Blog

Cara Menulis Puisi (bagian 3-habis)

Diterbitkan 9 April 2016

Ini adalah bagian terakhir dari seri tentang cara menulis puisi. (Baca Cara Menulis Puisibagian 1 dan Cara Menulis Puisi—bagian 2)

Cara menulis puisi—masalah-masalah dalam puisi yang bisa kamu hindari

Berikut adalah beberapa masalah umum yang sering membuat puisi mengalami kegagalan. Tentu saja, tidak ada larangan untuk melakukan kesalahan-kesalahan itu. Kamu bisa menulis semau kamu. Tapi demi menghasilkan puisi yang bagus, tidak ada salahnya untuk mengikuti aturan, bukan?

Kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi dalam puisi:

1. Berpikir bahwa hal-hal yang indah akan membuat puisi menjadi indah. Bunga mawar dan perhiasan, kita sepakat, memiliki keindahan. Namun, menyertakan mereka ke dalam puisi kamu tidak akan lantas membuat puisi itu menjadi indah. Kamu bisa kok menulis puisi indah dari sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak indah, seperti ikan busuk yang tersimpan di bawah kulkas. Keindahan sebuah puisi berasal dari bagaimana puisi itu dibuat dan apa makna yang muncul dari dirinya.

2. Sentimentalitas. Sentimentalitas adalah emosi palsu atau berlebihan. Pernahkah kamu mendengar seseorang yang berulang kali mengatakan, "Bukankah itu bagus?" atau "Bukankah itu indah?" atau "Bukankah itu menyenangkan?" terhadap sesuatu yang sejujurnya kamu tidak menganggap itu bagus, indah, dan menyenangkan? Kamu pasti tahu bahwa semakin ngotot seseorang mengatakan itu bagus/indah/menyenangkan, semakin hal itu menjadi enggak menarik. Kita semua ingin memutuskan sendiri, apakah itu menarik atau tidak.

Sentimentalitas dalam sebuah puisi hanya akan terlihat seperti sedang merengek, tidak tulus, dan mengasihani diri sendiri. Sebab, sesuatu yang berlebihan itu memang tidak oke, termasuk emosi yang berlebihan. Jadi, bagaimana caranya agar ketika menulis puisi kita bisa mengeluarkan emosi secara tepat? Praktik terbaik biasanya biarkan saja pembaca memutuskan sendiri. Alih-alih mengatakan kepada mereka ada sesuatu yang menyedihkan, lebih baik tunjukkan kepada mereka aspek-aspek yang membuat kamu merasa sedih. Kemungkinan besar pembaca akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan maksud si penulis.

3. Kata-kata Arkais atau kuno. Ya, banyak penulis pemula yang menggunakan kata-kata arkais atau kuno dalam puisi-puisi mereka, dengan tujuan bermacam-macam: supaya sulit dimengerti, supaya dianggap memiliki perbendaharaan kata yang berlimpah (padahal cuma modal kamus dan tesaurus), dan supaya terkesan lebih puitis (padahal biasa saja).

4. Klise. Kalimat semacam "kecantikanmu seperti purnama" atau "hatimu suci seputih salju" atau "sunyi seperti malam" adalah contoh dari kalimat yang klise. Kalimat-kalimat semacam itu sudah sering dipakai berkali-kali dan sudah tidak memiliki kesegaran sama sekali.

Ketika kita mengatakan bahwa seseorang itu "manis seperti gula", frasa "seperti gula" adalah pemborosan. Hal itu tidak menunjukkan informasi apa-apa tentang seseorang itu. Dan hal itu tidak menawarkan perspektif yang baru dan unik  terhadap sesuatu yang manis, sebab kita sudah terlampau sering mendengarnya. Hal itu juga menunjukkan kesan kepada pembaca bahwa tidak ada nilai kebaruan dalam puisi itu. Cukup disayangkan, sebab setiap penyair harus memiliki sudut pandang baru dan unik terhadap sesuatu yang ingin ia tunjukkan.

Demikianlah. Semoga saja artikel ini bisa membuatmu lebih memahami sedikit tentang puisi.[]

Share this :