Detail Karya

anastiarahma
Karya lainnya oleh anastiarahma

Harapan, antara suka dan duka

oleh: anastiarahma

Harapan adalah hadiah untuk manusia Meminta kepada sangkuasa memang kebiasaan Bertautan tangan Me....

  • 3
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

SYIMPHONI YANG TAK TERBAYAR HARGA

oleh: anastiarahma

Saat matahari telah menggantung sempurna di atas kepala. Memamerkan cahaya yang sangat menyilaukan. ....

  • 5
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek
Baca juga

Secangkir Kopi Anita

oleh: zulfianprasetyo

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 213
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek

Berbahagialah Untukku

oleh: IamOrestilla

Bahwa waktu yang lama saja tidak menjamin kepastian cinta. Bahwa tak semua perjuangan panjang penuh ....

  • 196
  • 3
  • 4
  • 0
  • Cerita Pendek

Ketika Orang Hidup Harus Bekerja

oleh: euisdamarw

menyoal masalah anak-anak yang ....

  • 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek
Diterbitkan 24 October 2017

SYIMPHONI YANG TAK TERBAYAR HARGA

Ringkasan Cerita

Saat matahari telah menggantung sempurna di atas kepala. Memamerkan cahaya yang sangat menyilaukan. Bahkan sehelai tirai yang telah tergantung tak begitu membantu. Panas seperti ini memang biasa, dibumbui lagi dengan segala jerih payah keseharian sebagai seorang pelajar. Tak teruntuk diriku, tetelungkup pada kedua tangan seaakan sedang bersenda gurau dengan dunia khayalku. Yaa, inilah aku seorang gadis yang tengah terlelap disela teriknya matahari dan segala rutinitas sebagai pelajar. “Papa !! jangan berteriak di depan putrimu !!” pekik mama dengan tangis. “Ayao Rina, lepaskan tangan itu !!” balas papa sembari menarik keras tangan mungilku. “Lepaskan Pa ! biarkan dia bersamaku, dia juga putriku, aku yang akan membesarkannya !” teriak mama semakin histeris. “Mama..Papa” kataku lemah. “PLAAK !” tamparan keras mendarat di pipi mama. “Papa ?!” tersentak dari tidurku, aku memekik setengah tertahan ,tersadar akan diriku yang ditatap penuh tanya oleh teman sekelasku. “Apa yang kau lakukan Rina, sudah berapa kali kau mengacuhkan kelasku ! sekarang keluar !!” bentak wanita separuh baya yang sering dipanggil bu Eni, sedikit menahan emosinya. Tanpa berkata dan berekspresi lagi, Aku keluar ruang kelas seakan tidak ada kesalahan yang kuperbuat. (Apa itu? Apa aku bermimpi? Tidak, itu sangat nyata? Kenapa Pa? Kenapa Ma? Aku benci hidupku. Kenapa harus hidupku? Aku rindu papa, aku rindu mama) isakku dalam hati. Ku terus berjalan menyusuri koridor sekolah yang terasa berlorong panjang tak ada ujung. Isakku tak bisa terelakkan lagi, aku menangis, aku berlari, aku benar-benar benci hidupku. (Kenapa hanya aku yang selalu menganis? kenapa hanya aku yang selalu terpojokkan? Kenapa hanya aku yang selalu bertanya tanpa diberi jawaban? Kenapa hanya aku Tuhan ? Kenapa?) beribu pertanyaan menghujani pikiran serta hatiku, menyudutkanku hingga di relung kelamku. Hanya tangis dan senggukan yang kerap menemani hari-hariku. Tak ada aura kehidupan, semangat, harapan, bahkan seulas senyum dariku tak akan pernah ada yang menghrap. Begitu hancur