Mozaik Yang Hilang

olehZie Diterbitkan 17 January 2014

Mozaik Yang Hilang


Sekolah ini. Masih seperti yang dulu, masih sederhana. Tetapi, tidak sesederhana kenangan yang dibuatnya. Sekolah ini menyimpan dengan rapi kenangan-kenangan yang belum sempat aku jemput. Dan sekarang, aku didepan pintu gerbang sekolah ku dulu. Untuk memungut sisa-sisa kenangan-kenangan itu. Sendirian.



 


"Eh! neng Fesa...Fesa bukan ya?" seketika suara itu mengagetkan ku, dan membuat kepalaku memutar cepat kebelakang


"Eh...pak Wasito! yaampun, Fesa kaget pak hahaha"


"Waduh maap neng Fesa, aduh lama sekali gak ketemu neng, sampe pangling nih haha. Ngomong-ngomong eneng teh sedang apa sendirian bengong sendiri depan gerbang?"


"haha gapapa pak, lagi kebetulan ada di Jakarta aja nih, nostalgia sama sekolahan. Oh iya, gimana kabar pak Ito?"


 


Perbincangan itu terus berlanjut sampai ditengah-tengah perbincangan itu pak Wasito menceritakan kenangan ku yang belum usai.


 


"Neng, seminggu yang lalu ada yang dateng kesekolahan juga."


"siapa, Pak?"


"Gian neng, mas Gian"


 


Kepala ku seketika berputar cepat, mengatur nafas dan hanya mengucapkan satu kalimat sederhana.


"Gian...disini?"


"iya neng, mas Gian juga dateng kesekolahan. Sama kayak eneng, dateng, cuma liatin gerbang sekolahan hahaha"


 


Gian. Lelaki yang membuat langkahku tertuju ketempat ini. Kurang ajar betul dia, seenaknya bermain-main dipikiranku setiap saat. Membuat setiap hariku menunggu. Membuat otak ini selalu sibuk memikirkannya. Dan kaki ini yang selalu melangkah mencari jejaknya.


 


Aku 6 tahun bersahabat dengannya, sejak masih duduk di bangku SMP. Hingga kita bersekolah di SMA yang sama. Menjalani kehidupan yang sama setiap harinya, dan bermain di tempat yang sama. Dan kita, sekarang terpisah jauh ditempat yang berbeda. Yang sampai saat ini akupun tidak mengerti, aku darimana saja, hingga tempat ini seolah-olah memanggilku untuk pulang. Aku masih meyimpan kenanganku yang belum rampung dengan Gian. We aren't lover, not. But we're feel like more than friend.


 


Waktu itu kita duduk dibangku kelas 12, kita adalah siswa akhir di SMA 48 Jakarta kala itu. Dan hampir memasuki masa-masa kelulusan sekolah. Gian adalah sosok yang cukup famous disekolahan. Entah, mereka bilang Gian tampan, penuh pesona, dan berkharisma. Buatku? Gian hanya anak laki-laki kecil yang terjebak di tubuh seorang laki-laki dewasa. Sore hari, sebelum jam pelajaran tambahan usai, Gian menghadangku didepan kelas. Gerakan matanya cepat, tak berani menatap mataku langsung. Tangannya hanya memegang tanganku begitu erat. Dan menariku menjauh dari ruang kelas. Di kursi bawah pohon, dia mengucapkan kata-kata yang aku benci sampai sekarang.


 


"Sa, mau ya janji sama aku?"


"janji apaan, Yan?"


"Sebelum kamu wisuda di UI nanti, kamu datang lagi ya kesekolah ini"


"buat?"


"aduh jangan aneh-aneh deh, Yan. Ini ada apasih?"


"bukan sekarang Sa. Kamu bakal tau kok. Inget ya."


"Aku gak ngertideh Yan sama maksud kamu tuh apa."


"Ikutin aja kata-kata aku, sa. Jangan cari aku, biar aku aja yang cari kamu"


 


Seketika langsung hening. Angin berkonspirasi dengan langit sore itu, menciptakan hawa sejuk dan damai. Aku terpaku ditempat ini. Gian dengan senyum pucatnya, ya hanya dengan senyumnya begitu saja pergi meninggalkan aku setelah kecup bibirnya mendarat dikeningku. Itu adalah senyum yang paling ku benci sampai saat ini. Aku tahu. Senyum itu sebenarnya adalah kata "Selamat Tinggal" yang paling halus, dan tentunya sangat menusuk ku. Mencabik harapan yang sudah susah-susah aku mimpikan berdua dengannya. Liat bukan? Dia sahabatku, kekasih dalam situasi ini.


