Blog

Menulis Cerpen Seno Gumira Ajidarma itu Gampang

Diterbitkan 22 April 2016

Mungkin judul artikel ini bisa dianggap merendahkan karya-karya Seno Gumira Ajidarma (selanjutnya saya sebut SGA). Bukankah sesuatu yang "gampangan" itu sering dianggap rendah? Namun, percayalah, tujuan artikel ini bukan untuk merendahkan karya-karya penulis berambut gondrong itu. Lagi pula, siapa saya berani-beraninya merendahkan mutu penulis Saksi Mata, Sepotong Senja untuk Pacarku, dan Iblis Tak pernah Mati itu?

Sejujurnya, judul artikel ini meniru judul Menulis Puisi Nirwan Dewanto itu Gampang yang terdapat dalam Tumblr Mekitron. Judul tersebut, entah mengapa, selalu terngiang-ngiang dalam benak saya. Saya kepingin menulis seperti itu juga, dengan judul yang seperti itu juga. Dan, inilah hasilnya.

Mengapa harus SGA? Pertama, saya dulu sempat amat sangat mengidolakan beliau. Kedua, selain saya, banyak sekali yang mengidolakan beliau. Beliau sudah seperti berhala di dunia cerpen Indonesia. Banyak yang memujanya sedemikian rupa dan tidak sedikit yang mencoba menirunya juga dengan cara sedemikian rupa. Jadi, adalah wajar jika saya memilih SGA dalam pembahasan artikel ini.

Oke. Sekarang, mari kita mulai. Bagi kalian yang ingin menulis cerpen seperti SGA, berikut saya berikan beberapa tips yang semoga saja bisa memudahkan kalian dalam menulis cerpen ala SGA.

Cerpen SGA itu Telling

Dalam dunia kepenulisan, kita tentu sering mendengar diktum: show, don’t tell. Maksud dari diktum itu adalah kita jangan mengatakan (tell) bahwa seseorang itu kesepian, misalnya, tapi tunjukkanlah (show) bahwa seseorang itu sedang kesepian. Jadi, alih-alih menulis, “Paimo adalah  pemuda yang kesepian”, lebih baik kita tunjukkan seperti apa kesepian yang Paimo rasakan.

Nah, SGA sepertinya tidak peduli dengan diktum show, don’t tell itu. Kebanyakan cerpennya, menurut saya, bisa dibilang telling, bukan showing. Apakah itu salah? Ternyata tidak, sebab cerpen-cerpen SGA ternyata masih asyik untuk dibaca. Hanya saja, mungkin cara telling-nya harus ditulis dengan cara yang asyik.

Contohnya mungkin seperti ini:

Hampir setiap malam, ketika orang-orang sudah tidak ada lagi yang melakukan percakapan, ketika langit malam sudah tidak menawarkan apa-apa lagi selain warna hitam, ketika bintang-gemintang terlihat semakin genit berkerlap-kerlip seolah-olah sedang menggoda siapa pun yang sedang memandangnya, Paimo merasa kesepian.

Kebanyakan Cerpen SGA itu Kalimatnya Panjang-Panjang

Kalau kita perhatikan, SGA itu sering menggunakan kalimat panjang. Bahkan, saking panjangnya, ada yang sampai menjadi satu paragraf. Itu sebabnya contoh yang saya tulis di atas kalimatnya cukup panjang. Saya tidak tahu mengapa SGA senang dengan kalimat panjang. Apakah dengan begitu dia bisa melakukan eksplorasi bahasa? Entahlah.

Sering-Seringlah Mengajukan Pertanyaan

Ini adalah salah satu ciri cerpen SGA yang sering saya temui. Dalam narasi yang beliau tulis, sering terselip pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya selalu diserahkan kepada pembaca. Pertanyaan-pertanyaan yang beliau utarakan pun bukan pertanyaan yang rumit dan ruwet, bahkan cenderung sederhana. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang terselip dalam narasi-narasi cerpen SGA: “Terbuat dari apakah kenangan?”, “Pandai bercerita tidak harus berarti pandai mengarang, bukan?”, “Di manakah batas antara dongeng dan kenyataan?”, “Apakah mereka mencari dirinya sendiri di luar jendela?”, dan lain semacamnya.

Nah, jika kamu kepingin menulis seperti SGA, sering-seringlah kamu menulis pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaannya tidak usah rumit dan ruwet.

Misalnya, seperti ini:

Paimo tidak pernah tahu dan mungkin memang tidak akan pernah tahu mengapa hampir setiap malam dia selalu merasa kesepian. Sesekali dia pernah bertanya kepada seseorang perihal yang kerap dia rasakan. Namun, seperti yang sudah-sudah, dia tak pernah mendapatkan jawaban. Hmm. Apalah artinya hidup jika kita tidak pernah mendapatkan jawaban?

Dialog dalam Cerpen-Cerpen SGA

Selain itu, SGA juga sering bermain-main dalam dialog. Maksud “bermain-main” di sini adalah SGA sering menulis dialog dengan begitu lincah dan tidak membosankan. Bacalah cerpennya yang—hanya menyebut beberapa contoh—berjudul Seperseribu Detik Sebelum Pukul 16:00, Dongeng Sebelum Tidur, Taksi Blues, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Kematian Paman Gober, dan Patung. Di sana kamu akan mendapatkan pelajaran bahwa ternyata dialog pun bisa begitu mengasyikkan.

Misalnya, tulislah dialog seperti ini:

“Apakah kamu pernah merasakan kesepian?” tanya Paimo kepada seseorang.

“Sering,” jawab seseorang itu.

“Sering?”

“Ya, sering.”

“Sesering apa?”

“Entahlah, pokoknya sering.”

“Apakah kamu menderita?”

“Tentu saja menderita.”

“Apakah kamu menangis?”

“Kenapa sih kamu ingin tahu segala?”

“Aku cuma ingin tahu.”

“Apakah kamu sedang merasa kesepian?”

“Sepertinya begitu.”

Ending Terbuka dan Mengejutkan

Sepertinya SGA tahu betul bahwa salah satu kekuatan sebuah cerpen ada di ending­-nya. Itu sebabnya, kalian akan menemukan bahwa cerpen-cerpen SGA kerap ber-ending terbuka atau mengejutkan. Ending jenis ini adalah ending yang disukai oleh kebanyakan orang. Ending yang bikin kaget atau ending yang nyebelin karena tidak memberikan solusi sama sekali. Namun, percayalah, semakin menyebalkan sebuah ending, semakin abadi di benak pembaca. Jadi, jika kamu ingin menulis cerpen seperti SGA, akhiri cerpenmu dengan cara yang nyebelin!

Demikianlah! Semoga artikel ini cukup membantu kalian yang ingin menulis cerpen seperti Seno Gumira Ajidarma. Terima kasih karena sudah membaca. Silakan sebar artikel ini tanpa meminta persetujuan dari saya.

Salam,

Noor H. Dee

Penyuka karya-karya Seno Gumira Ajidarma.

Share this :