LELAKI YANG KITA KEJAR BERSAMA

olehNovitanrad Diterbitkan 11 April 2016

Kriteria seorang cewek untuk calon suaminya bervariasi. Ada yang sudah bahagia dengan lelaki yang tak perlu tampan tapi ia baik dan setia. Ada juga yang sedikit pemilih, harus pintar, idola junior, wajahnya manis, juga ada yang lebih ekstrem yaitu haruslah seorang dokter!



Itulah yang terjadi dengan sekelompok mahasiswi, mereka punya visi dan misi yang sama. Setiap hari tak kenal menyerah untuk mencari calon suami dengan kriteria yang kompleks tadi. Salah satunya adalah Eca. Mahasiswi sederhana yang tidak menonjol.



Semenjak semester pertama, Eca mengidolakan seniornya di pendidikan dokter yang setahun lebih tua darinya. Pratama Mulya. Bukan hanya Eca, hampir semua teman seangkatannya mengidolakan Tama. Sampai-sampai mereka punya kata sandi untuknya, “Lelaki yang Kita Kejar Bersama”. Layaknya penguntit, mereka rajin mengorek informasi. Dari segala sosial media dengan hanya bermodalkan nama, semua informasi tentang seniornya akan muncul bak ensiklopedia. Hingga tak terasa tahun berganti tahun, semakin banyak juga yang mereka pahami, tapi penguntitan itu hanya sampai disitu saja. Sampai kelulusan tak ada satupun dari mereka yang berani mendekati Tama.



***



Kini Eca sudah menyandang gelar perawat di dadanya. Sudah hampir tiga tahun ia berpuasa dari pekerjaan ‘menguntit’. Dikarenakan kesibukannya di rumah sakit. Suatu sore yang tidak bisa dibilang cerah, Eca duduk di sebuah halte. Tak disangka, di halte itu juga berdiri seorang lelaki berkacamata. Ia mengatur napasnya kemudian mendekati lelaki itu.



“Emm, nice weather.” Dimaksudkan seperti monolog tapi suaranya jelas seperti toa’ masjid.



Kalimatnya singkat, namun seiring dengan bunyi ‘JDDDEERRR’ keras. Orang yang mendengarnya, menoleh dan tersenyum geli.



“Sepertinya kau suka hujan dan petir.” Ujar lelaki itu.



“Tidak juga. Itu tadi usahaku untuk berkenalan dengan kakak.”



“Kakak?”



“Oh, perkenalkan Mahelsa, keperawatan 2008.”



Ekspresi lelaki itu sedikit terkejut.



“Akhirnya..” roman wajahnya tampak lega akan sesuatu



“Hm? Kenapa kak?”



“Ah, tidak. Perkenalkan, Tama. Prata..”



“Pratama Mulya, kedokteran 2007.” Eca yakin ingatannya tidak akan punah soal idolanya itu.



“Wow, sepertinya aku cukup terkenal.”



Ini adalah kemajuan besar. Perkenalan yang singkat itu, begitu membekas di benak Eca. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu kejadian itu, bisa-bisa ia terbunuh. Tanpa Eca sadari, ada kebenaran yang harus diungkap.



***



Keesokan harinya, ia berada di rumah sakit seperti biasa. Setelah beberapa minggu ia bekerja tanpa gangguan hari ini ada satu pasien yang tidak biasa datang kembali dirawat. Seharian mengekorinya terus, tapi Eca mengacuhkan keberadaannya.



“Nona suster, bisa ngerawat aku ngga sih? Kok hanya sakit digigit semut, lama banget disuruh pulang?”



“Heh, kalo aku yang punya rumah sakit ini, kamu udah aku tendang tau! Kamu itu alergi, saluran napas kamu membengkak, badan kamu merah-merah, jadi belum boleh pulang dulu! Kamu kan bukan sekali ini jadi pasien, ngga usah cerewet deh”.