 


Gian. Gian. Gian. Bisa hilang akal aku dibuatnya, bukan main. Bagaimana tidak, setiap saat tak lepas aku ingat betul impuls-impuls safat otakku begitu cepatnya menyampaikan informasi memberi kode kesetiap sel tubuhku. Tak mungkin salah. Mataku tak berdusta. Otakku tak sedang bercanda. Hati ini tak mungkin bohong. 


 


Aku marah, Gian. Kau terlalu abu-abu buatku. Kau terlalu berbayang. Kau hilang dan ada. Kau dengan seenaknya datang kembali memaksaku meningat semuanya sekarang, melalu pak Wasito. Setelah pak Wasito memberikan kotak yang dititipakn seminggu yang lalu. Aku membukanya. Dengan deraian air mata tentu saja. Tak tahan rupanya mata ini menumpahkan air matanya. Ya, Jatuh juga. Semuanya. Aku membuka surat didalamnya.


 


"Fesa...aku tahu, kamu akan datang. Kamu masih orang yang dulu, masih orang yang sama untuk menepati janjinya dengan baik. Entah sudah berapa hari kotak ini menginap di rumah Pak Wasito setelah kamu membukanya hahaha. Aku tahu kau akan membenciku dengan amat sangat. Tetapi aku lebih benci melihat kau menangis seperti saat ini,tepat saat kamu membaca surat ini....


 


Tunggu...bagaimana mungkin Gian tahu aku akan menepati janjiku kepadanya? bagaimana dia tahu kalau aku akan menangis membaca surat sialan ini. Ah! kacau hatiku. Lalu aku meneruskan membaca suratnya.


 


terimakasih Fesa, aku tidak bisa mengungkapkan semuanya dengan langsung. Maaf membuatmu menunggu terlalu lama. Tetapi yang sebenarnya ingin aku sampaikan adalah...penyakit HIV ku,Sa. Sejak aku memintamu untuk datang kesekolahan ini 6 tahun yang lalu di kursi bawah pohon, Aku didiagnosa mengidap penyakit HIV. Aku hanya tidak ingin kamu malu dengan sahabatmu ini, aku hanya tidak ingin kamu dekat-dekat dan tertular dengan manusia yang bervirus berbahaya sepertiku. Aku tak pernah peduli waktu kapan aku akan 'pulang'. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia tanpa aku, Sa. Kamu tak ubahnya kunang-kunang dalam hati ini. Kecil, tapi banyak, dan bermanfaat. Selesaikan skripsimu dengan baik,ya. --Gian."


 


Entah sudah berapa tetes air mata ini jatuh. Yang pasti adalah aku harus mencari Gian. Ingin memaki didepan mukanya, menunjuk-nunjuk hidungnya, dan......dan memeluknya.


Setelah sana-sini aku mecari infromasi. Sekarang lah aku meledak-ledak saat menemuinya.


 


"kenapasih Yan gak mau kabarin aku?"


"kenapaaa?"


"teknologi udah canggih dan kamu memilih menulis surat? dititipkan ke pak Ito lagi..."


"terus kalo kamu HIV kenapa? bakal hilang begitu saja gitu rasa ini sama kamu?"


"enggak Yan enggak! Kamu bodoh taugak!"


"aku sayang Yan sama kamu, dan kamu memaksaku untuk memenjarakan rasa ini? Jahat."


"dan sekarang aku ditinggal sendirian?"


 


Aku lelah berbicara sembari menangis didepan nisannya. Cukuplah sudah semua penat hati ini terbalas.

Baca Juga

Sang Penulis

oleh: Noor H. Dee Rex

Seorang penulis yang mencopot kedua tangannya.

  • 563
  • 11
  • 7
  • 0
  • Cerita Pendek

Im bad

oleh: erni saputri

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 431
  • 0
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

Cita-Citaku

oleh: Riyan Yulianti

Entah ini cita-cita atau bukan.

  • 473
  • 0
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari Zie

Teruntuk Kalian yang Sering Kusebut dalam Doaku

oleh: Anggita Maharani

Synopsis is not available

  • 343
  • 0
  • 0
  • 0
  • Artikel

Boleh kah aku tidak memberi puisi ini judul?

oleh: Anggita Maharani

Synopsis is not available

  • 343
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

Kamu.

oleh: Anggita Maharani

bukan curahan hati, hanya berusaha untuk menyeruakan suara yang terlalu berisik didalam otak untuk m....

  • 94
  • 1
  • 1
  • 0
  • Puisi