dan menyedihkan hidupku. Terombang-ambing dikala aku ingin mati. “Rin?” sebuah sentuhan hangat menyentuh pundakku perlahan, mencoba menelisik keadaanku. Tunggu, aku kenal suara ini. Suara yang selalu hadir disetiap keadaanku sekalipun keadaan yang paling menyedihkan. Suara ini, yang selalu mengatakan semua akan baik-baik saja. Suara ini, suara yang selalu berceloteh ria akan kehidupanku. Suara ini, suara yang sangat aku harapkan saat ini. “Rina ? apa kau mendengarku ?”tanyanya begitu lembut di telinga. Tak ada jawaban dari mulutku. Hanya gelengan kepala, berharap dia akan mengerti. Tanpa sadar, sebuah pelukan kuterima. Tangis semakin menjadi, kutumpahkan segala emosi yang kutahan. “Tak apa Rin, aku bersamamu, aku akan menemanimu. Semua akan baik-baik saja.” Katanya lembut sembari mempererat pelukannya. Dalam sekejap, aku merasa aman, aku merasa tidak sendiri, aku merasa diperhatikan. terima kasih, karna mengkhawatirkanku. Teng..teng..teng, lonceng berdentum 3 kali menandakan berakhirnya rutinitas sekolah yang melelahkan. Hamburan murid-murid SMA 1 Nusa Harapan membanjiri area terluar sekolah. Keramain dan kepenatan sekolah seakan hilang seketika, yang tersisa guru-guru yang tengah berceloteh ria akan anak didik mereka masing-masing. “Rina !! tungguin, jalanmu cepet banget sih ?” gerutunya dengan terengah-engah. Tak ada jawaban dariku, hanya seulas senyum yang ku paparkan. “Idih, senyum doang. Serasa manis tuh senyuman” ejaknya kalem. Masih tak ada jawaban dariku, hanya senyuman yang lagi-lagi menjadi jawaban. “Aduh, bisa nggak Rin jawabnya pake kata-kata. Sorry kek, ada urusan kek, buru-buru kek, apa kek, ketemu kakek kek, tokek kek, apa kek !” katanya sedikit bergurau. “Maaf” kataku singkat kemudian berlalu. “Eh..bercandaan doang kali Rin, baper amat nih cewek. Lagi PMS yaa?” godanya manja. Aku tau, semua sikap, tingkah laku dan kata-katanya tak lain hanya untuk menghiburku yang terlihat seperti mayat berjalan. Beruntungnya aku memiliki seorang sahabat, satu-satunya sahabat yang selalu ada disaat-saat terburukku, yang mengerti aku lebih dari diriku sendiri. Syafa namanya, seorang yang dengan setia dan sabar berteman dengan aku yang lebih terlihat seperti zombi. Sejak kejadian 6 tahun yang lalu, hanya dia yang aku punya, hanya dia yang aku butuhkan, hanya dia yang selalu hadir saat terburukku, hanya dia yang mencukupi segala kebutuhan lahir dan batinku. Dan karna dia lah aku mampu bertahan bernafas hingga bangku SMA ditahun kedua. Tak pernah sedikitpun kubayangkan aku bisa bertahan menatih hidup, mengingat segala kenangan yang benar-benar membuatku ingin mati. “Rina? Maaf” katanya menyesal. “Iya Sya, nggak apa kok, aku nggak marah.”kataku dengan tersenyum. “Nah, gitu dong. Hehehe” serunya sembari memelukku. “Oh iya, hari ini pulang ke rumahku ya Rin. Aku punya tiket pasar malam nih, udah lama kan kita nggak ke pasar malam. Lagian besok kan hari libur tuh, ya Rin? Mau ya Rin?” pintanya memohon. Masih tak ada jawab dariku, hanya diam dan hening. Memang, sudah hampir 6 tahun aku belum pernah menginjakkan kakiku ke pasar malam, terakhir kali ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi, aku