Blog

Tanya-Jawab Bersama Dee Lestari

Diterbitkan 30 April 2016

Pada suatu hari kami bersepakat untuk mewawancarai seorang penulis Indonesia yang sudah terkenal. Pilihan pertama jatuh kepada Dee Lestari, seorang penulis bestseller yang baru saja menerbitkan novel tebalnya yang berjudul Intelegensi Embun Pagi.

Tanpa berpanjang kata, karena kami tahu kalian tidak akan sudi membaca paragraf pembuka ini berlama-lama, kami langsung hadirkan tanya-jawab ini untuk kalian semua. Semoga terinspirasi!

Jika kamu adalah sebuah novel, kamu ingin ditulis oleh siapa? Kenapa kamu memilih pengarang itu?

Enid Blyton, karena saya akan disuguhi banyak sekali limun jahe.

Jika memiliki kesempatan untuk berpacaran dengan sebuah kata, kamu ingin berpacaran dengan kata apa? Boleh tahu alasannya?

Energi, karena energi tidak bisa dimusnahkan.

Jika membaca sebuah buku akan membuat usiamu bertambah 5 tahun, dan semakin banyak membaca buku artinya kamu akan semakin cepat tua, apakah kamu masih tetap ingin membaca buku?

Saya akan berhenti dan gantinya akan menulis saja. Saya lebih bisa hidup tanpa membaca ketimbang tanpa menulis. Sumber inspirasi tidak semata dari buku. Jika diamati dengan jernih dan jeli, hidup ini sebenarnya adalah buku besar yang tak akan habis dibaca.

Jika writer’s block mendatangimu dalam wujud manusia, apa yang akan kamu lakukan terhadapnya? Mengusirnya dengan sapu, menendangnya ke jurang, menghajarnya sampai babak-belur, atau apa?

Akan saya ajak bicara baik-baik, saya suguhi teh panas dan kue-kue kecil. Writer’s block itu cuma ingin didengarkan saja maunya apa. Nanti setelah dia puas curhat, dia akan pergi dengan sendirinya. Dilawan cuma buang-buang tenaga. Dalam curhatnya, writer’s block biasanya membawa pesan terselubung bagi kita, sebuah paket pembelajaran. Kalau kita dengarkan dengan baik dan pesan darinya sampai, justru kita yang beroleh manfaat.

Jika salah satu tokoh fiksimu diberi kesempatan untuk hidup menjadi manusia sungguhan, siapa yang akan kamu pilih? Bisikkan kepada kami kenapa kamu memilihnya. Kami janji tidak akan memberi tahu siapa-siapa.

Toni alias Mpret. Dia manusia yang sangat berguna, apalagi di era digital seperti ini, sangatlah menyenangkan jika punya tech support yang bisa diandalkan. Apalagi Toni itu orang yang sangat setia kawan. Di lain sisi, dia juga orang yang low-maintenance, nggak banyak tuntutan, dan mandiri. Berkawan dengan dia sama sekali tidak merepotkan.

Jika pada suatu hari Puisi menghubungimu melalui telefon, Cerpen mengirim pesan kepadamu melalui email, dan Novel mengetuk pintu rumahmu berkali-kali, mana yang lebih dulu ingin kamu tanggapi? Semua hal itu berlangsung dalam waktu bersamaan.

Saya akan dahulukan novel. Saya menyukai kerja yang panjang, cerita yang kompleks, dan jika bicara pasar, novel punya prospek pasar yang lebih bagus dibandingkan puisi dan cerpen.

Jika kamu diberi kesempatan oleh Presiden untuk menghapus 3 kata yang terdapat di KBBI, kata-kata apa saja yang akan kamu pilih untuk dihapus? Tenang, kami tidak akan menanyakan alasannya.

Mangkus, sangkil, dan gegara. Yang terakhir tidak ada di KBBI, tapi saya ingin sekali menghapusnya dari percakapan sosial media.

Jika saat ini kamu sedang duduk bersama Dave Eggers dan Ana Castillo pada jamuan makan malam, kira-kira apa yang akan kamu bicarakan bersama mereka?

Saya pernah jamuan makan malam bersama Vikram Seth dan Sebastian Faulks. Satu hal yang saya amati adalah, dalam kesempatan seperti itu, biasanya yang terjadi justru pembicaraan dengan topik umum, bukan teknik menulis, bukan pula proses kreatif. Pada kesempatan seperti itu, yang kita dapatkan biasanya adalah persona mereka sebagai “manusia biasa”, bukan kreator. Jadi, dengan Dave Eggers barangkali saya hanya akan menikmati humor dan kecerkasannya, yang saya harap terefleksi dalam persona kesehariannya jika ditemui langsung (bisa jadi ia lucu ketika menulis saja). Dengan Ana Castillo, mungkin saya akan bicara hal yang umum seputar kultur Amerika Latin dan mungkin dia ingin tahu tentang kultur Indonesia. Sejujurnya, jika boleh memilih, saya lebih memilih kesempatan mengobrol dengan para penulis nonfiksi yang menjadi referensi saya, seperti Graham Hancock dan Amit Goswami.

Jika kamu adalah manusia paling jujur sedunia, tolong katakan kepada kami, judul buku apa yang paling ingin kamu singkirkan di muka bumi ini.

Tidak ada. Dan, itu jawaban jujur. Saya menghargai adanya buku yang tidak saya suka sama halnya dengan kehadiran buku yang saya suka. Buku yang tidak saya suka perlu ada agar saya bisa tahu jangan sampai saya menulis seperti itu. Itu kompas yang sama penting dengan buku-buku yang saya suka. 

Jika semua tanya-jawab ini adalah mimpi, menurutmu apakah ini termasuk mimpi indah atau mimpi buruk?

Mimpi indah. Saya selalu suka jika hal-hal abstrak seperti ide dianalogikan seperti makhluk konkret. Justru dengan cara seperti inilah kita bisa lebih memahami yang abstrak.  

Terima kasih banyak atas jawaban-jawabannya. Semoga tanya-jawab ini bisa memantik imajinasi dan kreativitas bagi mereka yang membacanya. Aamiin.

Terima kasih sama-sama untuk wawancara yang menarik.

Share this :