“Wah ternyata nona suster sangat menyukaiku. Bilang aja nona suster pengen lama-lama ngerawat saya, ya kan? Ngaku aja deh. Wajarlah kalo orang setampan saya..”



Darahnya mendidih terbakar emosi. Sedikit lagi saja buku yang ia bawa melayang ke kepala pasien itu. Tiba-tiba terdengar suara berat dari seorang perempuan paruh baya menghentikan aksinya.



“Suster Mahelsa, ke ruangan saya!”



“Tapi, dia yang nyolot duluan, Bu.” Mengacungkan telunjuknya ke udara.



Tapi orang yang ditunjuk sudah tidak ada di tempatnya.



“Ke ruangan saya sekarang!”



 Hampir satu jam Eca terkurung bersama kepala ruangannya. Diceramahi. Telinganya sangat lelah, ia ingin segera pulang. Lagipula shiftnya sudah selesai. Sesampainya di pintu masuk rumah sakit, ternyata ada seseorang yang menunggunya. Melihat itu Eca berjalan cepat. Tapi ia ditabrak dengan jelas sengaja dan terpaksa berhenti.



 “Minta maaf dong nona suster, sudah nabrak pasien.”



“Eh, kamu kan yang nabrak.”



“Ssstt, di rumah sakit jangan berisik. Lagipula..” lelaki itu mencubit pipi Eca “… perawat itu jangan cemberut, dengan tersenyum banyak pasien yang akan sembuh lo.”



“Oke. Lepas! Aku pulang dulu. Kamu jangan ganggu perawat lain.”



“Wah, ternyata nona suster semakin meyukaiku. Oke, aku ngga akan selingkuh.”



Eca menyembunyikan senyumnya dan segera berlalu pergi. Tapi dalam hatinya ia tidak marah pada siapapun.



“Hati-hati, nona suster!”



***



Eca tergesa-gesa ke halte, berharap seniornya ada di sana. Dan, ada!



“Sore kak.”



“Ini untuk kamu.” Tama memberikan sepucuk surat ke Eca.



“Ini apa kak?”



“Bacalah saat kamu sampai di rumah.”



***



Sesampainya di rumah, Eca bergegas ke kamarnya, ia membaca surat itu, tapi entah mengapa ia merasa datar saja. Isi suratnya singkat, “Di rumah sakit ku melihatmu dan ku berharap bisa memenuhi kriteriamu. Buka pintu rumahmu saat jam berdentang 7 kali malam ini.”



Eca melihat jam tangan kulitnya, sekarang!



Tok. Tok.



Eca menarik napas panjang, membuka pintu, dan..



“Malam, nona suster.”



“Kamu! Bukannya.. Kok kamu sih? Kan yang ngasih surat tadi..”



“Pratama Mulya. Kakak saya. Memangnya nona suster ngga ngeh dengan nama kami?”



Pradigta Mulya. Eca menepuk dahinya.



“Trus me..me..mangnya kenapa kalo ka..kamu saudaranya?” ia tergagap tidak percaya apa yang dilihatnya.



“Eca..”



Deg. Pertama kalinya Digta menyebut namanya, sejak pertemuan pertama mereka.



“… Aku bisa ada di depan rumahmu sekarang, berkat sedikit bantuan kakakku. Aku tahu kamu mengidolakan kakakku. Kakakku pun tahu itu. Mungkin kamu bingung. Sejak pertama kali aku ke rumah sakit tiga tahun yang lalu dan melihatmu, saat itu aku memutuskan mengejarmu.”



Buru-buru ia melanjutkan, ketika Eca hendak memotongnya ”…Yap, I’m yourstalker’. Dan kedatanganku malam ini adalah untuk mengakhiri penguntitanku. Aku, yang sudah mengagumimu selama setahun ini, yang sengaja makan mengganggu sarang semut agar bisa lebih sering bertemu denganmu di rumah sakit, aku ingin menjadi lelaki yang pantas berada disisimu.”



