Abnormalisasi Part II

olehblassreiter Diterbitkan 20 September 2014

Diam


Berhubung tanggal 22 September penulis tidak bisa memposting, maka abnormalisasi kali ini hadir lebih awal.



-------------



Tempat itu sangat mirip dengan ruangan yang ditempati oleh direktur sebuah perusahaan besar. Terdapat meja kerja lengkap dengan kursi, seperangkat sofa yang mengelilingi meja kaca, dan sebuah rak buku yang hanya terisi separuh. Sedangkan di salah satu sudut ruangan terpasang layar-layar CCTV yang menayangkan berbagai sudut dari suatu tempat. Tentu saja, karena ruangan ini adalah pusat kendali dari sebuah apartemen kumuh.



Namun sebenarnya apartemen ini adalah salah satu dari sekian banyak markas organisasi. Tidak hanya sekedar markas, apartemen ini juga digunakan untuk rekrutmen anggota, produksi narkoba, dan bahkan digunakan untuk menyekap orang.



Hebatnya semua aktivitas itu dikendalikan oleh seseorang yang masih sangat muda. Ardi, anak laki-laki dari pemimpin tertinggi organisasi.



Ardi duduk dengan rileks di kursi kerja dengan kedua tangan diletakkan di meja. Matanya menatap tajam seorang lelaki kurus yang berdiri di hadapannya.



Umur lelaki itu sekitar 40 tahun, terlihat dari sedikit kerutan di wajahnya. Dia banyak mengeluarkan keringat dingin, sehingga kemeja putih lengan panjangnya jadi agak transparan. Sudah lebih dari seperempat jam semenjak dirinya dipanggil oleh Ardi tanpa alasan jelas.



 “Enaknya diapain ya, Vin?” tanya Ardi kepada orang berkulit gelap dan bertubuh kekar yang berdiri di samping kirinya.



“Terserah,” jawab orang yang dipanggil Vin itu singkat.



Ardi lalu mencondongkan tubuhnya dan melipat tangannya ke atas meja.



Sementara itu, Fira yang juga ada di ruangan ini hanya terdiam. Dia memandangi Ardi dan lelaki kurus itu dari sofa tempatnya duduk. Fira takut Ardi berbuat sesuatu yang mengerikan lagi. Seperti halnya ketika Ardi secara tidak terduga menghabisi Bayu.



Sekarang Ardi beranjak dari kursi, berjalan ke samping lelaki kurus itu, merangkulnya, dan kemudian berkata, “Martin.”



“A...ada apa, Bos?” tanya orang yang dipanggil Martin itu terbata-bata.



“Sekarang elu yang duduk di sana gih,” perintah Ardi sambil menunjuk kursi tempatnya tadi duduk



“Maksud Bos?”



“Cepetan.”



Dengan ragu-ragu, Martin pun mengikuti kata-kata Ardi. Sekarang posisi mereka tertukar. Ardi berdiri dan Martin yang duduk di kursi.



“Elu pengen duduk di kursi itu kan?” nada suara Ardi mulai meninggi.



Kaki Martin seolah menjadi tak bertenaga, mulutnya bagai disegel agar tak dapat berbicara.



“GUE TAU KALAU ELU NGERENCANAIN KUDETA KE GUE! LU KIRA SEMUA ORANG KONTRA AMA GUE HAH!?” bentak Ardi tiba-tiba.



Martin terhenyak hebat, matanya melotot seperti melihat hantu. Hancur sudah, nyawanya akan berakhir di sini.



 “Nggak, Bos! Sumpah, Bos! Aku nggak pernah punya rencana begituan!” seru Martin, meminta belas kasihan.



Ardi mendongakkan wajahnya sedikit, sementara matanya masih tertuju pada Martin, “Sekarang pilih mana? Yang pelan apa yang cepet?”



“Ap...ap..panya bo...bos?”



