Makhluk [Selesai]

olehblassreiter Diterbitkan 21 March 2018

#1 Di Bawah Awan Mendung

Azka mengecek penunjuk jam di ponselnya. Masih pukul setengah tujuh pagi, tapi pemuda berambut sedikit gondrong itu sudah berjalan di kampusnya, melewati lorong dengan ruang-ruang dosen di kanan-kiri. Tas selempang agak kusam yang dipakainya terus bergoyang seirama langkahnya.



“Hai, Om.” Azka menyapa seorang petugas yang sedang mengepel, kemudian melongok ke salah satu ruangan dosen yang kosong melompong.



“Pasti mau ketemu pak Pandu, ya?” balas si petugas kepada pemuda berperawakan sedang itu.



“Iya, Om,” jawab Azka, sedikit berjinjit melewati bagian yang belum dipel, lalu duduk di kursi panjang sambil bersila, tak mau sepatunya mengotori lantai. “Hari ini pokoknya harus bisa bimbingan. Biar cepat selesai skripsinya.”



Si petugas terkekeh saat Azka menguap begitu lebar. “Tapi kamu juara tiga, tadi ada dua mahasiswa yang mau ketemu Bu Riska di lantai dua.”



Suara langkah sepatu ringan membuat Azka menoleh ke arah kedatangannya tadi. Seorang gadis ramping dengan rambut lurus sebahu tengah berjalan mendekat.



“Pak Pandunya belum dateng,” ucap Azka kepada gadis bernama Mira itu.



Mira menghela napas. “Pokoknya hari ini harus ketemu. Kita nggak boleh ngelewatin momen kedatangannya.”



Azka terkekeh. “Padahal temen-temen seangkatan kita kayaknya gampang banget ketemu dosen buat bimbingan. Beda banget sama kita.”



“Dia kan dosen tersibuk di fakultas hukum ini,” gerutu Mira.



“Pagi-pagi kok udah ngomongin dosen,” ledek si petugas.



“Kualat, loh,” sambung Azka.



Mira cuma merengut. Azka terkekeh kembali, lantas mengeluarkan ponselnya untuk mengecek aplikasi chat dan media sosial, ritualnya untuk membuang kebosanan saat menunggu.



“Eh, kamu nanti ikut reuni temen-temen SMA kita nggak?” tanya Azka, teringat akan rapat teman-teman sekelasnya duludi grup chat.



Mira terdiam sejenak. “Minggu besok, ya? Aku nggak tahu, kayaknya hari itu ada acara.”



“Aku juga niatnya pulang ke Purbalingga,” ucap Azka. Ia sudah akan bertanya acara yang Mira maksud itu. Namun, saat melihat Mira membuang muka, Azka mengurungkan niatnya, enggan dianggap terlalu ingin tahu.



“Purbalingga? Bukannya rumah kamu sini aja, ya? Purwokerto?”



“Udah lama kali aku sama keluargaku pindah ke Purbalingga.” Azka tersenyum.



Meski dulu sempat sekelas waktu SMA, Azka dan gadis manis berkulit putih itu jarang berbincang saat kuliah. Selain beda kelas, Mira aktif di UKM bahasa inggris, sementara Azka tak mengikuti organisasi apa pun. Mereka baru sering bertemu ketika mendapat dosen pembimbing yang sama. Wajar kalau Mira tak tahu kehidupan Azka. Azka berusaha maklum, walau hatinya tetap kecewa.



Berusaha mengusir pikiran yang tidak-tidak, Azka memfokuskan diri pada linimasa akun media sosialnya. Seperti biasa, kebanyakan berisi ucapan kata-kata motivasi, lapak jualan, atau keluh-kesah. Tak ada yang istimewa. Kecuali satu, status milik sepupunya di Jakarta mampu membuat keningnya mengernyit.



Bayu Dhinakara



1 menit yang lalu



Yang ada di langit itu UFO?



Tiba-tiba saja, dua orang mahasiswa berlari melewati Azka dan Mira untuk menuju pintu keluar.



“Ada apa? Kok lari-lari kayak anak kecil?” tegur si petugas, berdecak karena lantai yang baru dipelnya terkena tapak kaki mereka.



“Ufo, Pak!” teriak salah satu dari mahasiswa itu, samasekali tak melambatkan lari.



Azka dan Mira langsung bertukar pandang. Merasa penasaran, Azka bangkit dari duduknya untuk ikut pergi keluar. Mira mematung sejenak, sebelum akhirnya membuntuti pemuda itu.



Begitu sampai di luar, Azka melihat dua mahasiswa tadi tengah mendongak, salah satunya menunjuk ke atas. Azka bergabung bersama mereka dan ikut menengadah.



Saat itu juga, aliran listrik seolah mengaliri setiap jengkal tubuh Azka.



Di langit, tepatnya di bawah awan mendung, Azka melihat benda asing berbentuk segitiga pipih dan berwarna hitam.



“Itu ada lagi!” Salah satu dari mahasiswa itu menunjuk arah lain.



Azka mengedarkan pandangan dengan gerakan kaku. Benda-benda itu cukup banyak tersebar di berbagai mata angin. Semuanya tak bersuara dan diam di tempat, seolah ada tali yang menggantung mereka dari langit.



Azka mengangkat tangannya, membuat gestur seolah akan memegang benda terdekat di barat daya. Benda itu seakan hanya sejengkal di tangannya, dan dia tak bisa mengira-ngira ukuran sebenarnya. Apakah posisi benda itu cukup rendah, sehingga skala aslinya tak terlalu besar? Ataukah sangat tinggi, sehingga seolah-olah tampak kecil, padahal ukurannya sangat masif?



Apakah itu pesawat? Buatan manusia? Dari mana asalnya? Apa tujuannya? Azka tak tahu dan itu mulai memicu jantungnya berdegup kencang,



 


Baca Juga

Sifat Ke-13

oleh: Zero November

Dony Fahrizal adalah seorang remaja yang baru memasuki dunia dengan seragam putih abu-abu. Ia tidak ....

  • 2010
  • 0
  • 1
  • 0
  • Novela

Di Luar Jangkau Jaringan

oleh: tamafandira

Sebukit keputus asaan, satu intensi terkutuk dan sebuah jalan.

  • 105
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Bunga Mawar Merah dan Mawar Transparan

oleh: Liatia Dwiyani

Dua bunga yang mempunyai perbedaan. Btw, kalo gak ngerti di komen

  • 430
  • 0
  • 0
  • 0
  • Serial
Karya Lainnya dari blassreiter

Captain Emerald

oleh: Blass Reiter

[Cerita superhero dengan bumbu humor] Setelah mendapat kekuatan untuk memanipulasi benda apapun men....

  • 95
  • 0
  • 0
  • 0
  • Serial

Abnormalisasi Part II

oleh: Blass Reiter

Dia abnornmal... -Update tiap hari senin.

  • 5491
  • 1
  • 2
  • 0
  • Serial

Numb

oleh: Blass Reiter

Apakah hidupmu dikontrol orang lain?

  • 583
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek