Blog

Kiat Sederhana agar Cerpenmu Dimuat di Koran

Diterbitkan 3 May 2016

Setiap cerpenis tentu ingin karyanya dimuat di koran. Selain akan mendapatkan honor dan karyanya akan dibaca oleh banyak orang, kredibilitas sang pengarang tentu akan diperhitungkan di jagat sastra Indonesa. Apalagi jika koran yang memuat karyanya itu adalah koran nasional, tentu nama sang pengarang akan mulai dikenal. Itu sebabnya, banyak cerpenis yang sangat berharap agar karyanya dimuat di koran.

Sayangnya, upaya agar cerpen kita dimuat di koran itu ternyata tidak mudah. Kita akan bersaing dengan puluhan bahkan ratusan cerpenis yang juga memiliki keinginan yang serupa dengan kita. Apalagi jika cerpen kita ternyata tidak bagus-bagus amat, aduh, bisa dipastikan cerpen kita tidak akan dimuat. Jangankan dimuat, dibaca oleh redakturnya pun tidak. Menyedihkan sekali, bukan? Tentu saja. Makanya, menangislah yang kencang mulai dari sekarang.

Namun, sebelum air mata kita kering karena meratapi nasib menjadi cerpenis ala kadarnya, alangkah baiknya kita simak kembali peribahasa ini: “Sebelum ajal berpantang mati.” Makna peribahasa tersebut adalah kita jangan mudah menyerah dan putus asa. Banyak jalan menuju Roma, banyak angkot menuju Bogor. Kita harus tetap semangat. Berhentilah menangis. Usap air mata. Ikat kepala. Pecahkan saja gelasnya, jangan gelas gue! Ya, kita harus bangkit berdiri dan berteriak lantang ke arah matahari: “Cerpen gue pasti bakal dimuat! Pasti bakal dimuat! Bakal dimuat!”

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya agar cerpen kita dimuat di koran? Nah, itu dia masalahnya. Bagaimana caranya?

Sebelum memberi tahu caranya, saya ingin bercerita sedikit tentang proses bagaimana cerpen saya yang berjudul Kacamata dimuat di Koran Tempo.

Pada suatu hari, saya berkata seperti ini kepada teman saya, “Gue bakal kirim cerpen ke Koran Tempo seminggu dua kali! Biar redakturnya pusing mendapat kiriman cerpen dari gue terus-menerus! Masa sih enggak ada satu pun yang dimuat!” Saat itu teman saya tertawa.

Setelah mengatakan itu, saya pun menulis cerpen seperti orang kesurupan. Setiap hari saya menulis cerpen. Temanya tentang apa saja. Tentang bayangan, jam tangan, botol kaca, tongkat, ujung dunia, pintu, kacamata, gajah, dan apa pun yang menurut saya bisa dijadikan bahan cerita. Setelah itu, setiap minggu saya selalu kirimkan cerpen-cerpen saya itu ke Koran Tempo. Seperti yang pernah saya bilang ke teman saya di atas, saya mengirim dua cerpen dalam satu minggu.

Hasilnya? Belum sampai sebulan “penyerangan” terhadap Koran Tempo itu saya lakukan, saya mendapatkan email balasan dari Koran Tempo yang menanyakan no rekening saya. Haha! Itu tandanya salah satu cerpen saya ada yang akan dimuat. Saya belum tahu cerpen saya yang mana yang akan dimuat oleh Koran Tempo, sebab saya mengirim cerpennya banyak.

Ketika hari Minggu tiba, saya mampir ke loper koran yang lokasinya dekat dengan rumah saya. Saya membeli Koran Tempo dan membuka halaman khusus untuk cerpen, di sana terlihat sebuah judul cerpen karangan saya: Kacamata.

(Ilustrasi cerpen Kacamata oleh Munzir Fadly)

(Ilustrasi cerpen Kacamata karya Munzir Fadly)

 

Nah, dari cerita saya di atas, apakah kamu sudah mendapatkan petunjuk bagaimana caranya agar cerpenmu dimuat di koran? Ya, kamu benar! Kirimlah cerpenmu sebanyak-banyaknya!

Ibarat ingin menembak seekor burung pipit di atas pohon, jangan gunakan senapan angin, tapi gunakanlah AK47. Sekali tekan  picu puluhan peluru menyerbu. Meskipun misalnya ternyata semua peluru kita meleset, setidaknya burung pipit itu akan jatuh pingsan karena kaget! Hahaha!

Tentukan target koran mana yang ingin kamu tuju. Tulis cerpen yang banyak, minimal satu minggu kirim satu cerpen. Kirim terus sampai cerpenmu dimuat. Serang sampai bosan. Sampai redaktur koran itu pingsan!

Namun, meskipun menulis cerpen banyak-banyak, setidaknya kamu harus tetap menjaga kualitas. Segala masalah elementer menulis harus sudah kamu kuasai dengan baik. Semua unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen harus sudah kamu hafal di luar kepala.

Satu lagi, meskipun ternyata cerpen kita berhasil dimuat di koran, itu bukan berarti kita sudah keren. Kita jangan langsung merasa sudah menjadi cerpenis andal dan mengagumkan. Sebab, terkadang alasan sebuah cerpen dimuat di koran tidak terlepas dari masalah subjektivitas sang redaktur. Dalam hal cerpen saya yang dimuat, misalnya, siapa tahu saja bukan karena cerpen saya bagus, melainkan karena redakturnya kasihan melihat saya terus-menerus mengirim cerpen ke inbox-nya. “Daripada inbox gue penuh sama cerpen dia, mendingan gue muat aja deh!” mungkin begitu kata redakturnya. Hahaha!

Sekian. Semoga bermanfaat.

Noor H. Dee

(Jika ingin membaca cerpen Kacamata, silakan baca di sini)

Share this :