Cammomile Tea

olehhariz Diterbitkan 13 December 2013

Cammomile Tea


Cammomile Tea



Desember 2006



“Enggak ada bodoh.., enggak mungkin ada kisah romance yang manis terus dari awal sampai akhir. Justru dengan adanya bagian pahitnya kisahnya jadi manis. Apalagi kalau tragis. Itu tuh formula utama kisah-kisah romance yang terkenal. Dari sastra klasik, novel, film, drama theater, sampe lagu-lagu pun semua sama. Lagian apa yang bisa diceritain dari kisah yang seneng terus Zar?” Cerocos Sania padaku.



Tiga huruf diakhir kata-katanya merujuk padaku yang hanya bisa manggut-manggut sambil mencari argumen yang bisa melawannya. “Hmm..”



Sore itu mendung menggantung di luar jendela kafe tempat kami bernaung. Sabtu ini adalah pertemuanku yang kedua dengannya, walau sebetulnya kami sudah banyak berbincang, diskusi dan bertukar pendapat di forum online selama beberapa minggu. Sebuah forum berisi para pengamat budaya amatir, maniak konspirasi, dan para penulis paruh waktu yang mendiskusikan segala hal dari dangkalnya selera musik anak muda masa kini, skandal politik, sampai letak Atlantis.



Bisa dibilang aku bertemu dengannya karena kami sama-sama manusia galau. Mungkin itusebabnya, yang akhirnya menjadikan aku seorang yang malang melintang berkali-kali makan asam garam dalam dunia asmara sejak puber, dengan seorang dewi curhat bernama Sania menjadi sahabat pena dunia maya yang saling melengkapi. Dan kesukaan kami pada cammomile tea-lah yang mewujudkan pertemuan pertama kami.



Sedangkan tentang Sania sendiri, merupakan anak ajaib menurutku. Di umurnya yang kedua puluh enam kini, ia masih saja seorang wanita yang melajang sejak lahir. Ya, meskipun berbagai nasihatnya tentang hubungan asmara darinya sangatlah mengena. Ia belum pernah sekalipun memiliki hubungan emosional khusus dengan spesies manusia berkelamin jantan. Hal ini sangat tidak bisa dimaklumi, mengingat lini pekerjaannya sebagai gadis Sales Promotion Girl sebuah merek rokok, dan foto model. Ia sama sekali bukan tipe agamis yang menjaga jarak sampai menikah, ia juga jauh di atas standar rata-rata di mata pria. Walaupun orang bilang cantik itu relatif tapi dia adalah tipe wanita tempat berlabuhnya semua mata pria kemanapun ia pergi. Ditambah ia adalah seorang yang sangat lantang menungkapkan pendapatnya, pokoknya semua topik pembicaraan akan menjadi menarik di matanya. Feminim dan selalu modis, tidak terkeculai atraktif. Maka dari itu gelar anak ajaibnya harus aku ralat menjadi sangat ajaib. Dan...



“Hei!” Sergahnya membuyarkan lamunanku.



“Coba ada contohnya ga? Cerita romance yang seneng terus?”



“Bahkan dari semenjak anak-anak aja cerita macem Cinderella,dan Little Mermaid pun pedihnya udah bisa bikin garuk-garuk tanah”.



“Nah itu dia!” sahutku tiba-tiba. mendapat Inspirasi begitu saja.



“Gini lo San, Semua itu bisa dianalogikan dengan dunia sebelum kelahiran Wright bersaudara.”



“Dulu mana ada sih orang waras yang bilang manusia bisa terbang, namun mereka mebuktikan bahwa hal itu mungkin.” Tambahku.



“jadi maksud kamu?” Tanya Sania.



“Iya San, kita udah menemukan kegelapan baru di dunia ini. Kegelapan berbentuk tidak adanya cerita cinta tanpa plot sedih-sedihannya. Kita harus buktiin kalau bisa ada plot cerita cinta minus galau-galauan yang tetap menarik dan punya sesuatu untuk diceritakan!”



“Quite Brilliant...” ujar Sania. Kemudian menyeruput tehnya. “Tapi....”



“Tapi?”



“Tapi aku lebih tertantang buat nyari kalau cerita semacam itu udah ada sebelumnya.” Ujarnya diikuti senyum lebar.



Dan aku kicep.



***



Maret 2012



Mini organizer merah itu jatuh berhamburan bersama benda-benda lain dari bagian bawah kardus yang sedang kuangkat. Aku mendengus kesal, kesal karena kardus ini aku sendiri yang packing dan dobel kesal karena isinya adalah souvenir-souvenir hidupku. Liontin almarhum ibuku, benda-benda pemberian mantan-mantanku, tiket bioskop bersejarah, surat cinta monyet dan sebagainya yang kecil-kecil dan tak terhingga banyaknya. Kini berhamburan sepanjang tangga sampai ke lantai bawah.



Aku duduk pada anak tangga, menghela nafas. Capek pindahan rumah sendirian.



Mini organizer itu aku raih. Kuusap permukaan sampul kulitnya. Tersenyum dan kemudian kubuka halaman pertama. Bertanggal 2 Januari 2007. Kembali ku teringat saat membelinya sehabis tahun baru. Dan mataku tertuju pada penggalan-penggalan catatanku tentang Sania.



 



2 Januari 2007



... sungguh pertemuanku dengan Sania di akhir tahun kemarin membuatku tertantang untuk membuat cerita itu. Minggu ini harus mampir ke toko buku, cari refrensi dan ngobrol lagi weekend nanti...



 



7 Januari 2007



...Ternyata awal-awal tahun baru ini hectic parah. Sania mesti kerja tadi malam ada launching produk di night club. Sedangkan minggu depan aku sudah mesti presentasi ke klien di luar kota. Tampaknya proyek cerita ini terpaksa ditunda dulu...



 



24 Januari 2007



... Pertemuanku yang ketiga dengan Sania terjadi tadi malam. Aku datang melayat ayahnya meninggal dunia, dan kini ia yatim piatu. Tapi anak ini memang selalu menarik perhatianku. Tidak setetespun air mata yang turun di pipinya. Ia hanya diam dan tak banyak bicara, tapi sama sekali tidak menampakkan kesedihan...



 



11 Februari 2007



... Kami bertemu di kafe yang sama. Terjadi hal menarik: Ada cowok yang mendatangi meja kami dan mengajaknya berkenalan. Cowok itu tidak jelek menurutku, namun Sania tidak terlalu menggubrisnya malah tidak membahasnya sama sekali setelah cowok itu pergi. Apakah kejadian seperti itu sudah biasa terjadi padanya?



Dan dia bilang sekarang dia sudah memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan keluarganya, semenjak ayahnya meninggal. “Sekarang aku bebas Zar, Ibarat lepas dari penjara..” Ujarnya dengan kelegaan yang luar biasa.



 



14 Februari 2007



Dia mengundangku dinner di rumahnya. Edan, masakannya sungguh nikmat. Aku pun dibuat heran, makan bareng sahabat kenapa mesti formal pake dress seksi segala sih, kan risih.



Kemudian terlontar juga pertanyaanku selama ini: Kenapa masih belum ada lelaki yang mengambil hatinya?. Namun ia hanya diam menatapku dan tersenyum simpul...



 



19 Februari 2007



Hahaha... roda nasib selalu berputar baby!! Setelah jomblo dari Oktober kemarin kini aku resmi kembali in relationship. Rekan kerjaku, atasanku bahkan! Ternyata Creative Director-ku selama ini memendam rasa. Coba aku tau dari dulu, Kehidupan kantorku bisa jauh lebih mudah. Sania adalah orang pertama yang aku beritahu, dan dia minta makan-makan... hahaha berasa anak SMA...



 



23 Februari 2007



Tadi kami bertiga bertemu, aku, pacarku dan Sania. Kita ngobrol seru banget, ini nih yang aku inginkan, pacar sama sahabatku bisa akrab. What a perfect world...



 



8 Maret 2007



Sania telepon tadi pagi. Ia mengetahui sesuatu tentang pacarku. Langit diatasku kembali runtuh..



 



9 Maret 2007



Setelah satu hari penuh tidak bisa di hubungi dan tidak masuk kantor, aku kerumahnya. Ternyata semua perkataan Sania benar. Emosi ku sudah diubun-ubun. Malam ini aku harus siapkan semuanya, besok aku resign...



 



11 Maret 2007



Aku meminum Camomile Tea-ku. Mataku sudah sembab dan belum tidur dua hari, namun Sania seolah tidak perduli terus saja nyerocos segala kata bijak dan nasihat buatku. Akhirnya aku pun kesal dan akhirnya terlontar dari mulutku..“Bocah yang belum pernah jatuh cinta jangan sok bijak deh..”



