Kepadamu, Darimu

olehAlva Diterbitkan 23 September 2016

Kemarahanmu

Sore hari sehabis hujan;



dingin,



namun aku membutuhkan dingin itu.



 



Kepadamu,



 



            Depresi itu datangnya diam-diam. Seperti tamu yang memasuki rumah tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dia berjalan mengendap-endap, tanpa suara, meminta semua orang di rumah merahasiakan kemunculannya. Kemudian saat dia berdiri tepat di belakangmu... bam! Segalanya berubah.



            Awalnya, kau menolak menerimanya sebagai depresi. Kau menganggap suasana hatimu sedang kacau. Namun hari-harimu tak pernah membaik sejak itu. Cuaca cerah membuatmu gerah. Cuaca hujan membuatmu kedinginan. Kau tidak lagi membaca buku atau berselancar di Internet. Kau tidak lagi menggambar dengan warna-warna cerah; kau bahkan hampir berhenti menggambar sama sekali. Makanan kesukaanpun berubah hambar di lidahmu. Kau tidak lagi menulis kisah-kisah ringan dan romantis; semua kisah-kisahmu berubah gelap, penuh luka dan air mata, bahkan kini kau menuangkan depresimu.



            Orang-orang terdekat terasa semakin menjauh. Kehidupan mereka semakin berbeda dengan kehidupanmu. Mereka keluar rumah dengan pakaian rapi pada pagi hari dan terdengar bersemangat dalam membagi aktivitas mereka di jejaring sosial. Sementara kau menghabiskan hari-harimu di rumah. Tidak melakukan apa-apa, yang berarti roda kehidupanmu berhenti dan berkarat. Jika mereka adalah pelari maraton, maka mereka telah menempuh berkilo-kilometer jarak tanpa lelah. Sementara kau tersengal-sengal di tengah jalan dan setiap langkah terasa berat dan kaupun harus berhenti, terduduk, mengatur napas dan menyaksikan mereka semua meninggalkanmu.



            Jika ada yang mendekat dan menawarimu bantuan, kau tersinggung dan menolak mereka. Itulah yang kaulakukan kepada teman-temanmu yang selalu sabar meladeni temperamen pendekmu. Kau tak lagi menganggap mereka sebagai tempat bersandar—kau bahkan tak ingin bersandar kepada apapun. Kau yang dulu bersedia menuruti ajakan bermain bersama mereka, kini memilih untuk pergi sendirian atau tidak pergi sama sekali. Bukan karena kau bosan kepada mereka. Namun karena kau tak ingin mereka melihat dirimu yang sekarang. Dirimu yang telah digelayuti depresi.



            Kau senang memecahkan masalah. Kau tahu apa yang menyebabkanmu terjerumus dalam depresi. Kau juga tahu bagaimana menghentikan depresimu. Namun kau marah, kau terlalu marah kepada keluargamu. Kepada ayahmu yang terlalu memuja dirinya sendiri, sehingga tidak mempedulikan fakta bahwa bumi berputar untuk semua orang yang hidup maupun mati di permukaannya. Kepada ibumu yang mementingkan pembalasan di atas pelajaran, sehingga setiap topik pembicaraan akan berujung ketidaknyamanan di kedua belah pihak. Kepada ayahmu yang terlambat memutuskan untuk tumbuh dewasa dan semakin menyadari apa yang dilakukannya. Kepada ibumu yang memutuskan untuk bersikap semakin egois dan kekanakan. Kepada kedua orangtuamu yang berkomitmen menyatukan jiwa saat masalah di antara mereka telah berkembang hingga di luar kendali. Dan dengan kemarahan itu kau menolak melakukan cara-cara yang dapat mengusir depresimu. Kau bahkan tidak mengerti mengapa yang kaulakukan itu penting.



            Seperti anak sepuluh tahun yang ngambek, kau menghukum mereka. Kau menghukum mereka dengan menjadikan dirimu depresi. Namun kau juga tak memberitahu mereka bahwa kau depresi. Kau menyiksa dirimu sendiri karena kemarahan itu, dan kaupun bertanya-tanya dalam hati apakah depresi yang menyebabkanmu menyiksa diri sendiri, atau apakah karena kau telah membangunkan sisi masokismu.



            Seandainyapun kau harus bersikap selayaknya umurmu, kaupun tak tahu apa yang harus kaulakukan tanpa figur orang dewasa yang dapat membimbingmu setelah kau memecat ayahmu dari posisi itu. Seolah kau berjalan di kegelapan dengan senter yang baru saja padam dan kau tak memiliki penerangan lain selain itu. Kau tersesat. Kau tidak tahu berjalan ke arah mana. Maka kau tidak melanjutkan perjalanmu. Kau berdiam di tempat. Dan mendengar langkah-langkah kaki di kejauhan terus bergemerisik mengisi kegelapan, bersama penerangan-penerangan kecil yang tampak seperti kunang-kunang.



            Tak ada yang dapat kaulakukan, meskipun ada banyak yang harus kaulakukan. Begitulah menurutmu.



 



Darimu.


Baca Juga

Ibu , Kita dimana ?

oleh: Pani Agustina Gerard

aku akan membawamu pulang anakku meski kakiku tak sanggup berdiri

  • 319
  • 0
  • 2
  • 0
  • Puisi

There is a Light That Never Goes Out

oleh: ilham A.R.

Sebuah cerita yang terinspirasi dari lagu The Smiths.

  • 480
  • 2
  • 0
  • 0
  • Fiksi Kilat

Catatan Seorang Traveler

oleh: Bintang Cyaditra

Hmmm... Perpisahan Tidak Seburuk Itu

  • 529
  • 2
  • 1
  • 0
  • Cerita Pendek
Karya Lainnya dari Alva

Kepadamu, Darimu

oleh: Alva Septiantya

Kumpulan surat yang dialamatkan kepada diri sendiri mengenai penulis yang tengah memerangi depresi.

  • 314
  • 0
  • 0
  • 0
  • Serial

Matahari Juga Tertutup Awan

oleh: Alva Septiantya

Semua orang memiliki Matahari yang hangat. Namun matahariku redup, kulitku dingin. Dan kini, Matahar....

  • 371
  • 1
  • 0
  • 0
  • Cerita Pendek