Electric Eclectic

olehNiebell Diterbitkan 29 September 2016

1. Gaduh

Madeleine Corrie terbangun pada tanggal 21 Maret 2977, pukul 1 siang. Sendirian di sebuah ruang inap rumah sakit mewah pusat Manhattan. Langit diluar sana cerah tak berawan. Hari yang baik untuk terbangun dari koma panjang. Bagi Mady yang tak mampu menyaksikan keindahan diluar sana,  perjuangan awal untuk kembali kedalam realitas lagi terasa bagai neraka. Seperti terseret dalam arus bawah laut yang kuat, tubuhnya begitu berat dan bahkan beberapa anggota tubuh tak mampu ia rasakan. Tapi itu tidak lebih baik dari suara gaduh dikepalanya. Telinganya berdenging keras dan sakit. Masih kebingungan, Mady berusaha membuka mulutnya untuk memanggil seseorang, hanya untuk melakukan itu, sepertinya ia harus menghabiskan sisa energi hidupnya. Ia seperti sekarat.



Sekarang Mady berjuang menggerakkan jari-jarinya. Tapi tetap saja, kerangka jarinya tidak ingin bergerak. Bibirnya terasa pecah-pecah. Tenggorokannya tidak lebih baik. Kering kerontang.



Apa yang terjadi, sih? Sepertinya aku kacau betul!



Sebuah suara terdengar kali ini, suara kenop pintu besi—meskipun dengung itu masih menguasai pendengaran Mady.Seseorang mendekati ranjangnya dengan langkah terburu-buru.Rambut panjang yang hitam gelap terurai hingga kebahu, perawakan tinggi, disamping wajahnya yang kabur, Mady menebak dengan mudah sosok itu seorang perempuan.Perempuan itu sepertinya mengeluarkan suara, sebab Mady dapat melihat sekarang mulutnya bergerak. Tapi wajahnya sangat tidak jelas dan ia kesulitan memahami perkataannya. Dengung itu masih keras dalam telinganya.



“…dy?” perempuan itu meninggikan suaranya.“Mady?!”



Perempuan itu cepat-cepat meraih secarik kertas lebar yang bertuliskan sesuatu dengan spidol besar-besar lalu memamerkannya pada Mady. Selama 10 detik yang terasa bagai 5 menit, ia berusaha keras membaca tulisan pada kertas besar tersebut.



Namaku Mady Corrigan, 23 tahun. Aku mengalami kecelakaan mobil dan koma selama setahun. Aku tinggal bersama keluargaku di 165th Street-Riverside Drive, Manhattan. Aku bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.



Omong kosong macam apa ini…?Mady Corrigan?



Suara dengung itupun mereda. Kini ia merasa jauh lebih tenang. Ia mengakui dalam hati bahwa suara dengung itu menakutkannya. Membuatnya ingin menggaruk bagian dalam tempurung kepalanya, mencari serangga yang berdengung berisik itu. Syukurlah, ia tidak perlu melakukannya sekarang. Perlahan lahan ruangan itu menjadi jelas. Cat dindingnya yang kebiruan, nampak pucat ditimpa cahaya matahari yang berasal dari jendela berteralis didekat meja. Tangannya tersambung dengan sebuah selang infus. Ia dapat mendengar suara mesin penunjang hidup tepat disebelah kiri kepalanya. Berkedip-kedip. Mady memejamkan mata lalu membukanya kembali. Wajah perempuan itu sekarang sejelas kristal. Tanpa diduganya, perempuan muda itu berparas cantik.



“Bagaimana perasaanmu, sayang?” ujar perempuan itu lemah lembut. Kedua tangannya masih memegangi kertas tadi dengan tegang. Mady ingin sekali mengatakan bahwa ia haus, ia sungguh tidak peduli siapa wanita itu atau apa hubungannya ia dengan dirinya. Ia juga tak dapat menyebutkan siapa namanya jadi ia hanya bergumam lemah, “hei, aku sedikit haus. Bisa kau ambilkan minum…?”



Walaupun penglihatannya masih belum dapat dipercaya, mungkin Karena setahun dalam kegelapan seperti tikus tanah, Mady dapat sedikit menangkap perubahan ekspresi perempuan itu.Wajahnya mengeras seperti batu.Dijulurkannya tangannya demi menyodorkan Mady segelas air dengan sedotan.Mady menghabiskan isi gelas itu dengan puas. Setelah itu ia meletakkan kepalanya kembali pada bantal. Kali ini merasa mengantuk berat.



“Hei… apa kau mengingat siapa aku, Mady? Aku hanya ingin menguji saja…” ia berujar hati-hati. Mady ingin sekali menjawabnya. Tapi ia sudah memejamkan matanya. Dapat dibayangkan wajah perempuan tadi yang nampak khawatir setengah mati berkata demikian.



“…maaf,” balas Mady tidak jelas, “aku sangat mengantuk.”



Oh, begitu. Kenapa kau malah bangun sekarang, pelacur brengsek!



Mady mengernyitkan kening.



Hah…? Perempuan itu bilang apa?