“Ya cara elu mati lah,” jawab Ardi singkat



Tubuh Martin merosot, ada rembesan cairan di celana panjangnya. Matanya terpejam, bibirnya miring seperti orang struk. Kesadarannya lenyap, dia pingsan.



“Vin, bawa dia keluar,” desah Ardi kepada Vin.



Vin hanya mengangguk pelan dan langsung menggenggam kerah baju bagian belakang Martin, lalu menyeretnya keluar ruangan.



Fira yang sedari tadi mengamati adegan demi adegan tersebut cuma bisa meringis. Dia merasa kasihan terhadap nasib Martin yang mengenaskan. Tapi di saat yang sama dia merasa sangat lega, setidaknya Martin tetap hidup.



Setelah mengamati Vin yang membawa Martin keluar ruangan. Ardi pun menghampiri Fira. Lalu dengan santai Ardi berbaring di sofa sambil menaruh kepalanya ke pangkuan gadis itu.



“Hei!” seru Fira, risih.



“Boleh yaa? Aku lagi capek banget nih. Ya, ya?  Boleh ya, Fira?” desak Ardi, sekarang nada bicaranya jadi kekanak-kanakan.



Ardi pun menutupi matanya dengan lengan kanannya dan menghela napas.



“Dasar,” desah Fira.



Thanks.”



Akhirnya Fira pun pasrah Ardi menggunakan pangkuannya sebagai bantal. Sepertinya Ardi memang sangat lelah. Fira tahu, akhir-akhir ini Ardi menghabiskan malamnya tanpa tidur. Meski Fira tak tahu apa yang dilakukan kembaran pacarnya itu.



“Apa kamu senang sama apa yang udah kamu capai, Di?” tanya Fira



“Nggak.”



Kata itu membuat Fira tertegun sejenak, jawaban Ardi benar-benar di luar dugaan.



“Terus, buat apa semua ini?”



“Kamu akan tahu kalau udah waktunya,” jawab Ardi.



Suasana pun menjadi senyap tanpa suara. Fira memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Karena tampaknya hal itu percuma saja.



Aku nggak tahu kamu ini orang baik apa orang jahat, Di.



Terdengar suara pintu diketuk, tetapi Ardi diam saja.



“Ada yang ngetok pintu tuh,” ucap Fira.



Tetapi Ardi  tetap berbaring dengan tenang di pangkuan Fira.



“Woi, kamu tidur ya?” Fira pun mengguncang-guncangkan tubuh Ardi.



Bunyi ketukan pintu itu semakin lama semakin keras. Namun usaha Fira untuk membuat Ardi tidak ada hasilnya.



 “Masuk!” akhirnya Fira pun tak punya pilihan selain menjawab ketukan itu.



Pintu terbuka dan masuklah seorang gadis berambut pendek ysng mengenakan tank top abu-abu dan celana jeans tiga perempat. Napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru tenggelam.



 “Ma...Mas Ari ud...dah bangun,” kata gadis itu tanpa mengatur napas terlebih dahulu.



Fira pun langsung bangkit dari sofa dengan mata terbelalak, tanpa ingat kalau kepala Ardi masih ada di pangkuannya.



BUK! Tubuh Ardi pun jatuh dari sofa dan langsung menghantam lantai.



***



Ardi, Fira dan gadis berambut pendek berdiri di sebuah ruangan. Mereka sedang memperhatikan seorang lelaki berselimut putih yang terbaring di atas dipan. Kondisi lelaki itu terlihat tidak sehat, wajahnya pucat pasi dan matanya sembab.



Kehadiran tiga orang di ruangan ini sepertinya tidak menarik perhatian lelaki tersebut. Pandangannya terpaku pada langit-langit ruangan tanpa pancaran kehidupan.



“Pas saya masuk ke sini buat nganterin makanan, saya lihat matanya Mas Ari udah kebuka. Langsung deh saya ke ruangannya si Bos,” terang gadis berambut pendek.



Fira berdiri mematung, perasaannya campur-aduk. Senang karena akhirnya Ari sadar dari pingsannya, sekaligus sedih melihat keadaan pacarnya itu. Dia heran, kenapa kekasihnya itu terlihat seperti baru saja menangis?



“Trus, apa Ari nggak nanyain elu?” tanya Ardi sembari mengucek matanya.



“Nggak Bos, waktu saya mbukain pintu, Mas Ari diem aja,” jawab gadis berambut pendek itu.



Fira lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan tempat tidur Ari. Dihapusnya setetes air mata yang ada di pipi Ari dengan jarinya. Kemudian dia mendekatkan jarinya itu ke bawah hidung Ari. Jantung Fira pun mulai berdesir.



Desahan napas lega terdengar dari mulut Fira.. Gadis ini bisa merasakan hembusan udara dari hidung Ari di jarinya.



“Ardi, Mbak Yuna, bisa minta tolong kalian berdua keluar sebentar?” pinta Fira lirih.



Gadis yang dipanggil Yuna oleh Fira itu pun langsung meninggalkan ruangan. Namun Ardi tetap bertahan di tempatnya sekarang.



 “Tapi...” keluh Ardi dengan mimik muka kecewa.



“Tolong.”



Ardi membuka mulutnya lagi, bermaksud menolak permintaan Fira. Namun  kata-kata yang ingin dikeluarkannya seakan tersangkut di tenggorokan. Bagaimanapun tidak ada alasan baginya untuk mencegah Ari dan Fira berduaan.



Ardi pun hanya menggigit pinggiran bibirnya karena kesal. Dan akhirnya meninggalkan ruangan ini.



Setelah kedua orang itu pergi, Fira pun melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di muka Ari, mengharapkan respon dari kekasihnya itu. Tapi tatapan Ari masih saja kosong, seolah tangan Fira bukanlah objek yang bisa dilihat.



“Ari, ini aku Fira, Ri,” ucap Fira lembut.



Ari tidak menanggapi kata-kata itu, seakan telinganya sudah tuli. Fira bertanya-tanya, mungkinkah ini cuma kebiasaan Ari yang kalau sudah fokus ke depan tak akan memedulikan keadaan sekitar?



“Ri, jawab dong,” Fira mulai putus asa.



Bahkan sekedar mengangkat alis pun tidak Ari lakukan.



“Ini nggak lucu, Ri,” suara Fira kini terdengar parau.



Fira mulai mengguncang-guncangkan tubuh kekasihnya tersebut. Tapi percuma, apa yang gadis ini lakukan tidak berefek sama sekali terhadap Ari.



 “Ari... Ari...” Erang Fira dengan kepala tertunduk lesu.



Guncangan di tubuh Ari semakin lama semakin keras. Fira terus memanggil kekasihnya itu. Namun Ari tetap diam membisu.



Setelah beberapa detik, Fira pun berhenti mengguncang-guncangkan tubuh lelaki itu. Air mata mulai menetes satu demi satu membasahi selimut yang digunakan Ari.



“ARIII!” Fira pun memeluk tubuh kekasihnya itu sambil dengan isakan keras.



***



Ini adalah hari kedua sejak Ari bangun dari pingsannya. Keadaannya masih tetap sama, dia masih tergeletak tak bergerak di atas tempat tidur. Berbagai stimulus sudah diberikan oleh Ardi dan Fira. Tapi percuma, Ari tak memberi respon apapun.



Mulut Ari bahkan tak mau terbuka untuk menerima ransum makanan. Sehingga yang bisa dilakukan Fira hanyalah menyuapi Ari dengan susu sedikit demi sedikit.



“Kamu inget nggak, Ri? Dulu waktu aku masih rehab, kamu itu kucuekkin terus?” kata Fira sembari menyuapkan sesendok susu putih ke mulut Ari. ”Sekarang gantian, aku yang dicuekkin.”



Fira pun tersenyum tipis, namun matanya berkaca-kaca. Kemudian ia menghapus setetes susu yang ada di ujung bibir Ari dengan lap. Setelah itu, Fira menaruh gelas kosong dan lap ke meja di sampingnya.