benar-benar tak berselera. Keluar, jalan-jalan, ataupun kegiatan seperti di hari libur bukannlah yang aku harapkan saat ini. Aku lebih memilih untuk diam di kamarku seharian penuh. “Rina?” panggilnya pelan yang berhasil mengagetkanku. “Eh..iya, kenapa ?” jawabku sedikit terbata. “Yaelah, gimana? Mau nggak kamu hari ini pulang ke rumahku lalu kita ke pasar malam bersama.” Jelasnya dengan senyum lebar. Syafa dan keluarganya tinggal berdekatan dengan kediamanku, tak begitu jauh hanya berjarak 3 rumah, membuat keluarga Syafa sangat mengenal aku dan mantan keluargaku. Yaa, mantan keluarga yang dulunya sangat aku cintai. Bukan karena telah almarhum aku sampai menyebutnya mantan, karna kelakuan yang sampai sekrangpun aku tak pernah bisa mengerti antara mama dan papaku. Sebenarnyapun, aku sekarang tinggal bersama mama dengan segala kemewahannya. Dan papaku... “Rina?!” panggilnya setengah berteriak. “Eh..eh, iya Sya kenapa ?” jawabku terbata-bata. “Tau ah Rina, kenpa kenapa mulu. Aku udah beruban nih nungguin jawabn mu.” Dengusnya pelan. “Ooh, iya Sya sorry deh. Gimana ya Sya, aku nggak bisa. Sorry banget.” Kataku menyesal. Sebenarnya bukan karna aku sibuk, tapi aku sudah terlalu merpotkan Syafa dan keluarganya. Kehidupanku yang menyedihkan selalu merepotkan keluarga Syafa. “Ayolah Rin, sibuk apa sih ? jangan bilang takut ngrepotin? Nggak Rina, ngak akan pernah ada kata repot di rumahku. Lagian emang mama yang sengaja ngebeliin tiket, kamu mau ngecewain mama? Lagian apa kamu tega ngeliat aku keluar sendirian ?” jelasnya memelas. “Ehm..gimana ya Sya. Iya deh aku mau. Aku akan pulang dulu ambil baju ganti setelahnya aku akan nyusul ke rumahmu.” Kataku dengan seulas senyum. “Nah, itu baru Rina. Sayang deh sama Rina.hehehe” soraknya sambil memelukku erat. Matahari kini mulai meredup, menanti sang malam yang mulai menyapa. Sautan angin yang menderu menyeruak antara ranting dan dedaunan membuat hati kian memilu dingin, mengharapkan pilinan sejahtera dalam gelapnya malam. Setelah seharian kutorehkan di bangku sekolah. Menyusuri tanjakan hidup yang kadang menjengkelkan. Berbagi keluh kepada seorang tersayang. Dan berakhir dengan sebuah hati yang tertikam dan terjeruji dari sebuah kenangan dan masa lalu. Sebuah lembaran hitam yang tak kunjung memutih membuatku ragu dalam menapaki dunia ini. Mencoba mencari kebenaran diantara orang-orang yang ku kasihi. Aah, sudah lama aku menyimpan perih hati. Mama, papa, aku rindu kalian. Papa? Aku merindukanmu. “Kreek” pintu rumah yang tampak kokoh ku buka perlahan. Kupandangi setiap sudut rumahku. Berharap kenangan indah itu muncul walaupun hanya sebatas mimpi. “Eh, Non Rina udah pulang. Sini Non, mau dibuatkan minum apa ? atau mau mandi dulu non ?” tanya Bi Yesi lembut. “Nggak usah Bi, Rina mau langsung ke kamar aja. Ngomong-ngomong, mama belum pulang Bi?” tanyaku acuh tak acuh. “Eh, iya Non. Sepertinya Ibu pulang telat Non.” “Heuh” hanya hembusan nafas pasrah yang ku lontarkan. Sebenarnya ini juga bukan kali pertamaku mendapatkan mama pulang terlambat. Tapi memng selalu seperti ini, hanya wajah Bi Yesi yang selalu menemaniku di rumah. Tanpa basa basi ku tinggalkan Bi Yesi yang masih mematung di runag tamu. Tatapan iba yang tak jarang kudapatkan, bahkan dari Bu Yesi sekalipun. Ku naiki tangga satu persatu dengan pikiranku yang menerawang jauh atas segala apa yang telah terjadi 6 tahun yang lalu. Ku susuri lagi ruangan-ruangan yang entah membuatkau lagi-lagi meneteskan air mata. Sampai kuhentikan langkah pada sebuah ruangan yang lebih berdebu dari yang lainnya. Kubuka perlahan, debu yang menyelimuti berterbangan seakan menyambut kehadiranku yang perlahan masuk. Kosong, tak ada apapun disana kecuali satu. Sesuatu yang membuat hatiku selalu berdebar, sesuatu yang dulu menjadi mahkotaku. Sesuatu yang menjadi akhir dari hidupku. Aku merindukanmu. Kulangkahkan kaki mendekat. Kuusap debu-debu yang menyelimutinya secara perlahan. Kutelusuri setiap sudutnya dengan jemariku. Sebuah piano tua yang berdebu kini ada dihadapanku. Kubuka perlahan, ku sapu sedikit debu yang sangat jelas terlihat. Kucoba menekan tuts, seketika air mata tak lagi bisa terbendung. Aku menangis. Semakin terisak, hingga kututup paksa piano tua itu dan ku berlari sekencang yang aku bisa. Ku tenggelamkan semua kesedihanku. Isakku tak mau berhenti, semakin keras dan tak terarah. Aku ingin berteriak, aku ingin marah. Tapi apa daya, hanya tangisan yang mampu aku sembahkan. Entah berapa lama aku menangis di atas tempat tidur, aku telah terlelap dalam kesedihan dan kemarahanku. Mentari sore perlahan menampakkan cahaya kemerahannya. Menelusup antara koreden biru muda yang menggantung lembut dibalik jendela. Warna dinding yang senada berubah kemerahan terpantul cahaya sore yang sedikit menyilaukanku. Kubuka mata perlahan, terusik akan cahaya yang menggelitik mata. Berusaha sekuat tenaga mengumpulakan kesadaran, setelahnya ku ambil jam beker yang tertata rapi di meja kecil samping tempat tidur. Jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Aah, sepertinya aku ketiduran cukup lama. Batinku dalam hati. Tunggu, aku lupa. Ke rumah Syafa, pasti dia sudah menunggu. Kataku dalam hati. Secepat mungkin aku bergegas melompat dari tempat tidur, berkaca sejenak melihat keadaanku. Heuh, Ada apa dengan wajahmu Rin? Benar-benar menyedihkan.” Dengusku dalam hati. “Ting..tong” “Rina? Akhirnya dateng juga, aku kira kamu nggak bakal dateng.” Serbu Syafa sembari menarikku ke dalam kamarnya. “Eh, itu. Sorry aku tadi ketiduran.” Jelasku sekenanya. Berharap Syafa tidak menyadari mataku yang seperti orang babak belur. Memang tidak mungkin dia tidak tau, sekarang saja tangannya sudah berhasil menyentuh mata kananku. Tapi apa ini ? tak ada respon apapun, hanya senyuman dari Syafa. “Rina, aku nggak akan bertanya tentang mata sembabmu itu. Aku hanya ingin kamu tau, aku disini dan selalu disini, aku selalu ada buatmu, nggak peduli siapa kamu, kenapa kamu, ada apa kamu. Aku tetep jadi sahabat setiamu. Jadi, pliis Rin, apapun yang terjadi denganmu, jangan pernah menangis sendirian. Ya ? berbagilah dengan temanmu. Ingat Rin, tidak ada kata merepotkan atau apaunlah itu dalam kamusku. Semua masalahmu adalah maslahku, semua masalahku juga masalahmu.ya Rin ?” kata Syafa dengan mata berkaca-kaca. Dan aku, hanya berdiam mematung. Entah harus menolak, berterima kasih atau apa, aku sendiri bingun apa yang harus aku ekspresikan. Sedetik kemudian, dia memelukku erat, “All is well Rina” bisiknya pelan. “Makasih Sya, makasih, makasih” kataku sambil terisak. Aku tak tau harus berterima kasih seperti apa lagi, karna tuhan telah menghadirkan sosok Syafa sebagai sahabatku. “Tok..tok, permisi, boleh tante masuk ?” sapa seorang wanita paruh baya di ambang pintu. Tante Rosmer, mamanya Syafa, super duper baik, perhatian dan seorang sosok mama yang selalu aku dambakan. “Idih mama, lagi momen mengharukan nih. Malah diganggu.” Kata Syafa sedikit manyun. “Hahaha, iya-iya maaf. Lagian sih, dari tadi mama nungguin Rina tapi nggak muncul-muncul. Mama keluar, udah ada sepatunya. Mama langsung ke sini deh.” Jelas tante Rosmer mencoba menjelaskan. “Maaf tante” kataku sopan. “Yaudah, nggak papa. Sekarang istirahat dulu, biar entar ke pasar malemnya fresh.” Saran tante Rosmer sambil mengacak lembut rambutku dan rambut Syafa. “Iya” jawab kita berdua serempak. Jam telah menunjukkan pukul 20.00 WIB, kami berdua tengah bersiap-siap pergi ke pasar malam. Sebenarnya tante Rosmer agak tidak setuju kami hanya pergi berdua. Tapi, berkat om Rendra, kami di izinkan hanya pergi berdua. Ini pertama kalinya setelah kejadian menyakitkan itu aku keluar untuk menghabiskan malam minggu. Sebelumnya aku hanya akan menghabiskannya dirumah ataupun dirumah Syafa. Kali ini, aku akan mencoba untuk menikamtinya. 25 menit berlalu sudah mengantarkan kita ke pasar malam. Ramai, batinku setal tiba. “Terima kasih pak, nanti aku telfon ya pak kalo udah mau pulang” kata Syafa pada sopirnya. “Iya mbak” “Ayo Rin kita masuk !!” teriak Syafa sembari menarikku. Ramai, berbagai kalangan bertumpah ruah untuk melepaskan kepenatan hidup. Semua permainan dan makanan tersedia, begitu terpampang jelas segala bentuk kebahagian setiap orang. Bergandeng tangan, bersenda gurau, suasana baru yang berhasil membuatku tersenyum dalam diam. “Gimana Rin !, nggak nyeselkan ke sini !?” tanya Syafa sedikit berteriak. Suara soundsystem berhasil membuat kita saling meneriaki satu sama lain. “Iya ! Thanks ya Sya. Makasih banget !” jawabku dengan senyum sumringah. Inikah persahabat yang sebenarnya, berbagi tawa dan sedih tanpa meminta imbalan dan tanpa rasa pamrih. Selalu dibelakangmu untuk mendorong dan mendukung apapun keadaanmu. Selalu di sampingmu untuk menggenggam dan menuntunmu dikala kau mulai tersesat dan terjatuh. Selalu di depanmu yang akan mengatakan semua baik-baik saja, yang akan selalu tersenyum dan menangis disaat bersamaan. Hanya bersamnya lah aku merasa ada, dan merasa dilahirkan kembali. Terimakasih Syafa, sahabatku. Tak kusangka sebelumnya, aku tertawa, menikmati segala kegembiraan yang tersedia. Berbagai wahana kekanakan kami naiki. Berbagai makanan masa kecil kami lahap. Kami bahagia. Oh tuhan, terimakasih atas hidup yang mungkin pernah kusesali. Untuk kesekian kalinya aku berterimakasih karna telah mengirimkan seorang seperti Syafa untuk menghapus masa laluku. “Kring..kring..kring” handphoneku berdering. Tanpa melihat nama sang