***



Mady membuka mata lagi di malam hari.Ia kini mampu mengangkat kedua tangannya walaupun hanya sedikit. Luar biasa. Kakinya juga mulai dapat ia rasakan. Ia lega setengah mati semua anggota tubuhnya terasa lengkap. Sudah berapa jam ia tidur semenjak pertama ia sadar? Ia melirik jam yang dipajang di dinding. Pukul 11 malam.Tirai jendela telah ditutup. Dengan susah payah ia mencoba menggerakkan lengan kanannya, beberapa saat kemudian ia berhasil menjangkau selembar kertas yang sepertinya berisi informasi penting tentang identitasnya.



Apa yang terjadi padaku? Oh, sepertinya ditulis disini. Mari kita lihat… Kecelakaan. Koma setahun. Aku tinggal di… Union Square, Manhattan? Bekerja di perusahaan ICT. Apa itu ICT?



Sayang aku tidak terlalu ingat.



Mady melepaskan kertas itu, membiarkannya melayang jatuh ke lantai.Ia menghela napas panjang, bingung memutuskan diantara dua hal buruk yang terjadi padanya.



Melupakan semua ingatan hidupnya atau tidak merasa sedih telah melupakannya?



Ia tak dapat memutuskan. Bagaimana ia merasa sedih jika ia bahkan tak tahu apa yang ia lupakan? Apa yang akan terjadi sekarang sesungguhnya mungkin lebih penting. Mady cukup yakin bekerja di perusahaan ICT terdengar membosankan. Ingatan bagaimana pekerjaan itu telah terlupakan sepenuhnya. Siapa koleganya, bosnya, ataupun kekasih. Huh, astaga. Kekasih. Apakah dirinya memiliki laki-laki yang istimewa?



Cukup pesimis soal itu.Sejauh ini hanya satu orang yang menjenguknya.



Dokter yang menanganinya selama setahun itu menanggapi dengan santai bahwa amnesia  biasa terjadi pada pasien yang baru sadar dari koma. Terlebih karena adanya cedera kepala yang menyebabkan trauma otak. Ia menjelaskan dengan nada meyakinkan—seperti seharusnya dokter bedah saraf professional—bahwa amnesia yang dialaminya hanyalah sementara.



Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang tersisa dari otaknya, Mady memejamkan mata. Ia berusaha rileks. Menunggu gambaran-gambaran kilasan balik hidupnya. Tapi 23 tahun yang ia lewati di bumi sungguh-sungguh lenyap. Kecuali… kecuali gambaran umum keadaan sekitarnya. Kota tempatnya tinggal. Bagaimana gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, seperti saling berlomba menampilkan gengsi akan kecanggihan teknologi masing-masing. Dan banjir yang melanda tiap kali hujan deras turun atau badai es yang kadang datang tanpa diduga. Pikirannya sekelebat menampilkan dirinya bergelantungan dalam Metroline yang penuh sesak oleh manusia, melewati gedung-gedung Manhattan di sore hari. Matahari kemerahan bergelantung di langit yang tertutup oleh awan keruh gas-gas emisi.



Tahun 2977. Setahun telah berlalu semenjak itu dan ia yakin tahun setelahnya, semuanya tetap sama. Ia ingat betapa mengerikannya berbagai bencana alam yang nyaris terjadi tiap minggu di berbagai belahan dunia. Dua tahun sebelumnya, badai disertai tsunami menyapu sebagian besar pesisir California, merusak lahan pertanian gandum disana dan menyebabkan krisis pangan berkepanjangan di Amerika Serikat. Banjir, topan, juga hujan es tak pernah luput dari pemberitaan dimana-mana. Kabut asap dan hujan asam merebak di kota-kota metropolitan. Kejadian-kejadian mengerikan itu terpatri dalam ingatan siapapun, termasuk Mady. Seperti teror tanpa henti yang tertanam dalam pikiran manusia, tidak mudah untuk dilenyapkan. Tapi hanya sejauh itu saja ingatannya. Bukan ingatan yang menyenangkan.



Mady mencoba menggerakkan tulang belakangnya untuk mengambil posisi duduk.Lima menit yang penuh peluh berlalu dan ia belum berhasil. Setelah dua puluh menit, ia berhasil walaupun nyaris terguling keluar ranjang. Dengan cepat Mady berpegangan pada sudut meja besi disamping kepalanya.Gelas plastik berisi air berputar sesaat sebelum jatuh menumpahkan isinya.Ia menghela napas kesal sambil menepis setitik keringat didahi. Napasnya terengah-engah hanya karena berusaha untuk duduk di ranjang.



Kurasa aku butuh cermin. Hanya untuk mengecek penampilanku sekarang.



Mady baru sadar ia bahkan lupa wajahnya sendiri. Oh, Tuhanku.



Tenang… aku baik-baik saja. Dokternya sendiri yang bilang begitu. Bukankah masih bagus tak ada anggota tubuhnya yang hilang. Setidaknya ia memiliki sepasang tangan dan kaki.



Sebelum ia melanjutkan menghibur dirinya sendiri, ia telah jatuh tertidur lagi.



***



Mady terbangun oleh desas-desus percakapan.Ia membuka mata. Perempuan kemarin telah datang kembali. Kali ini ia bersama sekitar tiga orang lainnya. Seorang diantara mereka nampaknya seorang dokter.