Diluar dugaanku, ia hanya diam memalingkan pandangan dan kemudian tetap mengantarku pulang...



 



13 Maret 2007



Dua hari sudah Sania menginap di rumahku. Menemaniku nonton DVD, dan masak untukku. Moodku yang berantakan ditambah nyeri datang bulan membuatku uring-uringan parah. Kehadiran Sania yang dengan sabar mengurusku sangatlah berarti.



 



14 Maret 2007



Hari ini masih siang, Sania pamit tadi pagi. Yang akan aku tulis sekarang adalah tentang kejadian semalam. Semenjak aku menulis tadi malam. Sania berada disebelahku pada saat itu. Aku mengucapkan terima kasih dan dia menciumku. Kami berciuman...



***



Terdengar suara pagar rumah terbuka saat aku membalik halaman buku, dan honda jazz putih Sania menggerung masuk garasi. Terdengar suara Valencia anakku yang paling tua riang berlarian mengeksplorasi rumah barunya di ikuti adiknya Luciana.



“Hon, aku masih repot pindahan belum sempet masak.” Ujarku pada Sania. Wanita itu yang kini istriku sudah berubah menjadi pebisnis sukses yang keibuan, penuh tanggung jawab, dan semakin cantik menurutku.



“Aku kan udah bilang, beres-beresnya bareng aja besok. Kita makan di luar aja...” Perkataannya terputus melihat organizer-ku. Ia mengambilnya kemudian duduk di sebelahku, membolak balik halaman demi halaman.



“Gila ya kalau  ngeliat ini, enggak nyangka akan begini akhirnya..” Ujarnya  mengawang.



Ingatanku pun kembali berputar.



14 Maret 2007



Hari yang merubah kisah hidup kami, Sania Ariani Putri dan aku Zahra Ilmanik. Sania ternyata sejak kecil tidak memiliki preferensi seksual pada lawan jenis, hal itu yang ternyata di ketahui dan ditentang oleh ayahnya habis-habisan. Berkali-kali ia dihukum, dijodohkan, bahkan dipaksa menikah setelah lulus kuliah. Puncaknya, ia melarikan diri pada hari pernikahannya.



Sore itu 14 Maret 2007, ia kembali ke rumah ku. Sejak saat itu kami memutuskan untuk menjadi pasangan. Kemudian semua terasa terjadi begitu cepat: Kami pindah ke Spanyol dan menikah di Madrid akhir tahun 2007. Sania melahirkan Valencia anak pertama kami pada November 2008. Kemudian, aku tak akan pernah bisa melupakan tatapan pertama Luciana dengan mata birunya pada pagi hari di bulan April 2009. Seorang anak yang lahir dari rahimku sendiri kali ini. Ya, aku dan Sania bergantian hamil dengan inseminasi buatan agar kami sama-sama merasakan pengalaman sebagai seorang ibu seutuhnya.



“Mamá...” Valencia menarik tanganku. Ia sepertinya tidak sabar untuk segera pergi. Disebelahnya Sania sedang berusaha menggendong Luciana.



“Kita makan malam dulu baru eskrim” ujarku menebak pikiran Valencia.



“Si, Mamá!” Angguknya cepat. Dan kami berempat pun beriringan keluar.



(Bandung 2012)


Baca Juga

Apa yang tersisa dari kita ?

oleh: Meita Fitriyanti

Hanya coretan hati semata. :)

  • 371
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

description of me loving you.

oleh: Jennifer Kezia

sometimes, loving someone takes sacrifice; and gives a lot of pain. but, that's the art of it. that'....

  • 352
  • 0
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

Pertemuan

oleh: ilham A.R.

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 534
  • 0
  • 1
  • 0
  • Fiksi Kilat
Karya Lainnya dari hariz

Siklus

oleh: Rizki hariz

Seorang Lelaki bersama Harapannya

  • 210
  • 0
  • 2
  • 0
  • Cerita Pendek

Cammomile Tea

oleh: Rizki hariz

Upload salah satu cerpen lama saya dari forum sindikatpenulis dulu.. Cerita tentang pertautan nasib....

  • 412
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Kami

oleh: Rizki hariz

Setengahnya kisah nyata... Cerita yang ditulis oleh dua orang dari dua sudut pandang masing-masing. ....

  • 454
  • 1
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek