernah rasanya aku secemas ini. Namun, dendam tak akan pernah terbalas jika terus memikirkan cemas.



 



Mencoba untuk mengurangi perasaan tersebut, kumainkan gunting bedah yang telah terkait pada jemariku. Lalu, kuamati kembali bagian tubuh korban. Sebelah ginjal, rasanya cukup untuk membalas perbuatannya padaku, pada keluargaku dan pada tetangga yang menjadi korban pelampiasan amarahnya.



 



Kucoretkan spidol tepat di area sasaranku. Niatku telah bulat untuk mengambil sebelah ginjalnya. Papan bedah kuletakkan tepat di atas tanda coret tersebut.



 



Perlahan, kuambil pisau bedah untuk menyayat bagian itu. Namun, tangan kiriku yang terluka akibat serangannya, ternyata tak sanggup menahan rasa sakit. Pendarahan yang baru saja terhenti, kembali menderas seiring pompaan adrenaline dalam relung-relung nadi yang berdetak kencang.



 



Sial, aku masih saja gugup setiapkali melakukan pembedahan.



 



Yang lebih sial, luka di tangan kiriku malah menghambat proses pembalasan dendamku. Tapi, tak mengapa. Merawat luka sendiri, lebih penting dari sekadar pembalasan dendam.



♦♦♦


Baca Juga

All is new

oleh: Gita Cahyo Nomi

Keseharian seorang anak SMP bersama teman-temannya . Simak ceritanya ya ..

  • 727
  • 1
  • 1
  • 0
  • Novel

Karena Aku Harus

oleh: Noury Hasan

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 370
  • 1
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

Bukan Sekedar Jus Untuknya

oleh: Coretan kecil

Seorang sopir ojek online yang mencarikan jus untuk anaknya.

  • 42
  • 1
  • 0
  • 0
  • Lainnya
Karya Lainnya dari hers

Lelaki Peneropong Malam

oleh: herlambang wibowo

” kata adalah sebab beta tersesat?”

  • 578
  • 3
  • 1
  • 0
  • Puisi

Riwayat

oleh: herlambang wibowo

Synopsis is not available

  • 371
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

Kubedah Kau Demi Dendamku

oleh: herlambang wibowo

aku sama sekali tak tahu organ tubuh mana yang akan kuambil. Mengambilnya begitu saja hanya karena a....

  • 747
  • 0
  • 0
  • 0
  • Lainnya