“….ia membutuhkan dukungan keluarga untuk kembali normal, Miss Tracey,” Mady dapat mendengar dokter yang membawa sebuah papan hologram besar berkata dengan nada kalem. Perempuan yang disebut ‘Miss Tracey’—wanita berambut sebahu yang kemarin mengunjunginya—menutup setengah wajahnya dengan kedua tangan. Ekspresinya mengharu biru. Lalu ia menangis, yang dengan cepat dirangkul oleh seorang pria berjanggut kelabu disampingnya.



“Berapa lama ia akan menjadi normal, kembali?” pria berjanggut itu bertanya. Tracey tersedu dalam pelukan orang itu.Wajahnya nampak lelah namun tetap cantik.



“Dalam beberapa kasus membutuhkan lebih dari setahun. Namun saya rasa bisa kurang dari itu. Ia cukup keras kepala juga bisa bertahan dari kecelakaan yang fatal,” dokter itu menjawab tanpa ragu.Namun siapapun bisa melihat ekspresinya sedikit cemas.



Sayang sekali ia tidak akan bisa kembali. Hidup memang aneh. Padahal ia masih muda.



Mady bersumpah ia bisa mendengar dokter berambut merah tersebut berkata begitu.



Tapi mulutnya tidak bergerak sama sekali dan baik Tracey maupun pria berjanggut itu tak bereaksi. Pria itu hanya berkata ‘terima kasih’ dengan singkat kepada sang dokter yang segera pergi keluar ruangan.



“Hai…” Mady menyapa mereka, wajahnya tampak polos dan agak dungu.



“Hai sayang, apa kabar?” Tracey mendekat kearahnya dan tersenyum lebar.Air mata masih membasahi bulu matanya.Mady hanya mampu tersenyum.Ia ingin bicara lebih banyak, tapi ia takut membuat mereka khawatir. Walaupun sama sekali ia tidak mengenali siapa mereka berdua. Ia berharap Tracey memperkenalkan dirinya dan pria tersebut.



“Jangan cemas, sepertinya dia baik-baik saja, Tracey,” ujar pria itu.“Oh, apa kau mengenalku?.Aku harap kau ingat.”



“Maaf, tidak.”Mady menjawab pelan.



“Oke, tidak masalah. Kau akan ingat lebih banyak nanti,” ia tertawa, “uh… aku DanteCorrigan. Perempuan ini adalah Tracey Corrigan—kakak perempuanmu.”



“Hai… Tracey,” Mady menyeringai pada perempuan itu dengan kikuk. Tracey menatapnya dengan terkejut, lalu ia menangis lagi. Astaga.



“Hei, ssshh…” Dante mendekap pundaknya sambil berbisik, “tenanglah, sayang… jangan membuatnya bingung.Kalau kau menangis terus, ia akan menyangka ada yang salah dengannya.”



Tetapi Tracey terus menangis.Mady hanya memandangi mereka berdua seperti melihat drama yang berlangsung didepannya tanpa layar hologram.Berpelukan seperti itu selama beberapa detik. Lalu ia memutuskan untuk angkat bicara, “bagaimana denganmu Dante, siapa kau buatku?”



Dante terpana sesaat oleh pertanyaan Mady.Ia menjawab bahwa dirinya adalah ayah mereka berdua. Dan ibunya meninggal pada saat badai es memporak-porandakan New York sepuluh tahun yang lalu. Mady hanya mengangguk-angguk, tak tahu harus bereaksi apa. Ia merasa sedih, tapi bukan untuk dirinya. Sepertinya mereka berdua mengalami terlalu banyak kejadian traumatis selama ia terbaring di rumah sakit. Entah oleh apa. Ia penasaran, namun disimpannya berbagai pertanyaan dalam kepalanya untuk dirinya sendiri. Sekarang ia lebih merasa kasihan dengan mereka berdua.



Menyadari ia tak mengenal siapapun sama sekali, sedikit membuatnya kesepian.



“Apakah kau ingin istirahat, sayang?Lebih baik kami membiarkanmu istirahat,” DanteCorrigan tersenyum pada Mady yang hanya membalas dengan anggukan.Ia menuntun Tracey untuk meninggalkan ruangan itu. “Nanti malam kita berkunjung lagi.”



Dante menutup pintu perlahan.



“Aku tidak percaya ia tidak ingat sama sekali!”Tracey berseru cukup keras hingga membuat seorang perawat di meja resepsionis membelalakkan mata. “Aku tidak percaya dengan mudahnya dia melupakan semuanya!” kali ini sahutannya bercampur rasa jengkel.



“Itu karena lebih baik semua orang melupakan saja kejadian itu, Tracey sayang…” Dante membujuk Tracey untuk berjalan menuju lift, “kau juga harus melupakannya.”



“Melupakan?! Maksudmu, dengan membenturkan kepalaku sendiri supaya aku lupa bahwa adikku membunuh Sam? Supaya aku lupa bahwa hanya semalam sebelum hari pernikahanku…”



“Adikmu tidak membunuh siapapun, oke?” potong Dante, dahinya mengeras kali ini, membuat Tracey menjauh.Ia bungkam dan mengalihkan pandangannya.



“Ini hanya kecelakaan.Kecelakaan fatal. Astaga, Tracey. Sudah berapa kali kita membahas ini berkali-kali, kau tidak membuatnya jadi lebih mudah. Mari kita lupakan, oke!? Hal yang bisa kita lakukan adalah membantu adikmu mengembalikan ingatannya—kecuali ingatan yang sama-sama kita benci—serta memulihkan kesehatannya,” Dante berkata sambil menekan tombol G pada elevator. “Aku ingin kau membantuku, Tracey.Kumohon.”



***



Mady memandangi semangkuk penuh makaroni keju dan daging yang tersaji diatas meja.Ia sedang dalam keadaan duduk diatas ranjang dan mesin penunjang kehidupan penuh selang itu sudah dilepas dari tubuhnya. “Eh… thanks, Tracey,” ujarnya masih terdengar canggung.Sepertinya sudah lama sekali aku tidak menyantap makanan mewah ini.



“Makanlah.Dokter bilang kau membutuhkan banyak protein.Untuk membangun sel-sel baru, katanya.Aku sendiri yang memasaknya,” Tracey yang duduk disamping ranjangnya memandanginya sambil tersenyum. Mady berusaha balas tersenyum, tapi ia merasa ada yang janggal dengan senyumnya. Yap, gigi taringnya tanggal sebelah.Luar biasa.Ia merasa semakin penasaran dengan wajahnya. Ingin sekali ia meminjam sebuah cermin.



Sambil mengunyah sesendok makaroni, Mady berujar, “kau tahu, aku penasaran sebagai adik perempuanmu apakah aku secantik dirimu.”



Tracey terhenyak mendengar ucapan Mady.Ia terdiam beberapa detik lalu merogoh sebuah cermin kecil dari tas tangannya.



Tentu saja kau ingin tahu, ya.Kau ingin sekali melihat wajah mengerikanmu sekarang.



“Maaf, bilang apa tadi?” Mady nampak syok, “barusan kau bilang sesuatu?”



“Hah…? Maksudmu?Aku tidak bilang apa-apa, sayang…” jawab Tracey bingung.



“Tapi aku yakin, kau baru saja…”



Ha! Jadi benar-benar sinting dia sekarang? Yang benar saja!



Mady menjatuhkan sendoknya dengan tiba-tiba keatas mangkuk plastik makan siangnya. Wajahnya pucat sekali. Sambil menahan napas Mady bertanya, “Tracey… kau bilang sesuatu tentang aku, kan?Cukup keras ditelingaku.”



Tracey mendesah, “aku tidak berkata sepatah katapun, sayang. Memangnya apa yang kau dengar? Kau yakin itu suara dari mulutku? Apakah kau baik-baik saja?”



Mady memandang sekitar dengan takut.Ia merasakan tangannya berkeringat.



Tapi aku sangat yakin, itu suara dirinya. Dan, ya Tuhan, aku tidak yakin sedari tadi ia mengatakan hal-hal yang baik soal diriku. Maksudku… Ayolah! Masa aku jadi gila sekarang? Benar-benar nasib sial!



Untuk menghindari kecurigaan akan keadaan mentalnya, Mady bergegas menarik ucapannya, dengan mengatakan mungkin ia hanya sedang agak tertekan dengan keadaan sekitarnya. “Kurasa aku cuma gugup, Tracey,” Mady mengusap hidungnya.



“Yeah,” Tracey menatapnya dengan hati-hati sambil mengangguk-angguk. Ia mengulurkan cermin kecilnya kepada Mady. “Thanks, Tracey,” ujar Mady lagi.



Dibukanya cermin tersebut. Ia tidak percaya apa yang ia lihat.



“Rambutmu memang agak kusam, Mady. Kami juga belum sempat memotongnya. Yah, kau bisa putuskan gaya apa yang kau inginkan nanti. Tenang saja, kami semua akan mencoba mengembalikan penampilanmu seperti semula,” Tracey berusaha menenangkan adiknya yang hanya berbeda dua tahun dengan dirinya itu. Dalam nada suaranya, ia terdengar seperti berusaha menahan tawa. Mady masih melongo menatap bayangannya.



Ada bekas luka sepanjang sekitar lima senti didekat alis kirinya. Dengan gemetar, jarinya bergerak menyusuri garis luka tersebut. Warnanya nampak lebih pucat dari kulit disekitarnya.



“Sudah kering, luka itu sudah sembuh sejak lama. Semua luka ditubuhmu sudah lama sembuh selama kau tidak sadarkan diri. Aku turut menyesal…” tambah Tracey lagi. Ia bangkit dari kursi untuk menuang secangkir teh kedalam cangkir diatas meja. Teh. Minuman yang sangat mahal harganya. Sekitar 500 dolarper-ons, jauh lebih mahal dari kopi. Mady ingat hal tersebut. Bahkan air murni saja lebih mahal daripada bensin sepanjang ingatannya. Ia kini mengetahui bahwa keluarganya adalah golongan kelas menengah keatas. Ditatapnya kembali luka besar dan panjang tersebut. Ia tidak tahu harus berkomentar apa.



“Yeah… aku baik-baik saja,” Mady memaksakan dirinya tertawa kecil.



Tracey mengangguk-angguk lagi. Mady mengembalikan cermin itu pada kakaknya.



“Kau masih tetap cantik, sayang,” ujar Tracey.