Walau Ari pernah ingin membunuhnya, Fira tak peduli. Pasti ada alasan logis kenapa kekasihnya ini mencekiknya.



“Kamu waktu itu lagi stres ya, Ri?” tanya Fira lirih.



Seperti kemarin, Ari tak memberi jawaban apapun.



Sudah bertetes-tetes air mata dikeluarkan oleh Fira. Namun keadaan Ari tak berubah sedikit pun. Tentu saja Fira sadar dirinya harus melakukan sesuatu. Tapi dia tak punya ide apapun.



Ah, Kenapa aku baru kepikiran sekarang!?



Fira pun bangkit dari duduknya dan langsung mengecup bibir Ari.



Sementara Ardi yang sedari tadi berdiri beberapa meter di belakang Fira hanya bisa mengamati adegan-adegan itu dengan hati panas. Ardi sangat iri kepada kembarannya.



Lagi-lagi Ardi menggigit pinggiran bibirnya dengan sangat keras, sekarang ditambah dengan memalingkan muka Tangannya sudah terlalu gatal untuk memisahkan bibir Fira dan Ari. Tapi Ardi menahan diri, bisa-bisa Fira malah menjauhi dirinya.



Menit demi menit berlalu, Ardi sudah tak kuat menghadapi situasi yang canggung ini.



“Err... Gimana keadaan Kakak?” tanya Ardi dengan mata masih melihat ke arah lain.



Seketika Fira melepaskan kecupannya dari bibir Ari dan berbalik.



Ardi pun menatap Fira. Begitu hancurnya hati Ardi ketika mengetahui Fira ternyata menangis.



“Eh...oh...Ardi, bikin kaget aja, kenapa nggak ngetuk pintu dulu?” jawab Fira sambil mengusap air matanya dengan gugup.



“Aku udah dari tadi ngetok, tapi nggak ada jawaban. Jadi aku langsung masuk aja deh.” Ardi berbohong, dia tadi masuk tanpa mengetuk pintu.



“Aku jadi ketularan Ari deh,” timpal Fira dengan tangan masih berusaha menghapus air matanya yang terus mengalir. “Eh, ngapain kamu bawa-bawa begituan?”



Mata Fira tertuju pada ember kecil berwarna hitam yang ada di tangan Ari.



“Ah ini? Ini bukan apa-apa kok,” balas Ardi sembari mengangkat ember itu.



Fira pun melirik Ari yang masih terbaring, ternyata kecupan yang tadi diberikan olehnya tak cukup untuk membuat Ari bangkit.



”Apa kita nggak bisa panggil dokter?” tanya Fira, terdengar nada getir dalam suaranya.



“Lagi dicariin kok, tapi kita nggak bisa panggil dokter biasa. Harus dokter ilegal.”



Fira menagis sesenggukan dan langsung berlari keluar kamar. Namun Ardi tidak berusaha menceganya. Lalu BLAM! Telinga Ardi pun mendengar bunyi pintu yang dibanting.



Untuk yang kesekian kalinya, Ardi pun menggigit sudut bibirnya kembali. Alasannya semakin kuat untuk bisa membuat Ari bangkit dari keterpurukan ini. Ardi tak ingin melihat Fira menangis lagi, apapun alasannya.



Ardi pun duduk di kursi yang tadi ditempati Fira. Kemudian dia menaruh ember yang dibawanya ke lantai.



“Gimana keadaan Kakak?” sapa Ardi menggunakan nada bicara kekanak-kanakannya.



Tak ada tanda-tanda kalau Ari mendengarkan ucapan kembarannya itu. Bahkan kini wajah Ari tampak semakin pucat. Ardi tentu sadar, kalau tetap dibiarkan seperti ini, keadaan kakaknya itu akan semakin memburuk.



“Sebenernya ada banyak yang pengen aku tanyain ke Kakak,” desah Ardi. “Tapi kayaknya nggak mungkin ngeliat kondisi Kakak yang kayak gini.”



Ardi mengambil sebuah kantong plastik hitam dari ember. Dan mengeluarkan kain hitam panjang, alat suntik yang masih terbungkus rapi, sebotol kecil air mineral, plastik transparan kecil berisi serbuk putih, dan mangkuk kecil.



“Kakak tahu apa ini?” tanya Ardi sambil memegangi plastik kecilnya. Cara bicaranya sudah kembali normal.



Ardi lalu memandangi lekat-lekat serbuk di dalam plastik tersebut. Inilah benda yang bisa membuat orang lari dari kenyataan.



“Kakak pasti nggak tahu yang namanya smack atau horse,” ucap Ardi lagi sambil menjulurkan plastik itu ke depan muka Ari. “Tapi kalau putaw pasti kakak tahu kan?”



***



Ardi duduk di kursi kerjanya sembari memencet-mencet tombol ponsel. Sementara Fira berdiri di hadapannya dengan dengan mimik tak percaya.



“Kamu bilang apa tadi?” tanya Fira.



“Iya kemarin aku nyuntik Kakakku, terus dianya muntah,” jawab Ardi ogah-ogahan.



“Kenapa nggak make yang lain?” timpal Fira lagi. “Yang nggak bikin muntah.”



“Yah, kalau pake itu kan efeknya bisa lebih cepet.”



Melihat Ardi yang menjawab seperti itu, Fira pun mengernyitkan dahi. Seakan takjub atas kata-kata dan nada bicara Ardi itu.



“Kok kamu bisa santai banget sih? Dia kan udah tiga hari nggak makan!” nada suara Fira mulai meninggi.



“Gimana, ketenangan aku udah mirip sama kakak belum?” mata Ardi berpindah dari layar ponsel ke wajah Fira.



Fira langsung mengayunkan tangan kanannya ke pipi Ardi tanpa basa-basi.



Namun dengan sigap Ardi menangkap tangan Fira itu sebelum mengenai sasaran. Kemudian Ardi pun meremas dengan keras tangan Fira yang tergenggam di tangannya tersebut.



“Lepasin!” ronta Fira sambil berontak. Tangannya kini terasa ngilu.



Ardi tidak mengindahkan permintaan pacar kembarannya itu. Sekarang tangan Ardi yang satunya malah ikut-ikutan meremas tangan Fira. Setelah itu, Ardi menutup mata dan perlahan mendekatkan tangan gadis itu ke hidungnya.



“Aku bilang Le-pa-SIN!” dengan sekuat tenaga, Fira pun menarik tangannya sebelum Ardi bisa melaksanakan niatnya. 



Fira pun memegangi telapak tangannya yang kini sudah terbebas namun masih terasa ngilu. Kakinya mundur beberapa langkah menjauhi meja kerja. Dipandanginya Ardi dengan tatapan jijik.



Ardi membuka matanya dan berkata, “Kakak boleh megang tanganmu, masa aku nggak boleh?”



“Aku kan bukan barang!” bentak Fira



Ardi tidak menjawab kata-kata itu, mukanya menyiratkan raut ketidak-bersalahan. Seolah perbuatan dan perkataannya tadi adalah hal yang wajar.



“Aku mau nyuapin Ari dulu!” Fira lalu membalikkan badan, bermaksud meninggalkan Ardi.



“Mulai sekarang kamu nggak bisa nemuin Ari.”



Fira yang telah berjalan beberapa meter pun menghentikan langkahnya. Kalimat yang keluar dari mulut Ardi itu benar-benar membuatnya terkejut. Apa sebenarnya arti dari semua ini?



“Maksud kamu apa?” tanya Fira, masih dengan posisi membelakangi Ardi.



“Aku udah bilang sama penjaga di depan pintu kamar Ari, pokoknya nggak ada yang boleh masuk kecuali aku.”



Fira memutar badannya, melangkah kembali ke hadapan Ardi, dan BRAK! Gadis itu menggebrak meja dengan keras.



