Blog

Bagaimana Menulis Fiksi yang Baik?

Diterbitkan 21 June 2016

Alasan orang-orang membaca karya fiksi cukup beragam: agar terhibur, agar merasakan petualangan ke sebuah dunia yang sama sekali baru, agar merasa takut dan waspada, agar tertawa, agar merasa sedih dan menangis, agar merasa tertantang untuk berpikir lebih dalam, dan lain-lain.

Jadi, sebagai pengarang fiksi, apakah kamu siap menawarkan beberapa hal tersebut kepada para pembaca? Apakah kamu siap membuat pembacamu tersedot ke dalam cerita yang kamu karang? Kalau siap, bagaimana caranya? Di bawah ini kami akan memberikan beberapa cara agar kamu bisa menulis karya fiksi yang mampu membuat para pembacamu jatuh cinta.

Menulislah dengan Kreatif

Salah satu cara agar karya fiksimu dicintai oleh para pembaca adalah kamu harus mahir merangkai kalimat yang dapat memberikan imajinasi ke dalam benak para pembaca.

Bacalah kalimat di bawah ini.

“Akhir-akhir ini Anton menganggap istrinya hanyalah sebongkah tahu yang lupa diberi garam. Tawar.”

Dan, bandingkanlah dengan kalimat di bawah ini.

“Akhir-akhir ini Anton merasa bosan dengan istrinya.”

Kalimat manakah yang menurutmu lebih hidup dan imajinatif? Tentu saja kalimat pertama, bukan? Pada kalimat pertama pembaca dapat langsung membandingkan istri Anton dengan sebongkah tahu. Ada metafora di sana. Metafora adalah majas perbandingan yang mampu membuat sesuatu yang abstrak menjadi konkret. Menjadi lebih nyata dan hidup.

Sedangkan pada kalimat kedua pembaca tidak akan mendapatkan apa-apa selain informasi bahwa Anton bosan dengan istrinya. Titik. Selesai sampai di situ. Tidak ada apa-apa lagi setelahnya. Pembaca mungkin mengerti apa yang Anton rasakan, tapi tidak dapat merasakan apa yang Anton rasakan. Pembaca hanya membaca tanpa tenggelam ke dalam dunia cerita.

Penulisan karya fiksi adalah penulisan kreatif. Tanpa kreativitas, karya fiksimu akan mudah mati dan cepat dilupakan pembaca.

Menulislah dengan Pancaindra

Selain harus kreatif, kamu juga harus bisa melibatkan pancaindra ke dalam karya fiksimu agar lebih hidup: rasa, aroma, suara, dan lain sebagainya.

Perhatikan kalimat berikut.

“Anomi berdiri di tepi jurang yang bergetar. Aroma laut menyapa hidungnya dan angin senja menggoyangkan rambutnya. Debur ombak di bawah sana seperti memanggil-manggil namanya. ‘Anomi ... Anomi ... lompatlah. Kami akan menangkapmu’.”

Perhatikanlah klausa seperti “tepi jurang yang bergetar”, “aroma laut”, “angin senja menggoyangkan rambutnya”, dan “debur ombak”, semuanya melibatkan pancaindra. Dengan begitu, para pembaca bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Anomi.

Hindari Ungkapan Klise

Klise adalah monster paling menakutkan bagi setiap pengarang fiksi. Beberapa ungkapan seperti “Semerah darah”, “Seputih salju”, dan “Sehitam tinta”, adalah contoh klise yang sudah sepatutnya kamu hindari. Buatlah ungkapan-ungkapan yang lebih segar seperti, “Semerah pipi seorang gadis yang sedang jatuh cinta”, “Seputih lilin yang meleleh terbakar api”, “Sehitam bayangan yang menempel di tembok-tembok rumah ketika matahari tepat berada di atas kepala”.

Begitulah. Kami kira cukup sampai di sini. Selamat mencoba![]

Share this :