Coba bisa kuulang adegan saat kau melihat wajahmu di cermin tadi!  Lucu sekali! Oh… Luka yang super mencolok, permanen pula! Sayangnya hanya itu saja yang berbekas padamu.



Suara Tracey kembali terdengar.



Mady menelan ludah. Ia tidak berani untuk menegur kakaknya lagi. Sekarang ia bahkan mulai meragukan kewarasannya sendiri. Bagaimana kalau suara-suara itu hanya gejala dari kemunduran mentalnya? Halusinasi atau apa. Ia tidak ingin mendekam lebih lama lagi di ruangan biru pucat ini. Atau lebih parah lagi, rumah sakit jiwa. Mady memutuskan, lebih baik ia tidak perlu menceritakan siapapun soal ini.



***



Tracey dan Dante mengunjunginya setiap hari. Biasanya Dantedatang membesuk di waktu malam. Ayahnya tersebut mengatakan bahwa dirinya diizinkan untuk pulang tak lama lagi, dengan syarat menjalani terapi fisik dan mental di rumah. Mady setuju, walaupun tubuhnya sekarang dapat digerakkan lebih leluasa. Kepalanya terasa ringan luar biasa. Mungkin karena tak ada beban memori yang terlalu berat, pikir Mady. Minggu-minggu berikutnya ia sudah menjalani latihan terapi fisik dimana ia berlatih menggunakan penyangga. Serangkaian latihan lainnya ia jalani mulai dari terapi panca indera hingga renang—bagian yang paling ia suka. Rumah sakit semewah dan secanggih itu memiliki kolam renang indoorkhusus untuk terapi. Dengan pemandangan artifisial pantai tropis yang diciptakan oleh jendela-jendela besar disekitarnya. Selama itu, Dante dan Tracey datang tanpa lelah memberikannya dukungan.



Namun suara itu tidak benar-benar pergi.



Terkadang ketika ia berjalan di lorong untuk berkeliling, ia dapat mendengar suara tangis.Kedengarannya bukan suara tangis biasa. Seperti gema, suara yang datang dari sumber yang jauh. Gadis itu hanya akan berkeringat dingin lalu susah payah bergerak menjauhi sumber suara itu. Bulu kuduknya merinding, ia merasa yakin mungkin suara tersebut bersifat supernatural. Mungkin itu bukan suara manusia yang masih hidup. Belakangan ia merasa malu dengan spekulasi konyol tersebut.



Lalu suara-suara lain. Terutama saat ia merasa gugup dan dikelilingi banyak orang. Rasanya seperti lima orang berbicara sekaligus. Pada awalnya hanya samar-samar terdengar, tapi semakin hari semakin jelas. Mady berjuang mengalihkan pikirannya dari hal yang tidak ia pahami tersebut. Satu-satunya dugaan paling masuk akal adalah gangguan mental pasca koma. Tapi apakah hal itu mungkin terjadi separah ini? Diputuskannya untuk sementara waktu menyimpan hal itu sendiri, daripada dianggap membutuhkan perawatan khusus lebih jauh. Membayangkan dirinya berada berkeliling di rumah sakit jiwa membuatnya tak bisa tidur dimalam hari. Namun dimalam hari suara-suara itu sedikit mereda, tidak sebising ketika siang.



Mungkin aku hanya berhalusinasi. Aku hanya takut mendengar komentar orang lain soal diriku. Apalagi dengan luka diwajahku. Mungkin aku hanya membayangkan perkataan mereka tentang diriku. Terutama Tracey. Tapi sungguh mustahil rasanya jika ia memikirkan hal-hal buruk soal diriku, padahal ia selalu bersikap manis. Jika suara-suara itu hanya wujud kecurigaanku pada Tracey saja, aku merasa bersalah jadinya… Oh, Tuhan!



“Kau sepertinya semakin sering melamun, sayang. Ada apa?” tanya Dante suatu hari. Madyyang terkejut mendengarnya segera menjawab, “oh… aku hanya, sedikit lelah. Yeah, semua kegiatan terapi ini membuatku agak…”



Dante tertawa sambil meletakkan tablet yang sedari tadi ia gunakan untuk membaca berita. “Jangan cemas. Kami tidak menuntutmu untuk cepat-cepat sembuh. Pelan-pelan saja,” ujarnya. Mady merasa lega dengan ayahnya. Ia sungguh-sungguh terdengar tulus. Bersama pria itu, ia tidak mendengar suara negatif yang mirip suara ayahnya. Tidak seperti Tracey.



Mungkin karena aku lebih tenang bersamanya, sehingga suara-suara aneh itu tidak terlalu terdengar. Kalau begitu, mulai sekarang aku harus lebih santai, bukan?



“Ehh… ayah, aku ingin menanyakan sesuatu,” setengah ragu Mady memberanikan diri. Ia sudah tak dapat menahan keinginannya untuk mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya. Ayahnya mengangkat bahu, memberi isyarat untuk dirinya memberikan pertanyaan.



“Bisakah kau ceritakan detail kecelakaan yang kualami? Maksudku, kau tidak perlu memberikan detail-nya jika itu tidak penting… Hanya supaya, mungkin membantuku mengingat,” Mady mencondongkan tubuhnya kearah ayahnya, berharap Dante akan menceritakan sesuatu. Sesuatu yang penting.



“Aku dan dokter Carl sepakat untuk tidak perlu membahas kejadian itu. Tapi, yah… baiklah akan kukatakan padamu garis besarnya. Kau baru saja pulang dari pesta di kantor bersama seseorang dalam mobil…” Dante berhenti sesaat  sebelum melanjutkan ceritanya.



Whoa, mobil?  Memiliki mobil adalah tanda kekayaan yang luar biasa, bukan? Kepemilikan mobil hanya terbatas bagi para elite-elite golongan atas, mengingat harganya luar biasa mahal. Semua orang hanya diperbolehkan menggunakan taksi, Metroline, auto-walker, atau kereta bawah tanah di New York. Jika aturan itu belum diubah.



“Siapa laki-laki yang bersamaku waktu itu?” tanya Mady bersemangat, “apakah ia orang yang khusus buatku?”



Dante memandang Mady seakan ada laba-laba diwajahnya, pria itu menggeleng lemah.



Mady tertawa, “aku hanya bercanda. Apakah ia orang penting?”



Ayahnya masih membisu. Ia menarik napas panjang lalu menggeleng lagi.



Tunggu, apakah ia… selamat dari kecelakaan?



“Mobilmu manabrak pembatas jalan tol. Ia tidak berhasil selamat. Namanya Sam Fleming. Bisa dibilang ia atasanmu di tempatmu bekerja, sayang,” Dante akhirnya menjelaskan dengan suara parau. “Tapi asuransinya telah mengurus kejadian itu, sebab Sam yang mengendalikan setir mobil. Tenanglah, ini bukan salahmu,” lanjut Dante.



Mady merasakan lidahnya kelu. Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Nama Sam Fleming tidak familiar sedikitpun baginya. Betapapun ia berusaha mengingat atasannya itu. Apa yang membuat kecelakaan itu terjadi? Sepulang dari pesta, apakah mereka berdua mabuk? Tak ada yang tahu, tentu saja. Kecuali dirinya—setidaknya sebelum ingatannya lenyap.



“Apartemenmu sedang dibereskan. Tracey mengatur perpindahanmu. Kami sepakat kau akan kembali ke rumah. Mungkin suasana rumah yang nyaman membantu kesembuhanmu lebih cepat…”



“Ayah, kau terlalu mencemaskanku. Aku sudah tak apa-apa, sungguh,” sela Mady. Ia merasa agak bosan dengan orang-orang yang bersikap khawatir disekitarnya. “Daripada itu, sebenarnya aku sedikit tidak sabar untuk berjalan-jalan keluar. Kau akan mengijinkanku ‘kan? Iya ‘kan, Yah?” bujuknya. Dante mengangkat bahu dengan enggan tanpa menjawab. Ia mengeluarkan tablet hologramnya dari kantong jas. Sebuah gadget berbentuk tabung, hanya sepanjang jari kelingking, berwarna hitam dengan layar yang menunjukkan jam digital.



Dante menyentuh bagian kiri tabung benda itu, seketika layar hologram berwarna-warni muncul dihadapan ayahnya, menampilkan interfacedengan latar belakang foto keluarga yang diambil saat dirinya berumur 13 tahun. Mady melihat wajah dirinya dan Tracey tersenyum berseri-seri dirangkul oleh kedua orangtua mereka. Wajah-wajah yang hanya membuatnya sedih, Karena ia tidak mengingat apapun. Betapa anehnya. Seperti orang asing yang melihat sisi kehidupan orang lain yang jauh lebih membahagiakan. Ia menghela napas lesu.



“Yeah, itu adalah gambaran kita berempat saat… yah, kalau tidak salah saat kalian libur sekolah dan kita mengadakan pesta ulangtahun ibumu,” ayahnya seperti membaca pikiran Mady, “mengenai keinginanmu untuk berjalan-jalan keluar—di tengah kota, maksudku… mungkin aku harus sedikit memberikan penjelasan mendasar kepadamu, soal…”



“Ayah, aku masih ingat bagaimana caranya bertahan hidup di belantara kota ini. Mungkin sedikit lupa dengan rute transportasinya, tapi itu bisa kupelajari belakangan. Aku sedikit ingat dengan keadaan sekitarku. Hanya saja, apa yang terjadi selama setahun saat aku… tidak sadar? Maukah kau beritahu padaku? Kehilangan informasi selama setahun membuatku merasa tertinggal sejuta tahun,” Mady tertawa singkat. Namun ia serius. Selalu ada hal baru yang mempengaruhi kehidupan tiap orang setiap harinya. Entah itu perilisan gadget atau autobot baru, penetapan regulasi baru dari pemerintah, persiapan siap siaga bencana. Mengetahuinya adalah kewajiban yang tanpa disadari setiap orang harus mereka laksanakan jika tidak ingin tergerus perubahan. Melelahkan namun seringkali sangat berguna.



“Publik saat ini berada dalam ketegangan yang intens… Banyak orang berkata Perang Besar akan terjadi lagi dalam waktu dekat,” Dante kemudian menampilkan video yang menunjukkan berita akan spekulasi tersebut. Tertulis disana tajuk berita yang cukup kontroversial: ‘Penutupan Jalur Perdagangan Atlantik: Gejala Perang Dingin (?)’.



“Tentu saja ini hanya desas-desus. Berita ini hanya disiarkan sekali tanpa ada pembahasan lanjutan. Tapi itulah yang membuat semua orang curiga. Kau tahu, Presiden menyangka peningkatan tajam aktivitas nuklir di beberapa metropolis terbesar di Eropa dan Asiasetahun belakangan ini sangat tinggi. Kau tahu apa yang dimaksud Presiden Trumbull, senjata nuklir untuk perang. Hal-hal rendah seperti itu,” Dante mematikan tabletnya lalu mendengus jijik, “seakan tidak ada hal yang lebih penting untuk kemanusiaan selain menambah-nambah persoalan saja.”



“Itu sangat mengerikan,” komentar Mady. Sedikit terpana dengan ayahnya.



“Mady, hal yang paling merisaukanku adalah kemungkinan dunia akan mengalami apa yang puluhan abad lalu disebut sebagai Perang Nuklir atau Perang Besar I—jika  yang kedua sungguhan terjadi. Perang yang memusnahkan sebagian besar populasi makhluk hidup di darat dan laut, mengubah seluruh tatanan peradaban kita. Aku mengatakan pada mahasiswa-mahasiswaku di kampus untuk ikut berpartisipasi dalam mencegah konflik yang semakin memperparah situasi. Jika perang kembali meletus, kali ini seluruh manusia tidak akan dapat bertahan…” ia menghentikan luapan pemikirannya tiba-tiba, mencoba merendahkan nada suaranya, “jika kau ingat, sayang… aku adalah dekan Fakultas Filsafat dan Peradaban di NY University. Maaf aku memberimu kuliah panjang. Sebenarnya dahulu aku pernah menjelaskan padamu, sebelum kau mengalami insiden ini, tapi mungkin sekarang kau akan keberatan…”



“Tak apa, ayah. Lanjutkan saja. Aku tidak akan kemana-mana,” Mady memotong ucapan ayahnya dengan rasa ketertarikan yang tulus. Ia sungguh-sungguh ingin mengetahui sosok Dante lewat pemikirannya. Sebagian besar karena ia sedikit lupa apa pemikirannya sendiri soal ini. Penyimpan memori dalam otaknya sebersihdiskA.I (artificial intelligence)autobot yang baru keluar dari pabrik, menuntut untuk segera diisi. Mady menopang dagunya dan bersiap mendengar kuliah singkat ayahnya.



Dante berdehem, berusaha agar semangatnya untuk berbicara panjang lebar tidak disadari putrinya. Jelas sekali ia memang nampak seperti seorang pengajar. Mady baru menyadarinya sekarang. Janggutnya yang kelabu, terlepas dari usia ayahnya yang belum melewati 50 tahun, menunjukkan proses kegiatan otak yang lama oleh… mungkin ratusan penelitian. Rambut kelabu bergelombang ayahnya masih terlihat tebal, berpendar oleh cahaya lampu neon. Mady menebak-nebak seperti apakah sosoknya ibunya dahulu. Imej yang tak akan pernah kembali kepada dirinya.



“Jika kau mau mengetahui apa pendapatku, Mady, dunia ini… yah, setidaknya jutaan  metropolis-metropolis dunia, sedang mengalami krisis paling menakutkan yang dihadapi oleh semua manusia modern yang bergantung pada listrik. Listrik. Luar biasa bagaimana energi itu kini lebih esensial daripada air dan udara bersih. Kau bisa menyebutku luar biasa konservatif. Aku tak tahan untuk membandingkan keadaan saat kakekku masih kecil dengan keadaanku sekarang. Aku ingat ia bercerita bagaimana ia dapat makan ikan segar yang ia tangkap sendiri dari danau. Kemewahan-kemewahan seperti itu yang membuat generasimu iri. Kau tahu, abad-abad lampau saat olimpiade musim dingin masih dilaksanakan tiap tahun. Sekarang musim dingin berlangsung sebulan saja dan sisanya adalah musim kering, badai es, dan topan. Baiklah, aku hanya bernostalgia…”



“Teruskanlah. Jangan berhenti,” Mady tersenyum.



Dante menatap mata abu-abu anak perempuannya dalam-dalam, “mereka bilang kemajuan teknologi selama seratus tahun terakhir akan membebaskan manusia dari krisis multidimensi yang dialami manusia semenjak Perang Besar tahun 2313. Jika kau ingin mendapatkan bayangan Perang 600 tahun yang lalu itu, mungkin kau bisa mengkhayalkan bagaimana jika lima belas negara saling melempar misil dan bom nuklir tanpa ada resolusi damai selama lima tahun,” Dante menghela napas, “tragedi yang mengerikan. Dan sangat memalukan. Ratusan juta orang mati konyol. Aku tidak percaya sisa radioaktif akibat semua misil dan bom itu tidak cukup mengingatkan Capitol akan bahaya perang.”



“Apa yang mereka perebutkan?”



“Yah, kebanyakan faktor ekonomi, memperebutkan lahan untuk menghasilkan bahan pangan dan pertambangan. Kita semua tahu saat ini Greenland adalah tempat paling ideal untuk keduanya. Saat ini, area luas yang subur itu adalah zona ekonomi internasional dimana negara-negara dunia bekerjasama mengembangkan sumber daya pertanian untuk memberantas krisis pangan. Wilayah itu adalah lambang korporasi dunia dalam memerangi krisis. Tapi Greenland tentu saja tidak cukup. Metropolis-metropolis baru dibangun dengan cepat bersamaan dengan kecepatan perkembangan teknologi. Jumlah penduduk dunia lambat laun kembali meningkat, semkain mendekati jumlah sebelum Perang Besar. Tapi bagaimana dengan sumber daya alam yang sudah terlanjur rusak oleh nuklir? Milyaran hektar lahan tidak lagi produktif, begitu juga perairannya. Bagaimana mereka—kita—bisa bertahan hidup?” dengan berapi-api Dante menjelaskan.



“Planetyang kita huni sekarang —hal yang kuyakini, Mady, opini yang tidak kusalin dari media manapun—adalah planet kanibal dimana tiap pemimpin negara tidak segan-segan menghabisi negara lain untuk bertahan hidup. Survival of the fittest, meminjam istilah para Evolusionis. Kau tahu, kolonialisasi, jika kau pernah mendengar istilah itu,” suara Dante sedikit parau, “pemborosan paling mubazir negara ini berpusat pada pengembangan teknologi perang.Tapi hal ini tidak diketahui orang banyak, tentu saja. Kecuali mungkin budak-budak Capital di Staten Island.”



“Tidak, aku tidak pernah mendengarnya,” jawab Mady jujur.



“Tak apa. Pelan-pelan kau akan mengingat semuanya. Kolonialisasi adalah murni perwujudan sifat serakah manusia, anak kandung dari materialisme. Tapi, ketika kau mengingat semuanya, aku harap kau berada di pihak yang tepat menurut nuranimu,” ujar ayahnya.



Mady berusaha mencerna kata-kata ayahnya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk beberapa menit.



Cukup, aku tak perlu menjelaskan pada putriku lebih jauh. Banyak hal lebih baik disimpan rapat-rapat. Mady tidak boleh terlibat dengan mereka.



“Kenapa?” tanya Madytanpa pikir panjang, “siapa ‘mereka’?”



Dante terpana seketika.



“Apakah ayah mengatakan sesuatu?” tanya Dante bingung. Wajahnya seputih tulang.



“Kau mengatakan sesuatu, bukan? Tentang…” digaruknya bekas lukanya keras-keras dengan gugup, “tidak jadi, lupakan saja.”



“Aku tidak berkata apapun, Mady. Kenapa…”



“Tidak, aku salah dengar. Aku cuma mendengar pikiranku saja,” Mady menyela ayahnya dengan kesal. Kesal pada diri sendiri. Ia merasa malu setengah mati. Bingung dengan fenomena aneh yang ia alami. Apakah kecelakaan itu—entah bagaimana—mengubah sirkuit sel-sel otaknya sehingga ia menjadi… cacat mental? Terbelakang?



Suara apa yang ia dengar kalau dirinya memang masih waras? Hantu? Luar biasa. Bisa mencapai kesimpulan se-absurd itu. Orang yang sudah mati tak mampu bicara lagi. Otak mereka sudah hancur, tak mampu lagi mencerna informasi atau menciptakan informasi untuk makhluk lain. Karena itu mereka disebut ‘orang mati’. Seperti halnya mesin yang sudah mati.



Mungkin ia belum bangun. Mungkin ini semua adalah mimpi dan ia masih terbaring koma. Mungkin suara-suara itu adalah bagian dari mimpi lucid—mimpi yang terasa sama nyatanya dengan realitas. Ia berharap dirinya segera terbangun, mendapati memori berharga hidupnya kembali. Kembali menjadi MadyCorrigan yang asli. Sebab apalah manusia selain kumpulan memori-memori? Bukankah eksistensi manusia adalah karena ilmu dan pengalaman hidupnya sendiri?



Pikiran itu malah membuatnya semakin depresi.



***


Baca Juga

Sangkar Kecil Itu Bernama Kelas

oleh: Vier AL

Pertemuan awal dengan wanita kecil pemalas itu. Perempuan pemberontak, yang jadikan sajak sebagai ja....

  • 757
  • 0
  • 0
  • 0
  • Novel

MY HEART SKIPS A BEAT

oleh: zeal

"Jika kamu membaca email ini, kemungkinan aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Email ini otomatis ....

  • 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • Novel

Dunia Kecil Ku

oleh: Liatia Dwiyani

Seorang anak perempuan yang bernama Diva Sharmila. Ia dijuluki anak autis, padahal dia tidak autis h....

  • 740
  • 2
  • 2
  • 0
  • Serial
Karya Lainnya dari Niebell

House of Love

oleh: Niebell

Clair dan teman-temannya sudah ratusan tahun menghuni sebuah rumah tua di pinggir pedesaan Hawkshead....

  • 504
  • 2
  • 2
  • 0
  • Novela

Electric Eclectic

oleh: Niebell

Jelajahi kota distopia New York, 200 tahun pasca Perang Besar nuklir dan 5 borough dengan 5 perbedaa....

  • 2045
  • 1
  • 0
  • 0
  • Novel