Digta menarik napas “…Maukah kau menjadi istriku?”



Istri?! Jantung Eca berdegup kencang. Perasaannya campur aduk. Ia menggeleng. Bukan karena Digta tidak seperti Tama, Digta sama sekali jauh dari kriteria calon suaminya. Kecuali ketampanan dia lebih daripada kakaknya. Hanya saja, ini semua terlalu mendadak buatnya.



***



Semenjak hari itu, Digta tak henti berusaha. Percobaan pertama gagal, ia tetap optimis. Kedua kalinya ia mengajak Tama untuk merebut hati Eca, namun masih gagal juga. Yang ketiga kalinya pun tidak beda naasnya.



Hari ini, Digta datang ke rumah sakit dengan muka merah.



“Aku habis manjat pohon mangga ternyata banyak semut disana, aku dikeroyok.”



Sekali lagi ia menyakiti dirinya sendiri. Eca hanya diam saja.



“Aku akan datang lagi besok. Sebagai pasien.”



“Terserah!”



***



Keesokan harinya, Digta tidak datang, Eca menunggunya. Sampai shiftnya berakhir, Eca tetap stay di rumah sakit.



Kemudian Digta muncul, ia tertatih. Eca mendekatinya. Darah..



“Pasien korban tabrak lari… aku hanya mau di rawat disini… aku alergi… tapi aku… tadi ditabrak… hehe…”



“Sekali lagi kau menyakiti dirimu sendiri, jangan harap aku mengenalmu. Aku benci caramu mendekatiku. Aku benci kau menggunakan kakakmu yang aku idolakan. Aku benci pada diriku sendiri yang sudah terbiasa dengan gangguanmu. Aku..mohon..berhenti..” ia mulai terisak dalam emosinya yang tidak menentu.



“Aku hanya ingin kamu merasa cukup denganku, Ca… Aku tidak bisa…”



Eca menangis sejadi-jadinya melihat Digta terluka dimana-mana. Selama ini, ia menahan perasaannya untuk Digta, karena melihat Tama. Ia takut akan salah dengan memilih Digta dan seolah-olah memanfaatkannya.



“Hari ini aku datang ke rumah sakit sebagai pasien, boleh kan sekarang dapat perawatan?”



 “Lelaki yang Kita Kejar Bersama” sudah tutup buku. Eca punya penguntitnya sendiri, yang selama ini terhalang oleh idolanya. Seseorang yang tidak ia duga, seseorang yang biasa saja dan mungkin pernah terabaikan saat berpapasan. Tapi dalam diam dia punya cinta yang sempurna, menunggu untuk disadari kehangatannya.



“Kau menungguku… lain kali aku tetap akan datang… sebagai calon suamimu.”



Eca masih belum bisa menahan air matanya. Mereka saling berpengangan tangan, saling memahami perasaan masing-masing. Digta mengelus kepala Eca dengan penuh kasih sayang.



***


Baca Juga

Cukup dari sini

oleh: Mugle riana

Biarkan saja.. Jika dengan begitu, kita benar benar merasakan makna bahagia yg sebenarnya

  • 44
  • 0
  • 0
  • 0
  • Puisi

Tentang Kita

oleh: azzam shouta

Ringkasan cerita tidak tersedia

  • 428
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi

Asuransi, Pengertian dan Jenisnya

oleh: Dipo Dwijaya

Membahas mengenai Asuransi, Pengertian dan Jenisnya.

  • 435
  • 1
  • 1
  • 0
  • Artikel
Karya Lainnya dari Novitanrad

LELAKI YANG KITA KEJAR BERSAMA

oleh: Novitanrad

Seseorang yang tidak ia duga, seseorang yang biasa saja dan mungkin pernah terabaikan saat berpapasa....

  • 375
  • 1
  • 0
  • 0
  • Artikel

Baju sang penari tanpa kaki

oleh: Novitanrad

Synopsis is not available

  • 318
  • 1
  • 0
  • 0
  • Puisi