“MAU KAMU APA SIH!” pekik Fira, matanya kini tampak berkaca-kaca.



“Kamu juga ingin Ari masuk organisasi kan? Kamu ingin dia jadi yang terpilih?” tanya Ardi dengan nada ketus. “Semua butuh proses Fi!”



Fira terhenyak, lalu mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Apa semua ini ada artinya? Apakah yang sudah dilakukannya ini benar?



Tapi penderitaan itu akan hilang ketika kita bangkit, ucap Fira pada hatinya sendiri. Ya, dia merasa harus menghapus keraguan dalam dirinya. Apalagi setelah bertindak sejauh ini.



“Terus, Ari makannya gimana?” tanya Fira lagi, dengan kepala tertunduk.



“Masalah itu biar aku yang urus. Aku janji, aku pasti bisa bikin kakak mau makan nasi,” tukas Ardi.



Tak ada tanggapan apapun lagi dari Fira. Dengan masih menunduk, gadis itu pun berbalik dan berjalan menjauh dari meja. Sekilas Ardi melihat kerlipan airmata yang terbang di udara ketika Fira akan pergi.



“Daripada ngurusin Ari, lebih baik kamu kembali ke lapangan,” ujar Ardi lagi. “Kamu itu bintang dalam hal menarik orang lain.”



Fira terus berjalan, seolah tak mendengar kalimat Ardi tersebut. Sementara mata Ardi mengikuti Fira sampai menghilang di balik pintu.



Kini Ardi hanya sendiri di tempat ini, ditemani oleh kesunyian. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke layar-layar CCTV. Matanya mengarah ke layar yang ada di pojok kanan atas. Dimana dia bisa melihat kembarannya sedang terbaring di atas dipan.



Ardi tak akan pernah menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada orang lain bila nanti ayahnya tiada. Menurutnya orang-orang organisasi itu tak dapat dipercaya. Kalaupun ada yang bisa dipercaya, belum tentu orang tersebut bisa memimpin organisasi.



Tapi kalau Ari pasti bisa! Aku sudah tahu ketika pertamakali melihat dia di tempat paranormal itu. Kehadirannya saja bisa menarik perhatian orang lain disekitarnya, walau sepertinya dia tidak menyadari kehebatannya itu.



Ya, Ardi adalah orang berkacamata yang dicurigai oleh Erik pada saat itu.



 



BERSAMBUNG





*Bila tak ada halangan, chapter berikutnya akan diposting pada tanggal 1 Oktober. Setelah itu, Abnormalisasi akan hadir seperti pada jadwal biasa.


Baca Juga

Kunjungan

oleh: Dzakiyyah Hanifatulqolbi

Assalamu'alaikum, Pak, Bu, aku pulang...

  • 152
  • 0
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

SEPATU KULIT

oleh: Septha Rima

Tentang seseorang dan sepatu kulit.

  • 193
  • 1
  • 0
  • 0
  • Serial

T E R P A S U N G

oleh: Queenita Anggrainy

Cerita sederhana ini saya buat sekedar mengcopi paste dari kejadian nyatanya di sekitar saya. Mudah-....

  • 190
  • 2
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari blassreiter

Captain Emerald

oleh: Blass Reiter

[Cerita superhero dengan bumbu humor] Setelah mendapat kekuatan untuk memanipulasi benda apapun men....

  • 95
  • 0
  • 0
  • 0
  • Serial

Abnormalisasi

oleh: Blass Reiter

Aku tahu ada yang tidak normal dalam hidupku... Mengapa aku tak bisa menatap mata mereka? Apa yang t....

  • 4096
  • 5
  • 5
  • 0
  • Serial

Moon Goddess' Chosen One [END]

oleh: Blass Reiter

"Kalian tahu legenda dewi bulan, kan? Dia memilih satu yang paling istimewa dari kaumku, seseorang y....

  • 238
  • 0
  • 0
  • 0
  • Serial