Jendela Akhirat

olehcandramalik Diterbitkan 10 July 2015

Jendela Akhirat


oleh: Candra Malik



 



Aku tidak tahu, maka aku menulis. Ini prinsip dasarku sebagai penulis. Dulu, di masa awal ketika mulai diminta menjadi pembicara, aku masih enggan mengiyakan karena dalih itu pula. Aku penulis, bukan pembicara. Seiring waktu, aku kemudian mengerti bahwa forum yang menghendaki aku menjadi pembicara pun memberi bahan-bahan untukku menulis. Sebaliknya, tulisan-tulisanku juga bisa kujadikan materi untuk berbicara di depan publik.



Jadilah aku kini penulis dan pembicara. Penulis yang berbicara, pembicara yang menulis. Hanya saja, celakanya, aku bukan pembaca. Aku penulis, bukan pembaca. Sehingga, dalam kegiatan bedah buku atas buku-bukuku sendiri, aku acap mengatakan bahwa aku lupa sudah menulis apa. Tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah, sedikit pun. Di sisi lain ini membuka pintu selebar-lebarnya bagi pemateri lain—para pembedah yang terhormat—untuk menilai bukuku.



Aku bukan pembaca; setidaknya aku bukan pembaca buku; setidaknya lagi: aku bukan pembaca buku yang baik. Sebuah buku, karya siapa pun itu, telah mengalami nasib yang sangat baik jika kusobek plastik pembungkusnya. Lebih baik lagi jika kubaca halaman-halaman pertama buku itu. Bukan maksudku untuk memandang sebelah mata buku siapa pun, tapi ini semua karena dua mataku tidak kuat berlama-lama melihat aksara-aksara buku, apalagi membaca.



Namun, membiarkan diri tetap berada dalam suasana batin yang ummiy telah memberikanku suasana batin yang khusyu dalam menerima isyarat-isyarat semesta ketika menulis. Membebaskan diri dari rasa mengajari dan menggurui adalah persoalan terbesar bagi penulis dan pembicara. Dan, berusaha sekuat tenaga untuk tetap ummiy adalah suatu ikhtiar yang keras untuk mengatasi itu. Maka jadilah forum-forum di mana aku berbicara menjadi forum ngudarasa.



Ngudarasa berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa, yaitu ngudar dan rasa. Ngudar bermakna membuka, melepas ikatan. Rasa memiliki bertingkat-tingkat makna; dari mulai perasaan yang paling permukaan sampai yang paling dalam. Ngudarasa bisa diartikan sebagai saling berbagi rasa. Curhat. Siapa pun boleh bertanya apa pun, boleh pula menjawab apa pun. Toh hakikinya ia yang bertanya telah memiliki jawaban sendiri. Ia hanya butuh didukung dan dimengerti.



Aku tidak tahu, maka aku menulis. Aku menulis ketidaktahuan-ketidaktahuanku menjadi cerita, esai, kolom, lagu, atau bahkan buku. Jika pun pembaca seolah menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaannya selama ini, itu hanya menegaskan betapa kita sesungguhnya memiliki pertanyaan yang sama. Dalam benakku, jangan sampai pengetahuan kita menolak pengetahuan orang lain. Jika itu yang terjadi, rasa-rasanya lebih baik tidak tahu apa-apa saja.



Menjadi banyak tahu, itu mudah. Pura-pura tidak tahu, itu susah. Menjadi sok tahu, itu tidak istimewa. Menjadi suka memberitahu, itu tidak percuma. Aku tahu aku berada di posisi yang mana. Kau tahu berada di mana posisimu? Ada yang tahu dirinya tahu. Ada yang tahu dirinya tidak tahu. Ada yang tidak tahu dirinya tahu. Ada yang tidak tahu dirinya tidak tahu. Ada pula yang lebih tahu dan tahu diri untuk tak berlebihan.



Tidak membaca bukan berarti tidak belajar. Toh membaca pun tidak selalu berarti belajar, dan belajar tidak selalu harus dengan membaca. Belajar tidak selalu identik dengan membaca buku. Membaca tidak harus pula membaca buku. Semesta raya tergelar sebegitu rupa untuk dibaca. Kubaca. Kaubaca. Kita baca. Ada yang menghadirkan kembali hasil pembacaannya itu dalam wujud yang baru, berupa tulisan, lukisan, rancangan, tarian dan lain-lain.



Apa jadinya membaca jika hanya justru menjadikan kita gemar mengutip kata-kata orang lain, dan kehilangan kata-kata kita sendiri? Apa guna membaca bila malah menjadikan kita mempunyai banyak pengetahuan tapi merasa cukup dari mengambil pengalaman orang lain? Bagaimana rasanya menemukan sendiri pengetahuan baru dari mengalami pula sendiri kejadiannya? Itulah prinsipku dalam menulis: menulis pengetahuan dan pengalamanku sendiri.



Jago mengutip pernyataan orang lain bukan berarti jago dalam melaksanakan apa yang ia kutip itu, bahkan belum tentu ia pernah mengalami. Daripada mengutip ucapan dan/atau tulisan orang lain, mengapa tidak kau ucap dan/atau kau tulis saja pernyataanmu sendiri? Mengapa tidak mulai kau bela dan kau perjuangkan pendirian dan kemandirianmu sendiri? Mengapa kita harus selalu meniru orang lain, bahkan menjadi orang lain? Bukankah itu rugi?



Jika aku ingin menjadi seperti orang lain, maka aku butuh menempuh seumur hidup orang itu untuk menjadi seperti dirinya. Jika dilihat secara produktivitas saja, misalnya ia makin hari makin produktif, maka ia akan dua kali lebih hebat pada dua kali lipat angka umurnya yang sekarang. Padahal, aku telah menjalani hidup sebagai diriku sendiri sejak lahir hingga kini. Mengapa harus kukhianati diri sendiri demi menjadi orang lain?



Membaca juga sebuah karir. Harus memiliki ilmu berenang yang baik agar tidak terbawa arus bacaan. Perkataan memiliki kekuatan jika mempertemukan logika bahasa dan rasa bahasa. Dan, permainan kata-kata adalah permainan yang sangat berbahaya, jika bukan yang paling berbahaya. Di dalam lidah terkandung lisan dan tulisan. Julur lidah serupa alif; kata dan aksara. Belum lagi diberi harakat, alif sudah menyimpan hakikat. Membaca pun harus hati-hati.



Aku tidak tahu, maka aku menulis. Dari ketidaktahuan itulah aku berangkat ke mana saja menemukan pengetahuan baru dan pengetahuan lama. Tidak hanya dari membaca buku, tapi juga dari membaca penulisnya. Jika buku adalah jendela dunia, bukankah kita seharusnya melihat akhirat sewaktu membukanya? Jika buku adalah jendela bumi, bukankah kita seharusnya melihat  kegaiban galaksi saat membukanya? Tapi bagaimana jika kau di luar buku? []



 



*Candra Malik, praktisi Tasawuf yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan


Baca Juga

Kiat Hidup Berkah

oleh: euisdamarw

simak ya

  • 238
  • 2
  • 0
  • 0
  • Kiat

Glock

oleh: Noor H. Dee Rex

Seorang ateis yang ingin bunuh diri untuk membuktikan ketiadaan tuhan.

  • 1009
  • 3
  • 2
  • 0
  • Cerita Pendek

Puisi Kala Dhuha

oleh: Achmad Aditya Avery

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 345
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi
Karya Lainnya dari candramalik

Jendela Akhirat

oleh: candra malik

Synopsis is not available

  • 685
  • 0
  • 1
  • 0
  • Esai