Blog

Menulislah dengan Kata yang Tepat

Diterbitkan 21 April 2016

Salah satu hal terpenting dalam menulis adalah memilih kata yang tepat. Sehebat apa pun gagasan yang ada di dalam benak penulis, tidak akan tesampaikan dengan baik jika ditulis dengan menggunakan kata yang tidak tepat.

Kata yang tepat di sini bukanlah kata yang indah. Sebab, seindah apa pun kata yang kita gunakan, kalau tidak tepat, akan menjadi kata yang buruk. Sebaliknya, sesederhana apa pun kata yang kita gunakan, kalau penggunaannya tepat, akan menjadi kata yang indah. Sebab, bagi saya, kata yang indah adalah kata yang tepat.

Kecenderungan penulis, khususnya penulis prosa saat ini, adalah berindah-indah kata—tanpa peduli apakah kata yang mereka gunakan itu adalah kata yang tepat atau tidak.  

Lantas, apakah salah jika penulis ingin menulis dengan kata-kata yang indah? Tentu saja tidak. Setiap orang menyukai keindahan. Setiap orang ingin terlihat indah. Namun, apa artinya kata-kata indah jika penggunaannya tidak tepat?

Jika kalian ingin mengetahui contoh kata yang tidak tepat, di bawah ini akan saya berikan beberapa contohnya.

Pada suatu hari, saya membaca sebuah cerpen yang kalimat pertamanya seperti ini: “Malam semakin kembung.” Astaga, ujar saya dalam hati. Malam yang kembung itu seperti apa? Apakah malam bisa kembung? Jika bisa, apa yang menyebabkan malam bisa kembung? Setelah itu, tanpa pikir panjang, saya langsung berhenti membaca cerpen tersebut sejak kalimat pertama.

Selain kata kembung yang tidak tepat untuk menggambarkan malam, saya juga menemukan kata yang tidak tepat di cerpen yang berbeda. Kata yang tidak tepat itu juga terdapat di kalimat pertama. Huft. Bukankah kalimat pertama dalam cerpen adalah hal yang sangat penting?

Kalimat tersebut seperti ini: “[...]segala ucapan yang keluar dari mulutnya penuh dengan noda-noda yang teramat menyakitkan bagi setiap telinga yang mendengarnya.”

Noda adalah sesuatu yang terlihat, bukan terdengar. Sesuatu yang terlihat selalu berhubungan langsung dengan indera penglihatan, yaitu mata, bukan telinga.

Selain dua contoh di atas, lagi-lagi saya menemukan kata yang tidak tepat di cerpen yang berbeda. Dan, lagi-lagi, kata yang tidak tepat itu terdapat dalam kalimat pertama!

Berikut isi kalimatnya: “Tiba-tiba saja Ilpan berlari ke ruang tamu, kemudian memagut ayahnya yang sedang asyik membaca koran dengan manja.”

Astaga. Dalam KBBI, memagut bermakna mematuk; mencatuk; menggigit (tentang ular). Berarti, memagut adalah pekerjaan bibir atau mulut atau gigi. Kalau yang saling memagut itu adalah sepasang kekasih tidak masalah, malah bisa menambah kesan romantis dan erotis. Namun, di cerpen tersebut yang memagut adalah seorang anak kepada ayahnya. Saya tidak bisa membayangkan adegan anak memagut ayahnya. Kalau pun bisa, saya tidak mau membayangkannya. Apalagi tema cerpen itu bukan tentang incest, bukan tentang hubungan asmara antara anak dan ayah. Lagi pula, kalimat tersebut juga ambigu. Frase “dengan manja” itu untuk siapa? Anaknya atau ayahnya? Tentu saja maksudnya adalah anaknya, tapi si penulis tidak tepat menaruh kata manja dalam kalimat tersebut.

Begitulah kira-kira. Tujuan saya mencantumkan beberapa contoh cerpen di atas adalah agar pembaca bisa mengetahui seperti apa kata yang tidak tepat itu, bukan untuk menjelekkan para penulis cerpen di atas.

Sekian.[]

UPDATE: Maaf, ternyata kata memagut dalam bahasa daerah bermakna memeluk. Jika demikian, berarti kata yang dipilih sudah tepat. Hanya frase dengan manja saja yang masih ambigu dan tidak tepat penempatannya.

Share this :