Dunia Semu Spesial

olehendru1290 Diterbitkan 17 December 2013

KISRUH


            Disiarkan langsung dari studio imajinasi E. N. Putra, sebuah tulisan yang sangat dinanti-nanti. Dengan pembawa acara Eril Nusantara alias Enutra dan Deril sebagai bintang tamu, kami persembahkan Dunia Semu Spesial!!



            “Ha.. Haloo??”



            “Kamu kenapa, Eril?” Deril menepuk pundakku dari belakang.



            “Enggak, cuma ini pertama kalinya saya nyoba buat berinteraksi sama pembaca.”



            “Hee? Pembaca?”



            “Iya, kita kan sedang ada di edisi spesial novel serial Dunia Semu.”



            “Oh.. Haaah?? Sejak kapan??”



            Mataku memicing, “Dasar bodoh.” Aku menghiraukan Deril dan kembali pada topik. “Baiklah, selamat menikmati edisi spesial dari Novel Serial Dunia Semu ya.”



            “Tapi..”



            “Apa lagi??”



            “Tapi emang apa yang mau kita bahas di edisi spesial ini?”



            “Emmmhh.. Iya juga. Apa ya?”



            Deril menunjukkan wajah aneh yang menyebalkan. “Jadi kamu bikin edisi kayak gini tanpa ada perencanaan?”



            Wajahku memerah. “Me.. Memang kenapa? Lagian yang bikin edisi spesial ini kan bukan aku.”



            “Lha.. Terus emang siapa?”



            “Ya yang nulis Dunia Semu lah!”



            “Eh? Si E. N. Putra itu??”



            “Iya.. Yang katanya ganteng, baik hati, rajin menabung, dan suka membuang sampah pada tempatnya itu.”



            “Narsis!”



            “Itu bukan kata saya!”



            “Gimana kamu ajaa.” Lagi-lagi Deril memasang wajah menyebalkan. “Yasudah, biarkan aja. Lagian saya seneng akhirnya bisa tampil lagi.” Terdengar suara ‘Yeaayy’ dari belakang.



            “Oh iya, kamu cuma muncul di chapter satu doang ya?” aku menahan tawa.



            “Cih..”



            “Ya sudah, coba kita liat potongan cuplikan Deril di Dunia Semu.” Aku masih menahan tawa.



***



            Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.



            “Heh! Kamu ngambil kelas sastra juga ya? Saya yakin kalau niat kamu lain kan? Hahaha..”



            Yang tadi menepuk pundakku adalah Deril, orang yang paling dekat denganku semenjak masa orientasi berlangsung seminggu yang lalu. Bukan karena kami punya latar belakang yang sama hingga kami menjadi dekat, itu karena kami sering tertukar nama panggilan. Lagi-lagi muncul satu orang yang sering tertukar dengan namaku.



            “Eh?? Maksudnya apaan? Yaa.. Aku sih emang suka sastra kok. Lagian cewek-cewek di sini dibawah rata-rata kok.”



            “Bener juga sih. Tapiii.. Tuh kaaann.. Niat kamu memang lain. Kamu kesini memang mengincar mahasiswi-mahasiswinya kan? Hahaha.. Sampai-sampai dinilai satu-satu begitu.”, Deril berbicara sambil menatap sinis kepadaku.



            “Eh.. Itu.. Iya deh, aku ngaku.” aku menundukan kepalaku.



            “Haha.. Jangan sedih, kabarnya ada satu mahasiswi cantik yang akan masuk kelas ini loh. Keliatannya sih belum datang.”



            “Hah? Oh ya? Siapa ya?” aku kembali bersemangat.



            “Itu loh, Vivi, mahasiswi baru yang cukup populer sewaktu masa orientasi kemarin.”



            “Oh dia? Tapi aku gak terlalu deket nih sama dia.”



            “Jiah, siapa juga yang bilang dia mau deket sama kamu. Dia inceran saya loh. Hahaha..”



            “Sial, Pede banget sih?” aku memicingkan mata.



***



 



            “Gimana cuplikannya? Ada yang kangen sama Deril??”



            Hening..



            “Kenapa ga ada yang komentar woyy??” Deril mulai emosi.



            “Ngahaha.. Oke deh kita lanjut ke cuplikan berikutnya.”



***



 



            “Eril! Istirahat-istirahat gini kok cuma melamun? Ga jajan kamu?” Deril datang menghampiriku yang masih duduk di bangku belakang kelas sambil membawa makanan ringan yang baru ia beli di kantin kampus.



            “Eh kamu, Der? Nanti juga jajan kok. Cuma aku lagi mikirin sesuatu aja nih.”



            “Mikirin apa? Mikirin yang tadi kamu dimarahin dosen gara-gara tidur di kelas? Hahaha..”



            Mukaku memerah dan kemudian mengetuk kepala Deril cukup keras.



            “Sialan, jangan bahas itu lagi. Barusan waktu tertidur, aku memimpikan hal aneh itu lagi.”



            “Wah? Mimpi jorok ya?” Deril memasang ekspresi mesumnya.



            Aku mengetuk kepala Deril lagi namun lebih keras. Deril meminta maaf sambil memasang sikap ‘peace’.



            “Aku mendengar suara teriakan wanita itu terus. Apa ini pertanda?”



            “Mimpi itu cuma bunga tidur dan tidak memiliki arti apa-apa. Pemanis tidur dan hiasan tidur saja yang tidak memiliki hubungan dengan alam realita dan kerealitasannya.”



            “Benar juga sih. Tapi yang jadi masalah, mimpi ini suka terjadi berulang-ulang.”



            “Mimpi itu memori yang terpendam dalam pikiran kita, dan tanpa sadar kita bisa membangkitkan memori itu di alam bawah sadar kita. Apa mungkin kamu punya suatu trauma dalam hidup kamu?”



            “Hmm.. Entahlah.. Sepertinya gak ada sih.”



            “Hmm..” Deril menyandarkan kepalanya ke pundakku.



            “Hmm.. Eh?? Kenapa kepala kamu tiba-tiba ada di pundakku???” aku segera menggeser kepala Deril dari pundakku dengan kasar.



            “Eh? Wak? Sumpah saya buka gay!” Deril langsung pergi dengan cepat.



            Tapi, kata-kata Deril tadi cukup memberikan makna. Mimpi itu adalah memori yang terpendam dalam pikiran kita. Memori apa itu? Entahlah, rasanya tidak ada yang membuatku menyimpan memori yang kuat akhir-akhir ini. Hanya memori tentang Vivi yang akhir-akhir ini sering menatap aneh kepadaku. Ya, rasanya sejak saat itulah aku mulai memimpikan hal yang sama berulang-ulang. Apa dia ada hubungannya dengan mimpiku? Aku rasa otakku mulai terasa lelah berpikir.



***



 



            “Eril.. Kenapa kamu jadi makin ngejauh gitu??”



            “Agak takut aja.” Aku agak memisahkan diri dengan Deril.



            “Heh!! Gue bukan gay woyy!!”



            “Lha kenapa itu malah nempelin kepala di pundak?”



            “Itu bukan gue yang mau!! Tanya aja noh ke si penulis yang katanya ganteng, baik hati, rajin menabung, sama suka membuang sampah pada tempatnya itu noh!!”



            Aku masih belum ingin mendekati Deril. “Tapi muka kamu mesum tau.”



            “Berantem aja yuk!”



            “Sabar-sabar.. Hehe..” aku menenangkan Deril. “BTW, kamu keliatan pinter loh di cuplikan tadi.”



            “Eh? Masa?”



            “Iya, bisa ngomongin masalah mimpi sampe jelas banget gitu.”



            “Heheehehe.. Baru sadar nih..”



            “Iya, tumben.”



            “Maksud loh.”



            “Tapi emang kamu keliatan ngerti banget masalah mimpi kok. Suka sama hal yang kayak gitu ya?”



            “Enggak.” Deril senyum-senyum sendiri.



            “Trus kok bisa bagus gitu ngejelasinnya?”



            “Wikipedia! Hahaha..” Deril menjawab santai sambil tertawa.



            Aku meninggalkan Deril.



            “Hey.. Eril!! Tunggu.. Mau kemana??”



            “Mau nyari bajaj.”



            “Buat apa? Kan acaranya belum beres?”



            “Buat diselipin ke mata kamu biar kelilipan.”



            Deril memasang wajah datar. “Yaudah, selagi Eril nyari bajaj, mari kita liat cuplikan waktu dia ketiduran di kelas. Hahaha..”



***



 



            “HENTIKANN!! HENTIKAN!! HENTIKAAAANNNN!!!! TUAN ENUTRA!! TOLONG AKUUU!!”



            Aku tersentak cukup hebat. Aku tertidur selama kuliah. Mimpi itu datang lagi bahkan disaat seperti ini. Tapi ketika aku terbangun, seperti ada seseorang yang menatapku dari depan. Aku mengusap mataku. Ternyata Vivi sedang menatapku tanpa ekspresi beberapa saat hingga akhirnya dia kembali lagi membaca bukunya. Aku hanya diam kebingungan, seperti efek kebanyakan orang yang baru terbangun dari tidurnya.



            Mataku sempat terpejam kembali sebentar. Namun kali ini hal aneh terjadi lagi, bukan hanya Vivi yang menatapku. Semua orang di kelas menatapku! Dan ketika aku mengalihkan pandangan menuju  sebelah kiriku, seorang pria paruh baya berdiri dihadapanku dengan ekspresi yang tidak mengenakkan.



            “Hari pertama kuliah kamu sudah tertidur?? Mengecewakan. Keluar sana! Cepat cuci mukamu!”



            Aku terkejut. Ternyata yang ada di sampingku itu adalah dosenku!



            “A.. Anu.. I.. Iya pak.” aku berjalan menuju pintu keluar kelas.



            Semua orang di kelas menertawakanku. Sungguh memalukan. Rasanya ingin kelas ini segera berakhir. Tapi, hanya satu orang yang tidak menertawakanku. Iya, Vivi lagi-lagi hanya menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi. Bukan, dia terlihat seperti bersedih!? Kenapa dia?



***



 



            “Hahaha.. Makannya jangan coba-coba tidur di kelas. Apalagi kalau itu hari pertama di kelas kamu.”



            Aku datang sambil membawa minuman kaleng bersoda. “Apa sih yang lagi diketawain?”



            “Ga ada.” Deril menahan tawa. “Ngomong-ngomong mana bajaj-nya? Hahaha.”



            “Ga jadi, kasian tukang bajaj-nya, takut terhina kalau bajaj-nya diselipin di mata kamu.”



            “Gimana kamuu ajaaa..”



            “BTW, ini minuman buat kamu.”



            “So sweet..”



            “Gay!!” aku berteriak sambil berlari menjauh.



            Deril melemparkan minuman kaleng ke kepalaku. “Kurang ajar lu!”



            “Aduh.. Yasudah.. Karena makin lama tulisannya makin kisruh ga jelas, kami akhiri aja Dunia Semu Spesial chapter pertama ini. Sampai jumpa di chapter dua yaa.”



            “Woy gua bukan gay woy!!” Deril berteriak dari jauh.



***



 


Baca Juga

7 Tips Memilih Tempat Kursus

oleh: Dipo Dwijaya

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 375
  • 0
  • 0
  • 0
  • Opini

Tukang Batagor Z

oleh: bima whynot

Apa yang terjadi jika Udin si tukang batagor mewariskan kekuatan asing yang melebihi perkiraan super....

  • 471
  • 2
  • 2
  • 0
  • Cerita Pendek

Suatu Hari di Masa SMA

oleh: sahlan khan

cuma cerita absurd yang kekanak-kanakan

  • 681
  • 1
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari endru1290

DUNIA SEMU

oleh: E. N. Putra

Eril Nusantara, seorang mahasiswa baru, tiba-tiba terbangun pada suatu tempat dan tubuh yang asing ....

  • 22845
  • 15
  • 51
  • 0
  • Serial

Pandemi: Kita Semua Terlambat Menyadarinya

oleh: E. N. Putra

Sungguh ramai di sini. Tapi, yang terlihat bukanlah kehidupan. Ini bukanlah keramaian yang biasa. Se....

  • 1465
  • 1
  • 2
  • 0
  • Serial

Dunia Semu Spesial

oleh: E. N. Putra

Kalau ibarat martabak, martabak spesial itu telurnya dua. Nah kalau Dunia Semu Spesial.. Silahkan ta....

  • 1671
  • 3
  • 6
  • 0
  • Opini