Blog

Menulis dan Imajinasi (bagian 1)

Diterbitkan 28 April 2016

Teman saya bertanya begini, “Bang, kalau saya ingin bisa menulis, kira-kira apa yang mesti saya pelajari dulu?” Karena kebetulan saya pernah berdiskusi dengan Nuruddin Asyhadi, seseorang yang bisa dibilang sangat cerewet dalam hal-hal teknis elementer yang terdapat dalam seni menulis, saya pun memberi jawaban begini, “Kamu harus belajar tentang dasar-dasar ilmu menulis dulu. Jika kamu sudah menguasai hal itu, kamu pasti bisa menulis.” Entah dia mengerti atau tidak, saya tidak tahu. Saat itu ia hanya mengangguk-angguk, dan beberapa hari kemudian saya melihat ia membaca buku tentang cara menulis paragraf.

Jika teman saya bertanya seperti itu ketika saya belum mengenal Nuruddin, mungkin jawaban saya begini, “Kalau kamu ingin bisa menulis, kamu harus banyak baca buku. Seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kalau kamu tidak suka membaca buku, lebih baik kamu tidak usah menulis.” Intinya, syarat untuk bisa menulis adalah membaca. Titik. Tidak boleh tidak. Pemahaman tersebut sudah mengendap di kepala saya selama bertahun-tahun. Namun, setelah mengenal Nuruddin, akhirnya saya tahu, bahwa pemahaman saya itu bisa dibilang keliru.

Ngomong-ngomong, siapa sih Nuruddin Asyhadie? Sejujurnya saya juga tidak tahu. Saya mengenal lelaki itu di Facebook, tepatnya di grup Kritik Sastra yang dibuat oleh Profesor Faruk Tripoli. Di grup tersebut Nuruddin terlihat sangat cerewet dan kerap mengkritik penulis-penulis Indonesia. Ia mengatakan bahwa penulis-penulis Indonesia sebenarnya masih belum bisa menulis. Ia juga sering membahas tentang apa itu paragraf, apa itu kalimat, apa itu kritik sastra, dan yang lain semacamnya. Dalam hati saya berkata, mungkin Nuruddin adalah seorang lelaki yang betul-betul mengerti tentang seluk-beluk seni menulis. Kira-kira begitu.

Jujur saja, sebagai penulis pemula, kepala saya seperti dihantam oleh Nuruddin. Apa yang saya pahami tentang dunia tulis-menulis ternyata bisa dikatakan masih sangat sedikit. Saya akhirnya sadar bahwa ternyata selama ini saya tidak mengerti bagaimana menyusun kalimat dan paragraf. Bisa dibilang, Nuruddin itu seperti jam weker yang berdering sangat nyaring ketika saya sedang asyik tertidur pulas.

Sebagian besar penulis di Indonesia, menurut saya, belajar menulis dengan cara membaca buku. Para penulis belajar merangkai kata dan menyusun kalimat dari buku-buku yang mereka baca. Semula saya tidak merasa ada masalah dengan proses pembelajaran semacam itu. Namun, lagi-lagi kepala saya dihantam oleh Nuruddin. Dalam sebuah pesan di Facebook, Nuruddin berkata begini: “Belajar menulis dari seni menulis, bukan pada contoh. Ini prinsip, ya. Membaca contoh hanya bermakna kalau kamu memahami prinsip-prinsipnya terlebih dahulu. Membaca atau mempelajari contoh adalah untuk melihat bagaimana prinsip-prinspi itu bekerja. Dalam contoh itu bisa saja ada kesalahan.”

Nah, intinya, kembali lagi ke pembahasan awal, jika ingin belajar menulis, belajarlah seni menulis. Jika kita belajar menulis dari buku yang kita baca, sedangkan kita belum tahu prinsip-prinsip menulis itu seperti apa, kita tidak tahu apakah buku yang sedang kita baca itu memiliki kesalahan elementer atau tidak. Jika buku tersebut memiliki kesalahan, besar kemungkin apa yang nanti akan kita tulis pun tentu mengalami kesalahan serupa. Hal ini akan menjadi lingkaran setan.

Lantas, saya teringat dengan seorang ilustrator keren asal Bandung, JJ Wind, yang pernah berkata kepada saya, kira-kira bunyinya begini: “Seorang ilustrator harus menguasai teknik dasar menggambar. Kita pasti bisa menggambar dengan gaya apa pun setelah kita menguasai teknik-teknik dasarnya dulu. Kita tidak akan bisa menghancurkan aturan-aturan teknis yang ada jika kita tidak memahami dan menguasai aturan-aturan tersebut.” Intinya sama. Kuasai teknik-teknik dasar terlebih dahulu.

Untuk penulis pemula, sebaiknya kita pelajari hal-hal dasar menulis. Biarlah kita mundur ke belakang sedikit agar kita bisa melompat ke depan sejauh-jauhnya. Untuk mengarang karya fiksi, sebelum kita mempelajari tentang apa itu penokohan, latar, plot, tema, sudut pandang, dan yang lain semacamnya, terlebih dahulu kita harus mempelajari tentang bagaimana memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, merangkai paragraf yang koheren, sehingga tersusunlah sebuah wacana yang utuh dan layak untuk dibaca.

Meskipun Haruki Murakami pernah berkata “Tak ada kalimat yang sempurna”, setidaknya ucapan tersebut janganlah kita jadikan alasan untuk bemalas-malasan.[] (bersambung ke bagian 2)

Share this :