penelfon, “Halo, ini siapa ya !?” jawabku setengah berteriak. “Ini mama sayang, kamu ada dimana?” lontar seorang diseberang telpon. Diam sejenak, beribu pertanyaan sedang bersarang dikepalaku. Untuk apa mama menelpon ? tidak pernah sekalipun mama berani ataupun mencoba menelponku ? kenapa? Aku berjalan menjauh dari kerumunan yang membisingkan. “Di pasar malam sama Syafa, kenapa ?” jawabku ketus. “Begini sayang, ada yang perlu mama bicarakan denganmu, penting. Bisakah Rina pulang sebentar ke rumah? Nanti akan mama jemput.” Kata mama perlahan. “Penting ? apaan? Rina nggak mau pulang, kalo emang mau bicara ya bicara aja di telpon, bisa kan ?” jawabku mulai sedikit naik pitam. “Tidak bisa sayang, ini sangatt penting. Mama mohon, pulang sebentar yang sayang” pinta mama lembut. “Baiklah” jawabku singkat bersamaan kuputuskan sambungannya. Hanya helaan nafas berat yang bisa kudengar. Berbagai pertanyaan yang aku sendiri pun bingung harus dari mana mengajukannya. Aku juga takut, belum pernah mama memintaku pulang seperti ini. Sepenting apa sih ? selidikku dalam hati. “Rina ? kenapa? Siapa yang telpon ?” tanya Syafa mengagetkanku. “Oh, ini, mama telpon Sya, dia memintaku pulang. Katanya ada hal penting yang harus dia bicrakan dengaku. Kira-kira apa ya Sya ? aku jadi takut ?” jawabku gelisah. “Udahlah Rin, nggak kenapa-kenapa kok. All is well. Aku akan nemenin kamu kok Rin. Janji, dan sekrang ayo kita pulang.” Kata Syafa mencoba menenangkanku. Aku masih takut, seberapa keras aku berfikir semua akan baik-baik saja. Tapi percuma, aku sangat gelisah. Mamaku memang, tapi dia lebih terlihat seperti orang asing bagiku. Seberapa keras Syafa menenagkanku, aku merasa itu tidak akan cukup. Suasana malam kota Malang begitu gemerlapan, berhiaskan lampu berwarna-warni disepanjang jalan. Tapi tidak dengan perjalanan ini, begitu mendebarkan. Dalam mobil, kami hanya berdiam tak bergeming, tak mengeluarkan sepatah katapun, sibuk dengan fikiran masing-masing. Aku tau Syafa mencoba tenang di depanku, tapi aku juga tau, dia sama khawatirnya dengan aku. 45 menit kemudian, mobil yang kami tumpangi sudah berada di halaman rumahku. Dan kulihat mama dan Bi Yesi tengah menungguku di pelataran rumah. Menyambutku dengan sambutan yang menyabalkan menurutku. “Hai sayang, bagaiman acaramu tadi?” tanya mama beramah tamah. “Baik” timpalku ketus. “Begitu ya, baiklah kalau begitu. Oh iya,,dan ini Syafa ya, sudah lama tidak bertemu. Semakin cantik ya?” puji mama semanis mungkin. “Eh, iya tante” jawab Syafa singkat. “Yaudah yuk masuk, diluar dingin” kata mama mempersilahkan. Langkahku semakin berat, berdebar antara takut dan gelisah. Oh tuhan, lindungi aku. Lindungi aku. Aku mohon. Pintaku dalam hati. Sekejap ruang tamu yang bergaya klasik modern berwarnakan biru tosca yang lembut tak berhasil menentramkan hatiku. Seperti akan diadakannya rapat pers para pejabat, aku, Syafa, mama dan juga..tunggu, siapa itu ? siapa laki-laki yang duduk disamping mama ? apa jangan-jangan.. “Begini Rin, sebelumnya tolong dengarkan mama terlebih dahulu. Mama mohon dengarkan penjelasan mama. Mama tau ini kelewatan, tapi mama mohon kamu bisa menerimanya.” Jelas mama perlahan. Terlihat jelas rona kekhawatiran mama. Suasana ini begitu tidak mendukung. Aku, hatiku bahkan otakku terlalu kelu untuk menerka apa yang akan dibicarakan mama. Dan siapa laki-laki itu ? Mama merubah posisi duduknya, yang semula berada di depanku, sekrang berpindah berada disampingku, merengkuhku, dan membelai rambutku. Aku hanya diam terpaku, membiarkan seorang mama melakukannya padaku. “Rina, kamu sudah dewasa sekarang. Mama tidak akan berbelit-belit. Mama mohon kamu menyetujuinnya. Itu Om Ares, mama berencana untuk menikah dengannya.” jelas mama sangat berhati-hati. Tak ada jawaban dariku, lidahku terlalu kelu untuk mengucap. Hatiku terlalu sakit. Otakku terlalu kelu untuk berfikir. Hanya mulut yang sedikit menganga dan buliran air mata yang tak dapat terbendung menjadi wali atas jawaban yang tak mampu kuberikan. “Tunggu sayang, mama tidak akan memaksamu. Mama hanya berharap...” “Berharap apa ma ??! berha..rap Rina akan merestui mama? Sela..ma ini Rina te..rima Ma, Rina nggak per..nah sedikitpun bertanya, memberontak sama mama tentang papa dan mama, Rina hanya di..am Ma. Saat papa pergi tan..pa mengatakan apapun, Rina hanya diam Ma, Rina mencoba ne..rima. Saat mama selalu sibuk, Rina juga terima. Tapi sekarang, apa ini yang mau mama berikan ke Rina?! Rina punya hati Ma ! Sekarang, sam..pai saat ini bahkan Rina nggak pernah sedi..kit..pun tau kabar papa, tapi apa pernah Rina bertanya ke mama ? apa seka..rang mama tau gimana keadaan Rina? Rina hancur Ma ! Rina benci hidup Rina !!!” cerca Rina beruntut dengan tangis yang semakin mejadi. “Rina..” “Cukup Ma, Rina nggak mau dengar apapun dari mama. Rina benci mama. Lebih baik Rina pergi sama papa !!” teriak Rina menjauhkan diri dari rengkuhan mama. “Rina...mama mohon..jangan benci mama, ini bukan seperti yang kamu pikirkan sayang” jelas mama sambil terisak. “Dan ini, apa ini ?!!” teriak Rina sambil menunjuk piano baru yang berada disamping ruang tamu. “Itu adalah hadiah untukmu Rina, kudengar kau sangat menyukai bermain piano” jawah om Ares lembut. “Hadiah? Untukku ? piano ? kau tau, aku benci piano! aku tidak akan bermain piano lagi. Apa lagi piano darimu !! pengahancur rumah tangga orang !!” teriak Rina semakin histeris. Tak tahan lagi, aku berlari keluar rumah, aku menangis sekencang-kencangnya. Aku benci hidup ini, aku benci mama! Aku benci mama!. Aku terus berlari tenpa menghiraukan teriakan-teriakan yang memanggilku. Papa? Aku rindu papa, aku ingin sama papa, papa dimana? Mama jahat Pa? Rengekku dalam tangis. Hingga tiba aku pada sebuah trotoar penyabrangan, pikiranku melayang entah kemana. Kulangkahkan kaki perlahan. “Tiiinnnnn!! Tiiinn! Tiinnn!” klakson mobil bertubi-tubi mengingatkanku. Tapi apa daya raga tak terasa batin terlalu sakit. Kututup mataku, kulanjutkan langkahku. A..ku ingin ma..ti. “Ciiiiitt, bruuuk !!” hantaman keras sebuah mobil berhasil menarik perhatian banyak orang. Dan diseberang terlihat Syafa berteriak histeris meminta tolong. “Rina? Rina? Bangun sayang, sudah pagi. Ayo kita sarapan, nanti terlambat loh !” kata mama lembut. Dimana ini ? apa ini di surga? Mama? Itu papa ? batinku. Sebuah pemandangan yang sangat aku rindukan, aku, mama, papa berkumpul bersam menikmati sarapan. Bahagia, damai. Tak terasa buliran air mata kembali membasahi pipiku. Apa aku sudah disurga ? “Rin, Rina ? bangun Rin ?” Kudengar suara yang sering aku dengar, Syafa ? perlahan kubuka mataku. Korden putih terpaut bersih menutupi jendela, ruangan yang serba putih mengelilingiku. Syafa ? terlihat jelas kini. Aku dimana? Apa kau sudah mati ? “Rina? Kamu baik-baik saja kan ? syukurlah, kamu pingsan selama dua hari” Tunggu, aku hanya pingsan? Lalu, siapa yang tertabrak ? selidikku. “Sya..a..ku pi..ng,,san ? la..lu si..a..pa yang ter...tabrak ?” tanyaku terbata. Tak ada jawaban, hanya isak tangis yang Syafa berikan. Kemuadian pelukanlah yang Syafa berikan sebagia wakil bahwa dia ikut bersedih. “Tidak, tidak mungkin ? pasti bukan ? bukan kan Sya?” tanyaku mulai terisak. “Sabar ya Sya, sabar. Mamamu sangat menyayangimu. Kau harus kuat Sya.” “Mama ? mama? Mama? Mana mama ? aku mau mama !” Tangisku mulai pecah berganti dengan tangis histeris. Mama? Apa yang mama lakukan ? kenapa bukan aku ? mama? Maafin Rina. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan sudah genap 3 bulan setelah kepergian mama. Aku mrasa bodoh, aku merasa lebih hancur sekarang. Keseharianku hanya di rumah, diam, memandangi satu-satunya fotoku dengan mama dnegan piano pertamaku. Mengingat kisah masa lalu yang mungkin tidak akan pernah di dengarnya. Mama? Aku butuh mama, maafin aku Ma. “Kreek” pinttu terbuka. “Papa ? papa?” seaakan tak percaya aku berlalu menghambur pada pelukannya, menumpahkan rasa rindu terpendam. “Sayang, maafkan papa baru menemuimu dan mama. Papa sangat menyesal telah meninggalkanmu dan mama. Papa benar-benar minta maaf. Papa lebih memilih wanita murahan dan rela meninggalkanmu dan mamamu. Maafkan papa sayang. Maafkan papa” jelas papa tiba-tiba. Aku hanya diam tak tau harus berkata apa. Jadi, selama ini. Aku salah, menuduh mama yang berselingkuh padahal mamalah ynag paling menderita. Maaf Ma, maafin Rina yang menjadi anak kurangajar. Maafin Rina. “Maaf Non, ini surat Ibu yang tidak sengaja bibi temukan di meja kerja ibu” Dengan rasa terpukul, kubuka perlahan. Teruntuk Anakku Amrina Syahilla Putri Selalu teringat saat pertama kali putri kecil mama menekan tuts piano, begitu indah terdengar. Rina, ingatlah mama tak pernah luput sedikitpun dalam memperhatikanmu. Tidak pernah berhenti menyayangimu. Tapi mama seorang pengecut, yang masih takut akan bayangan papamu. Rina, untuk yang terakhir kalinya. Bisakah kau mainkan tuts bersamaku. Bukan karna aku yang mengajarimu, tapi bermainlah karna hatimu. Mama yang selalu menyayangimu Untuk semua kedamaian yang mungkin datang terlambat. Tak pernah ku ingin menyesal tuk kedua kalinya. Akan kumainkan beribu nada untuk mu Ma, kumainkan beribu symphoni karna hati dan jiwaku. Teima kasih Ma, untuk menghadirkan nada tuts yang akan terkam jelas sebagi dirimu Mama. Maafkan Rina ynag belum mengerti apa itu lantunan tuts piano yang bersumber dari hati.

  • Kategori: Cerita Pendek
  • Genre: Fiksi Ilmiah
  • 5 Pembaca
  • 0 Komentar
  • 0 Dibagikan
  • Tambahkan Komentar